By:Purnama Sucipto Gunawan
Fengsui dilihat dari sisi Dharma dan dari sisi Akademis:
Feng shui adalah Salah satu Ilmu meta fisika dari cabang pengetahuan
tentang ilmu tata letak dan Ilmu Bumi. Salah satu ilmu arsitektur
didunia yang tertua.
Ilmu Feng Shui itu bisa dapat dipelajari secara ilmiah, dari segi
faktor logikanya pun masih bisa diterima. Ilmu ini juga mempelajari
Antropologi Tanah, juga bangunan, Serta Ruangan dan sebagainya.
Ilmu Feng Shui itu bukanlah ilmu yang dikatakan mistis atau
irasional. Justru dalam kajian mempelajarinya banyak hal yang rasional
dan bisa dipelajari dan dibandingkan ilmu Arsitektur modern hampir
menyamainya. Di balik kemistisannya.
Cara bekerja Feng shui adalah mengambil dari Falsah negeri tiongkok
Salah satu nya dari agama Tao :
1. Hubungan manusia dengan Alam
2. Hubungan Manusia itu sendiri
3. Hubungan manusia dengan Orang sekitarnya.selain itu mengambil
Falsafah keharomisan dalam Hidup Dalam Dharma Buddha kita mengenal
yang namanya " Jalan Tengah".
Memang kalau dilihat secara rasional tidak dapat diketahui,
keabsahannya Feng Shui karena dalam kinerja Feng Shui itu. Karena
dalam kajian Feng shui kita bicara energi atau dikenal Chi. Karena Chi
kgk mungkin kita bisa melihatnya dalam kasat mata kita, Dalam kajian
bahasa ilmiahnya adalah energi Ion. Energi Ion inilah yang dipercaya
oleh dunia barat sebagai pengaruh terbesar di Feng shui.
Mungkin dari sebagian kita bisa percaya feng shui jika kita mampu
melihat enerfi ion atau Chi ini.
Dalam kajian 5 elemen itu adalah diBumi ini terdiri 5 unsur nyata dan
terkuat di Bumi ini sebagai pembentuk energi alam, yaitu Logam, Tanah,
api, air dan Bumi.
Dari Pembahasan Dharma :
1. Dalam Pembahasan Dharma tidak ada larangan untuk memperelajari ilmu
pengetahuan. Karena Feng Shui bukan ilmu magis tapi ilmu pasti
2. Prinsipil feng shui juga terdapat nikaya Buddha.
Seperti contoh Manusia sebagai penentu karma sendiri dalam feng shui
ini hal paling utama dalam dasar ilmu ini. Karena dari manusia awal
dari hubungan harmonis kepada alam. Secara logis cara bekerja alam
tidak dapat dijabarkan. Memang saya mengerti berusaha mengatakan feng
shui ilmu yang sulit dimengerti cara bekerjanya. tetapi semua ilmu
yang berasal dari negeri Tiongkok itu dari satu unsur yang di sebut
I-Ching, I-ching bukan ilmu tahayul jika anda bertanya I-Ching sama
jawabnya dengan feng shui. Sebagai kita ketahui Budaya Tionghoa
didasarkan dalam pembentukan agama Budhha, Konficius, dan Tao. Saya
berusaha membawa konteks feng shui itu selogis mungkin. Sebagai anda
tahu kalo anda mau membaca atau mau mengerti isi dalam feng shui
tersebut, anda baru memahami intisari feng shui. Prinsip ilmu tionghoa
adalah Yin dan Yang mengapa saya jawa 50 % manusia dan 50 % dari alam.
Secara anda tidak sadari sebenarnya anda sudah memiliki 50 % dari
alam. Hanya tinggal bagaimana anda mengembangkannya
3. SEKALIPUN Dhamma mengajarkan bahwa Kamma adalah sebab utama dari
berbagai macam keadaan di dunia ini, ini bukanlah satu fatalisme
(menyerah kepada keadaan dan berputus asa) maupun nasib tertentu yang
sudah digariskan untuk seseorang atau makhluk.
Hukum Kamma hanya merupakan satu dari dua puluh empat sebab (paccaya
24) atau salah satu dari Panca Niyama (Lima Hukum) yang bekerja di
alam Semesta ini, dan masing-masing merupakan hukum sendiri.
Hukum-hukum dimaksud adalah :
A. UTU NIYAMA
Hukum "physical inorganic" misalnya : gejala timbulnya angin dan hujan
yang mencakup pula tertib silih bergantinya musim-musim dan perubahan
iklim yang disebabkan oleh angin, hujan, sifat-sifat panas dan sebagainya.
B. BIJA NIYAMA
Hukum tertib tumbuh-tumbuhan dari benih dan pertumbuhan tanam-tanaman,
misalnya padi berasal dari tumbuhnya benih padi, gula berasal dari
batang tebu atau madu dan sebagainya.
C. KAMMA NIYAMA
Hukum tertib sebab akibat, misalnya : perbuatan yang bermaksud
bermanfaat (baik/membahagiakan) dan yang bermaksud merugikan (buruk)
terhadap pihak lain, menghasilkan pula akibat baik maupun buruk.
D. DHAMMA NIYAMA
Hukum tertib terjadinya persamaan dari satu gejala yang khas, misalnya
: terjadinya keajaiban alam pada waktu seseorang Bodhisattva hendak
mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, pada saat Ia akan
terlahir untuk menjadi Buddha.
Hukum gaya berat (gravitasi) dan hukum alam sejenis lainnya,
sebab-sebab dari keselarasan dan sebagainya, termasuk hukum ini.
E. CITTA NIYAMA
Hukum tertib jalannya alam pikiran atau hukum alam bathiniah, misalnya
: proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat-sifat
kesadaran, kekuatan bathin dan sebagainya.
Telepati, kemampuan untuk mengingat hal-hal yang telah lampau,
kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang akan terjadi dalam jangka
pendek atau jauh, kemampuan membaca pikiran orang lain, dan semua
gejala bathiniah yang kini masih belum terpecahkan oleh ilmu
pengetahuan modern termasuk dalam hukum terakhir ini.
4. Bagaimana pandangan Buddhisme mengenai feng shui? Dalam pandangan
agama Buddha, takdir dan keberuntungan merupakan buah dan akibat karma
(perbuatan) seseorang. Karma masa lalu memang telah berlalu dan telah
menjadi takdir dalam kehidupan seseorang. Untuk mengatur takdir hidup
kita berikutnya, justru harus melalui amal dan upaya. Di sinilah
perbedaan pandangan agama Buddha dan ahli feng shui. Ahli feng shui
berpandangan bahwa jalan kehidupan kita dapat diselaraskan dengan feng
shui buatan. Tapi dalam pandangan agama Buddha jalan kehidupan
seseorang akan berubah secara alami jika buah karmanya telah matang,
karena setiap orang akan mewarisi karmanya masing-masing. Seperti yang
disabdakan Sang Buddha dalam Culakammavibhanga Sutta berikut :
"...Setiap makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya
sendiri, lahir dari karmanya sendiri, bersaudara dengan karmanya
sendiri dan dilindungi oleh karmanya sendiri. Karma yang menentukan
makhluk-makhluk, menjadikan mereka hina dan mulia."
Majjhima Nikaya
Jadi kehidupan seseorang ditentukan oleh perbuatannya, hina atau
mulianya tidak bisa ditentukan dengan mengatur feng shui. Seseorang
akan menerima akibatnya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya.
Perbaikan feng shui melalui ahlinya, hasilnya mungkin dapat dinikmati
seketika, tapi tetap bersifat sementara dan tak lepas dari efek
sampingnya. Perbaikan feng shui secara alami (dengan melakukan karma
baik) memang lebih lambat, tapi hasilnya lebih mendasar dan tanpa efek
samping
Kesimpulan akhir
Feng shui hanyalah alat bantu agar manusia dapat hidup harmonis,
penggunaan feng shui janganlah berlebihan dan janganlah tidak
dipercaya, juga janganlah mengikat, tapi gunakan ilmu ini seperlunya
saja. Sisanya adalah dari Sikap dan Pelatihan diri dari si manusia
tersebut barulah Feng Shui bisa berjalan dengan sempurna dan harmonis
tanpa efek samping.
Read more...
Minggu, 18 Oktober 2009
Jumat, 16 Oktober 2009
GALAXY-GALAXY DAN SUNYATA
By : Buddhadasa P. Kirthisinghe
Sang Buddha, didalam naskah "Sunna Sutta", menerangkan tentang kekosongan dari semua phenomena (= gejala-gejala) dunia. Apabila atom-atom yang organic, dan yang inorganic, serta molekul-molekul itu dipecah, atom-atom dan molekul-molekul tersebut mengeluarkan energi. Dapat ditunjukkan bahwa doktrin ini dapat diapplikasikan kepada segala sesuatu yang terdapat di alam semesta yang maha perkasa, dengan galaxy-galaxy-nya yang maha besar.
Kekosongan (= Voidness) itu bukan sesuatu yang tidak ada (= nothing), tetapi lebih merupakan sesuatu yang tidak bersifat materi (= no-thing); sesuatu yang tidak bersifat materi itu tidak dapat kita ketahui dengan mempergunakan kesadaran yang terbatas. Apa yang kita sadari didalam keadaan transcendental itu hanya dapat kita deskripsikan sebagai sesuatu yang tidak bersifat materi atau kekosongan.
Panas yang memancar dari matahari itu berasal dari berfusinya inti dari inti hydrogen yang membentuk helium, yang terjadi hanya pada temperatur beberapa juta derajat.
Dengan mempergunakan alat spectrographic, dapat kita lihat bahwa lebih dari dua pertiga dari elemen-elemen yang telah kita ketahui identifikasinya itu berada dilapisan-lapisan bagian luar dari Matahari, sedang meteorit-meteorit itu mengandung keseluruhan elemen-elemen yang sampai dengan 90 jumlahnya, dari hydrogen hingga uranium. Oleh karena itu, secara aman dapat kita katakan bahwa keseluruhan dari alam semesta ini tersusun dari elemen-elemen yang sama. Hydrogen itu mendominasi arena alam semesta dan helium berada didalam urutan kedua. Pada temperatur sepuluh hingga lima puluh juta derajat, hydrogen mengalami transformasi menjadi helium. Didalam proses ini, yang dinamai pembakaran hydrogen, dihasilkan panas yang luar biasa hebatnya. Pada temperatur-temperatur tersebut, helium mengalami perubahan menjadi exygen, carbon dan neon, tetapi adanya panas yang luar biasa, elemen-elemen tersebut pecah secepat elemen-elemen itu terbentuk.
Begitu sesuatu Bintang itu mengalami pertumbuhan, di lapisan dalam terbentuk penutup yang terdiri dari oxygen, yang dikelilling oleh mantel hydrogen. Pada pusat dari bagian yang paling panas (= tungku pembakaran) dari Bintang, pada temperatur yang makin menaik, hingga satu juta derajat, terbentuklah magnesium, sillicon, phosphorus, sulphur, chlorine, argon dan calcium. Ini memberi gambaran mengenai titik dalam keadaan gas, yang energinya terdiri dari partikel-partikel subatomic, misalnya neutron-neutron, proton-proton, dan elektron-elektron. Partikel-partikel tersebut bergabung dan membentuk atom-atom, dan atom-atom di dalam berbagai proporsi, membentuk elemen-elemen.
Sistem Matahari kita mengalami kondensasi menjadi bentuk yang sekarang ini, dari gas cosmic, kira-kira empat setengah juta tahun yang lampau. Sebuah galaxy itu berputar pada pusatnya, empat atau lima kali didalam satu billion tahun, sedang bumi kita ini mengitari matahari didalam satu tahun.
Didalam awan-awan galactic yang berupa gas cosmic, ber-evolusi-lah bintang-bintang yang mempunyai sistem planitnya sendiri-sendiri, beberapa diantaranya mungkin ber-evolusi kehidupan didalam billionan tahun. Dari gas cosmic, matahari-matahari ini menghasilkan beberapa inti elemen-elemen yang ada di alam semesta ini. Ini membutuhkan waktu billion-an tahun sebelum matahari dan sistem planitnya dapat dibentuk.
Professor Berrill menulis : "Kejadian-kejadian yang membawa elemen-elemen yang ringan melalui kombinasi-kombinasinya molekuler secara berurut-urutan ke mulainya kompleksitas, responsive-nya dan kapasitas-kapasitas-nya cel-cel hidup, itu sungguh-sungguh merupakan suatu tata-kehidupan yang baru, apabila kita bandingkan dengan kimiawinya molekuler dari suatu bintang."
Galaxy-galaxy terbentuk ketika gas primordial yang meluas secara uniform itu pecah menjadi milyunan galaxy-galaxy dan kondensasi-kondensasi yang terpisah, didalam galaxy, menjadi billion-an bintang-bintang dan sistem-sistem planetnya.
Keduanya, baik Kant maupun Laplace, ber-assumsi bahwa matahari kita yang masih muda itu dikelilingi oleh penutup, yang zatnya terdiri dan gas tipis yang berbentuk lensa, yang kemudian mengalami kondensasi menjadi planit-planit yang individual. Ini adalah pandangan modern tentang pembentukan sistem planit kita, didalam mana kita hidup didalamnya. Oleh karena itu, didalam alam semesta ini, kita dapat mengharap adanya bintang lainnya, yang mempunyai kesempatan baik untuk dirinya dapat menghasilkan suatu sistem planit.
Terdapat bintang-bintang yang sedang mengalami peledakan dan ada bintang-bintang yang sudah mati. Begitu sistem matahari baru lahir, yang lainnya mengalami disintegrasi menjadi berkeadaan gas, dan mungkin, akan muncul lagi, setelah jutaan-jutaan tahun, sebagai suatu sistem tata-surya yang baru. Hal yang demikian itu dapat terjadi terhadap tata surya kita ini. Ya, bahkan, sifat tidak-manusiawi (= inhumanity) yang terdapat didalam diri kita, mungkin bertanggung-jawab atas hancurnya planit kita sendiri, menjadi keadaan gas, dengan penggunaan alat-alat superhydrogen.
Sang Buddha bersabda bahwa hanya ketidak-terikatan-lah yang dapat menjadi harapan untuk mencapai pengertian, dan ini tepat sama dengan applikasi-applikasi masa sekarang ini, terhadap masyarakat kita, yang telah terbebani oleh ilmu pengetahuan.*)
http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=904&multi=T&hal=0
Read more...
Sang Buddha, didalam naskah "Sunna Sutta", menerangkan tentang kekosongan dari semua phenomena (= gejala-gejala) dunia. Apabila atom-atom yang organic, dan yang inorganic, serta molekul-molekul itu dipecah, atom-atom dan molekul-molekul tersebut mengeluarkan energi. Dapat ditunjukkan bahwa doktrin ini dapat diapplikasikan kepada segala sesuatu yang terdapat di alam semesta yang maha perkasa, dengan galaxy-galaxy-nya yang maha besar.
Kekosongan (= Voidness) itu bukan sesuatu yang tidak ada (= nothing), tetapi lebih merupakan sesuatu yang tidak bersifat materi (= no-thing); sesuatu yang tidak bersifat materi itu tidak dapat kita ketahui dengan mempergunakan kesadaran yang terbatas. Apa yang kita sadari didalam keadaan transcendental itu hanya dapat kita deskripsikan sebagai sesuatu yang tidak bersifat materi atau kekosongan.
Panas yang memancar dari matahari itu berasal dari berfusinya inti dari inti hydrogen yang membentuk helium, yang terjadi hanya pada temperatur beberapa juta derajat.
Dengan mempergunakan alat spectrographic, dapat kita lihat bahwa lebih dari dua pertiga dari elemen-elemen yang telah kita ketahui identifikasinya itu berada dilapisan-lapisan bagian luar dari Matahari, sedang meteorit-meteorit itu mengandung keseluruhan elemen-elemen yang sampai dengan 90 jumlahnya, dari hydrogen hingga uranium. Oleh karena itu, secara aman dapat kita katakan bahwa keseluruhan dari alam semesta ini tersusun dari elemen-elemen yang sama. Hydrogen itu mendominasi arena alam semesta dan helium berada didalam urutan kedua. Pada temperatur sepuluh hingga lima puluh juta derajat, hydrogen mengalami transformasi menjadi helium. Didalam proses ini, yang dinamai pembakaran hydrogen, dihasilkan panas yang luar biasa hebatnya. Pada temperatur-temperatur tersebut, helium mengalami perubahan menjadi exygen, carbon dan neon, tetapi adanya panas yang luar biasa, elemen-elemen tersebut pecah secepat elemen-elemen itu terbentuk.
Begitu sesuatu Bintang itu mengalami pertumbuhan, di lapisan dalam terbentuk penutup yang terdiri dari oxygen, yang dikelilling oleh mantel hydrogen. Pada pusat dari bagian yang paling panas (= tungku pembakaran) dari Bintang, pada temperatur yang makin menaik, hingga satu juta derajat, terbentuklah magnesium, sillicon, phosphorus, sulphur, chlorine, argon dan calcium. Ini memberi gambaran mengenai titik dalam keadaan gas, yang energinya terdiri dari partikel-partikel subatomic, misalnya neutron-neutron, proton-proton, dan elektron-elektron. Partikel-partikel tersebut bergabung dan membentuk atom-atom, dan atom-atom di dalam berbagai proporsi, membentuk elemen-elemen.
Sistem Matahari kita mengalami kondensasi menjadi bentuk yang sekarang ini, dari gas cosmic, kira-kira empat setengah juta tahun yang lampau. Sebuah galaxy itu berputar pada pusatnya, empat atau lima kali didalam satu billion tahun, sedang bumi kita ini mengitari matahari didalam satu tahun.
Didalam awan-awan galactic yang berupa gas cosmic, ber-evolusi-lah bintang-bintang yang mempunyai sistem planitnya sendiri-sendiri, beberapa diantaranya mungkin ber-evolusi kehidupan didalam billionan tahun. Dari gas cosmic, matahari-matahari ini menghasilkan beberapa inti elemen-elemen yang ada di alam semesta ini. Ini membutuhkan waktu billion-an tahun sebelum matahari dan sistem planitnya dapat dibentuk.
Professor Berrill menulis : "Kejadian-kejadian yang membawa elemen-elemen yang ringan melalui kombinasi-kombinasinya molekuler secara berurut-urutan ke mulainya kompleksitas, responsive-nya dan kapasitas-kapasitas-nya cel-cel hidup, itu sungguh-sungguh merupakan suatu tata-kehidupan yang baru, apabila kita bandingkan dengan kimiawinya molekuler dari suatu bintang."
Galaxy-galaxy terbentuk ketika gas primordial yang meluas secara uniform itu pecah menjadi milyunan galaxy-galaxy dan kondensasi-kondensasi yang terpisah, didalam galaxy, menjadi billion-an bintang-bintang dan sistem-sistem planetnya.
Keduanya, baik Kant maupun Laplace, ber-assumsi bahwa matahari kita yang masih muda itu dikelilingi oleh penutup, yang zatnya terdiri dan gas tipis yang berbentuk lensa, yang kemudian mengalami kondensasi menjadi planit-planit yang individual. Ini adalah pandangan modern tentang pembentukan sistem planit kita, didalam mana kita hidup didalamnya. Oleh karena itu, didalam alam semesta ini, kita dapat mengharap adanya bintang lainnya, yang mempunyai kesempatan baik untuk dirinya dapat menghasilkan suatu sistem planit.
Terdapat bintang-bintang yang sedang mengalami peledakan dan ada bintang-bintang yang sudah mati. Begitu sistem matahari baru lahir, yang lainnya mengalami disintegrasi menjadi berkeadaan gas, dan mungkin, akan muncul lagi, setelah jutaan-jutaan tahun, sebagai suatu sistem tata-surya yang baru. Hal yang demikian itu dapat terjadi terhadap tata surya kita ini. Ya, bahkan, sifat tidak-manusiawi (= inhumanity) yang terdapat didalam diri kita, mungkin bertanggung-jawab atas hancurnya planit kita sendiri, menjadi keadaan gas, dengan penggunaan alat-alat superhydrogen.
Sang Buddha bersabda bahwa hanya ketidak-terikatan-lah yang dapat menjadi harapan untuk mencapai pengertian, dan ini tepat sama dengan applikasi-applikasi masa sekarang ini, terhadap masyarakat kita, yang telah terbebani oleh ilmu pengetahuan.*)
http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=904&multi=T&hal=0
Read more...
SELEKSI ALAMIAH DAN EVOLUSI
By:Buddhadasa P. Kirthisinghe
Apakah hidup atau kehidupan itu?. Ini adalah pertanyaan yang sukar dijawab; dipandang dari sudut ilmu pengetahuan. Professor Rhodes menggambarkan hidup atau kehidupan itu sebagai suatu urut-urutan proses yang terjadi didalam tingkat-tingkatan tertentu, yang sifatnya komplek, dari organisasi zat Walaupun demikian, Agama Buddha (Sang Buddha tidak membicarakan tentang masalah sebab-dan-akibat), didalam membicarakan hidup atau kehidupan, yang merupakan suatu continuum (= sesuatu yang berlanjut terus), sesuai dengan doktrin Persebaban Yang Saling Bergantungan) (lihat di bagian lain dari artikel ini). Agama Buddha menunjukkan dengan jelas bagaimana suatu sebab itu menjadi akibat, dan suatu akibat itu lalu menjadi sebab. Menurut Yang Mulia Nyanaponike, didalam masalah phenomena mental (= gejala-gejala jiwa), unsur sebab itu tidak akan pernah menjadi unsur akibat, dan unsur akibat tidak akan pernah menjadi unsur penyebab; walaupun suatu unsur akibat itu mungkin menjadi suatu kondisi berbagai type-type gejala-gejala, tetapi tidak akan pernah menjadi suatu unsur sebab yang sifatnya produktif. Secara umum, Agama Buddha lebih suka mempergunakan istilah "kondisi" dan "kondisionalitas". Sama seperti itu, didalam ilmu pengetahuan dan ilmu filsafat, istilah-istilah sebab dan akibat, itu merupakan istilah yang sangat disederhanakan, tetapi istilah-istilah tersebut, masih dipergunakan didalam maknanya yang populer.
Kelahiran dan kematian yang secara berulang-ulang dan berlanjut terus, yang dinamai "samsara", itu telah digambarkan secara tepat, sebagai suatu cyclus atau roda. Tidaklah dapat kita bayangkan, dan adalah sangat sukar untuk menunjukkan titik permulaan didalam cyclys sebab dan akibat, yang demikian itu; oleh karena itu mengenai asal hidup atau kehidupan, yang paling pertama, Sang Buddha menerangkannya sebagai berikut : "Tanpa mengetahui tujuannya, didalam mengembara dalam kehidupannya secara berulang-ulang di dunia (samsara) ini, makhluk-makhluk yang hidup di saat permulaannya, itu berkeadaan terliputi oleh ketidak-tahuannya, dan terikat oleh keinginan-keinginannya; mereka mengembara kesana-kemari, tanpa mengetahui apa seharusnya yang wajib diperbuatnya."
Hendaklah orang tidak cemas dan kecewa, karena merasa mengalami kegagalan, didalam mencari keterangan tentang titik permulaan dari suatu masa lampau yang tak-ber-permulaan. Hidup atau kehidupan, itu adalah suatu proses menjadi, merupakan suatu kekuatan, merupakan sesuatu yang mengalir terus menerus, dan keadaan yang demikian itu membutuhkan adanya suatu masa lampau yang tak berpermulaan, yang tidaklah perlu kita risaukan, apakah makhluk yang pertama itu adalah kera atau manusia.
Walaupun demikian, kita mengetahui bahwa hidup atau kehidupan, itu merupakan suatu kesatuan, dan bahwa semua makhluk-makhluk hidup, yang bermacam-macam jenisnya, yang jutaan, atau bahkan tak terhitung banyaknya itu, telah selama ribuan juta tahun sama-sama ikut menghayati proses kehidupan yang sama. Didalam peristiwa yang demikian itu, secara sekaligus, kita lihat adanya kesederhanaan dan keajaiban atau kehidupan.
Suatu penyelidikan yang dilakukan akhir-akhir ini, pada lapisan tanah bagian atas, setebal satu inch, dan seluas satu acre, yang terletak di dekat ibukota Amerika Serikat, menunjukkan bahwa tanah setebal dan seluas itu, berisi lebih dari 1.000.000 hewan-hewan microscopic, dan 2.000.000 benih-benih microscopic. Pada tanah setebal dan seluas tersebut diatas itu terdapat lebih dari 300.000 species (= jenis-jenis) tanaman hidup, dan 1.120.000 species hewan-hewan hidup, dan lebih dari tiga-per-empat-nya terdiri dari insect (= serangga), sedangkan hewan golongan tinggi atau yang telah bertulang belakang, membentuk hanya 5 persennya. Kira-kira 20 persennya terdiri dari golongan mollusc (= jenis keyong atau siput), dan lainnya golongan arthropod (= jenis hewan yang banyak kakinya) (serangga, kepiting, labah-labah, dan lipan), dan hewan golongan protozoa (= organisme-organisme yang ber-cel satu). Jadi, terdapat banyak sekali kehidupan dan ini merupakan faktor utama, didalam evolusi kehidupan. Seperti ditunjukkan oleh Charles Darwin, hal-hal yang demikian itu membimbing orang untuk mempercayai apa yang dinamai "Seleksi Alamiah" (= Natural Selection). Di alam ini, dengan hasil yang berlebihan dari organisme dan terdapatnya perjuangan hidup yang tak terelakkan, maka organisme-organisme yang paling kuat, yang paling menang, didalam menghadapi persaingan-persaingan hidup, dapat tetap hidup terus (= survival of the fittest), ini adalah theori umum dari seleksl alamiah.
Apabila kita memikirkan pengaruh Darwin pada pemikiran manusia selama 100 tahun terakhir ini, adalah layak untuk memperbedakan secara tajam antara evolusi sebagai suatu fakta historis dan theori operasional dari modifikasi didalam masalah penurunan jenis. Adalah merupakan yang pertama kalinya dari theori-theori ilmu pengetahuan, bahwa theori evolusi itu telah diterima oleh umum sebagai imaginasi yang populer, dan telah menggerakkan saat timbulnya Zaman Victoria, di Dunia Barat, dengan implikasinya terhadap filsafat keagamaan, dan di semua bagian dari dunia lalu membicarakannya sebagai suatu pukulan yang mematikan terhadap mythologi-mythologi yang bersifat takhayul dan tradisional, yang telah menyelimuti idea-idea dari semua bangsa, sebagai suatu keterangan tentang asal manusia, kecuali pandangan Agama Buddha.
Didalam proses evolusi, theori seleksi alamiah yang diperkembangkan oleh Darwin, adalah sangat penting. Selanjutnya Darwin menunjukkan bagaimana modifikasi sepanjang garis penurunan jenis itu berlangsung. Makhluk hidup telah ber-evolusi secara berlanjut dan melalui periode waktu, yang berurut-urutan, yang tiap periodenya memiliki type, tingkatan, dan susunan organisme hidup, yang khusus.
Julian Huxley menyatakan pendapatnya sebagai berikut : "Sistem alam adalah penyusunan genealogis dengan pencapaian tingkatan-tingkatan perbedaan, yang ditandai dengan istilah-istilah : varietas-varietas, species-species, genus-genus, family-family, dan order-order. Dan kita telah menemukan garis-garis keturunan, dengan ciri-ciri karakteristik yang paling permanen, apa pun ciri-ciri mereka itu, dan tidak perlu terpengaruh betapa kurang vitalnya ciri-ciri mereka itu."
Susunan rangka yang terkenal dari tulang-tulang pada tangan-tangan, pada sayap-sayap dari kelelawar, pada sirip-sirip ikan hiu, dan ciri-ciri leher pada kuda, yang dibandingkan dengan sejumlah yang sama, pada hewan-hewan bertulang belakang, yang membentuk leher hewan jerapah dan gajah, segera terlihat telah menunjukkan benarnya theori keturunan jenis, dengan modifikasi-modifikasi yang perlahan-lahan, dan secara berurut-urutan.
Sejak tahun 1900 theori-nya Darwin telah diungkapkan kembali didalam istilah-istilah genetic yang memungkinkan kita memperoleh manfaat yang besar didalam pemahaman kita mengenai proses-proses penurunan warisan (= hereditas).
Pada tahun 1866 Gregor Mendel telah mempublikasikan karyanya yang termasyhur mengenal keturunan, yang memperkuat dan mengkonsolidasikan theori-nya Darwin. Faktor lainnya yang menolong didalam penerimaan theori seleksi alam, yang menciptakan species baru didalam alam, adalah mutasi. Namun ketepatan dari methode operasinya dari phenomena mutasi ini belum sepenuhnya dapat dimengerti. Contoh yang paling terkenal mengenai mutasi-mutasi yang demikian itu, yang dinamai variasi-variasi yang spontan (variasi tunggal dari Darwin), dengan mana varietas-varietas yang berbeda dan baru dari tanaman-tanaman dan hewan-hewan muncul. Hukum-hukum mutabilitas itu sangat berbeda dengan variasi-variasi individual. Yang disebutkan belakangan itu dikarenakan oleh faktor-faktor herediter.
Dinyatakan orang bahwa lama sebelum Darwin, orang telah mulai menolak ceritera dari Kitab Suci mengenai penciptaan. Satu demi satu, Darwin telah memperkembangkan idea-idea besarnya, yang kita assosiasikan dengan namanya, yaitu: seleksi alam, seleksi seksual, argumen-argumen dari domestikasi, studi-studi didalam penekanan penduduk, studi tentang variasi-variasi dan isolasi geografis; bukti tentang perbandingan anatomi dan embryologi, cara-cara hybridisasi, manfaat dari hybrid-hybrid, dan yang terakhir dari semuanya, adalah analisanya tentang jiwa dan moral. Tidak ada satu pun dari yang tersebut dimuka tadi, yang didalam sesuatu cara, bertentangan dengan ajaran Buddha Dhamma.
Darwin mempertahankan pendapatnya bahwa manusia itu berasal dari satu sumber tunggal, yang berupa hewan-hewan menyerupai kera, yang menghuni dunia kuno (= old world). Dia mempertahankan pendapatnya bahwa satu sumber tunggal tersebut lalu mengalami diversifikasi menjadi berbagai species-species atau bangsa-bangsa (= races). Mereka itu juga telah mengadakan adaptasi atau akklimatisasi (= penyesuaian-diri terhadap iklim) (dengan seleksi alam), untuk mempertahankan diri dari serangan penyakit-penyakit yang ada di daerah dimana mereka tinggal.
Evolusi didalam faktanya terjadi peristiwanya, paling jelas ditunjukkan oleh studi mengenai fossil-fossil. Penemuan fossil-fossil tulang-tulang hewan, yang dapat diperbandingkan dengan makhluk-makhluk yang masih hidup, dinamai palaentologi.
Adalah doktrin evolusi-lah, yang mula pertama dapat memberikan interpretasi mengenai sifat-sifat perubahan-perubahan fauna, dari fossil-fossil yang ada, yang diketemukakan oleh para ahli palaeontologi dan para ahli geologi. Seri-seri hewan-hewan yang menunjukkan adanya perubahan-perubahan evolusioner, yang paling meyakinkan adalah pada penemuan-penemuan hewan-hewan yang bertulang belakang. Suatu contoh klassik, yang tidak diketahui oleh Darwin, adalah perubahan secara setapak demi setapak dari kuda-kuda, selama 40 hingga 50 juta tahun, dari makhluk hewan, yang jari-jari kakinya ada empat, dan masih sangat kecil, dengan gigi-gigi yang masih primitif, hingga ke makhluk hewan yang kakinya berjari satu dan besar, dengan gigi gerahamnya, yang mewakili jenis family kuda yang hidup, di zaman sekarang ini.
Kita memiliki pengetahuan yang luar biasa kayanya tentang sejarah hewan-hewan menyusui (= mammal). Dapat ditunjukkan bahwa didalam proses perubahan setingkat demi setingkat yang meliputi keterangan suatu jenis makhluk, tentang besarnya tubuhnya, pertumbuhannya, kebiasaan cara memakannya, dari jenis babi, hingga jenis gajah. Perubahan-perubahan tersebut meliputi jangka waktu kira-kira 40 juta tahun. Kalau jenis kuda dan jerapah (= giraffe) dengan memperpanjang lehernya untuk mencari makanannya, maka yang terjadi pada hewan jenis gajah adalah dengan memperpanjang rahang bawahnya, untuk tujuan yang sama seperti pada jenis kuda. Julian Huxley berpandangan yang sama dengan pandangan Darwin yang berfikiran bahwa mungkin semua kehidupan yang ada ini berasal dari satu wujud yang aseli.
Professor Mannes Alfven dari Royal Institute of Technology, mempertahankan pendapatnya dengan mengatakan sebagai berikut : "Jawaban yang paling sederhana dan paling sympathic adalah bahwa secara alamiah, Tuhan, atau beberapa "Kekuatan" lainnya, itu mengarahkan perkembangan menuju ke tujuan tertentu didalam "membawa ke pencapaian mahkota kehidupan", yaitu menjadi seperti kita ini. Dipandang dari sudut skala yang lebih luas, dengan hewan amoeba sebagai titik berangkatnya, perspektif yang dikemukakan, nampaknya lebih bersifat ilmiah, tetapi segera setelah kita meneliti hingga ke hal yang sekecil-kecilnya, kita dapat mengetahui bahwa konsepsi yang demikian itu tidak dapat dipertahankan. Pertanyaannya yang utama berbunyi : "Bagaimana caranya intervensi yang supernatural itu terjadi?. Sebab, apabila hukum-hukum alam itu, tanpa ada kecualinya, berkeadaan valid (= berlaku sah dan tidak dapat ditawar-tawar), maka tentu tidak ada tempat untuk adanya intervensi yang demikian itu."
"Kita mulai dapat melihat bahwa keajaiban evolusi dari amoeba ke tingkat manusia, atau, kita tahu, tanpa perlu adanya keragu-raguan bahwa itu merupakan suatu keajaiban yang sangat mentakjubkan, dan bahwa evolusi yang demikian itu bukan merupakan hasil karya dari Sabda Yang Maha Perkasa dari Sang Maha Pencipta, tetapi adalah merupakan hasil pergabungan dari proses-proses kecil, yang tampaknya tidak berarti. Perubahan struktural itu terjadi didalam suatu molekul, pada chromosome-chromosome-nya, hasil dari suatu perjuangan untuk mencari makan, pada dua hewan, reproduksi dan kegiatan membesarkan anaknya, yang demikian itu adalah merupakan elemen sederhana, yang bersama-sama, didalam garis waktu sepanjang jutaan tahun, telah menciptakan keajaiban besar. Ini bukan merupakan sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Suatu keajaiban itu bukan terpisah dari kehidupan yang biasa. Suatu keajaiban didalam kehidupan kita sehari-hari, itu hanya masalah apakah kita memiliki kemampuan melihat keajaiban itu, atau tidak."
Sir Garvin mengemukakan pendapatnya sebagai berikut : "Lebih lanjut, dapatlah kita terangkan bahwa evolusi dan adaptasi dari tanaman-tanaman dan hewan-hewan, itu sering dikatakan pada desainnya, tujuannya, atau bimbingannya; namun didalam kenyataannya sering ada penyimpangan-penyimpangan, dan bencana-bencana, yang berada jauh dari desain, tujuan, dan bimbingan, sehingga hal itu mendorong kita untuk mencari keterangan-keterangan yang lainnya."
Tidak ada entitas (= entity) yang keadaannya sedemikian rupa, yang dikatakan sebagai roh (= soul), (yang didalam Agama Buddha, diistilahkan dengan ("anatta") pada manusia dan hewan-hewan. Menurut ajaran Agama Buddha, semua benda, baik makhluk hidup atau benda-benda mati, itu merupakan subjek yang terkena perubahan. Tidak ada yang bersifat permanen; semua benda itu muncul dan lalu lenyap; oleh karena itu, tidak ada entitas yang berkeadaan permanen didalam bentuk suatu roh atau self, yang terdapat didalam diri manusia atau didalam sesuatu yang lain.
Semua kehidupan di bumi ini berkeadaan saling bergantungan, yang satu terhadap yang lainnya, dan tidak berfungsi didalam isolasi atau keterasingan. Oleh karena itu, manusia dan hewan-hewan itu tidak bersifat dapat mencukupi dirinya sendiri, dan semua phenomena biologis itu bersifat tidak permanen dan mengalami perubahan-perubahan secara berlanjut terus, dan berada didalam suatu keadaan yang selalu mengalami keadaan yang mengalir (= continuous flux) (yang didalam Agama Buddha, diistilahkan dengan "anicca"), dan masing-masing dikondisikan oleh faktor-faktor lingkungan-sekitar. Dimana-mana, kita dapati konflik-konflik, dan konflik-konflik itu menunjukkan adanya sifat tidak memuaskan didalam kehidupan, atau untuk menggunakan istilah tehnis didalam Agama Buddha, "duhkha" (= penderitaan, keadaan sakit, dan kepedihan karena sakit badaniah, atau sakit kejiwaan).
Kejanggalan dari apa yang dinyatakan oleh Religi yang bersifat theistic, yaitu bahwa manusia dikatakan mempunyai roh, - yang diterangkan sebagai merupakan setitik kecil api dari Maha-Api Ke-Tuhan-an, dan merupakan suatu entitas yang tidak mengalami perubahan, didemonstrasikan dengan jelas dengan adanya organ tubuh, terutama jantung, yang dicangkokkan dari manusia satu ke manusia lainnya. Dr. Christian Barnard, seorang ahli bedah dari Afrika Selatan, yang telah melakukan pencangkokkan jantung manusia, yang pertama kali, meramalkan bahwa di masa-masa yang akan datang, jantung-jantung hewan dan organ-organ lainnya akan digunakan secara luas, sebagai pengganti organ tubuh yang sama pada badan manusia.
http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=901&multi=T&hal=0
Read more...
Apakah hidup atau kehidupan itu?. Ini adalah pertanyaan yang sukar dijawab; dipandang dari sudut ilmu pengetahuan. Professor Rhodes menggambarkan hidup atau kehidupan itu sebagai suatu urut-urutan proses yang terjadi didalam tingkat-tingkatan tertentu, yang sifatnya komplek, dari organisasi zat Walaupun demikian, Agama Buddha (Sang Buddha tidak membicarakan tentang masalah sebab-dan-akibat), didalam membicarakan hidup atau kehidupan, yang merupakan suatu continuum (= sesuatu yang berlanjut terus), sesuai dengan doktrin Persebaban Yang Saling Bergantungan) (lihat di bagian lain dari artikel ini). Agama Buddha menunjukkan dengan jelas bagaimana suatu sebab itu menjadi akibat, dan suatu akibat itu lalu menjadi sebab. Menurut Yang Mulia Nyanaponike, didalam masalah phenomena mental (= gejala-gejala jiwa), unsur sebab itu tidak akan pernah menjadi unsur akibat, dan unsur akibat tidak akan pernah menjadi unsur penyebab; walaupun suatu unsur akibat itu mungkin menjadi suatu kondisi berbagai type-type gejala-gejala, tetapi tidak akan pernah menjadi suatu unsur sebab yang sifatnya produktif. Secara umum, Agama Buddha lebih suka mempergunakan istilah "kondisi" dan "kondisionalitas". Sama seperti itu, didalam ilmu pengetahuan dan ilmu filsafat, istilah-istilah sebab dan akibat, itu merupakan istilah yang sangat disederhanakan, tetapi istilah-istilah tersebut, masih dipergunakan didalam maknanya yang populer.
Kelahiran dan kematian yang secara berulang-ulang dan berlanjut terus, yang dinamai "samsara", itu telah digambarkan secara tepat, sebagai suatu cyclus atau roda. Tidaklah dapat kita bayangkan, dan adalah sangat sukar untuk menunjukkan titik permulaan didalam cyclys sebab dan akibat, yang demikian itu; oleh karena itu mengenai asal hidup atau kehidupan, yang paling pertama, Sang Buddha menerangkannya sebagai berikut : "Tanpa mengetahui tujuannya, didalam mengembara dalam kehidupannya secara berulang-ulang di dunia (samsara) ini, makhluk-makhluk yang hidup di saat permulaannya, itu berkeadaan terliputi oleh ketidak-tahuannya, dan terikat oleh keinginan-keinginannya; mereka mengembara kesana-kemari, tanpa mengetahui apa seharusnya yang wajib diperbuatnya."
Hendaklah orang tidak cemas dan kecewa, karena merasa mengalami kegagalan, didalam mencari keterangan tentang titik permulaan dari suatu masa lampau yang tak-ber-permulaan. Hidup atau kehidupan, itu adalah suatu proses menjadi, merupakan suatu kekuatan, merupakan sesuatu yang mengalir terus menerus, dan keadaan yang demikian itu membutuhkan adanya suatu masa lampau yang tak berpermulaan, yang tidaklah perlu kita risaukan, apakah makhluk yang pertama itu adalah kera atau manusia.
Walaupun demikian, kita mengetahui bahwa hidup atau kehidupan, itu merupakan suatu kesatuan, dan bahwa semua makhluk-makhluk hidup, yang bermacam-macam jenisnya, yang jutaan, atau bahkan tak terhitung banyaknya itu, telah selama ribuan juta tahun sama-sama ikut menghayati proses kehidupan yang sama. Didalam peristiwa yang demikian itu, secara sekaligus, kita lihat adanya kesederhanaan dan keajaiban atau kehidupan.
Suatu penyelidikan yang dilakukan akhir-akhir ini, pada lapisan tanah bagian atas, setebal satu inch, dan seluas satu acre, yang terletak di dekat ibukota Amerika Serikat, menunjukkan bahwa tanah setebal dan seluas itu, berisi lebih dari 1.000.000 hewan-hewan microscopic, dan 2.000.000 benih-benih microscopic. Pada tanah setebal dan seluas tersebut diatas itu terdapat lebih dari 300.000 species (= jenis-jenis) tanaman hidup, dan 1.120.000 species hewan-hewan hidup, dan lebih dari tiga-per-empat-nya terdiri dari insect (= serangga), sedangkan hewan golongan tinggi atau yang telah bertulang belakang, membentuk hanya 5 persennya. Kira-kira 20 persennya terdiri dari golongan mollusc (= jenis keyong atau siput), dan lainnya golongan arthropod (= jenis hewan yang banyak kakinya) (serangga, kepiting, labah-labah, dan lipan), dan hewan golongan protozoa (= organisme-organisme yang ber-cel satu). Jadi, terdapat banyak sekali kehidupan dan ini merupakan faktor utama, didalam evolusi kehidupan. Seperti ditunjukkan oleh Charles Darwin, hal-hal yang demikian itu membimbing orang untuk mempercayai apa yang dinamai "Seleksi Alamiah" (= Natural Selection). Di alam ini, dengan hasil yang berlebihan dari organisme dan terdapatnya perjuangan hidup yang tak terelakkan, maka organisme-organisme yang paling kuat, yang paling menang, didalam menghadapi persaingan-persaingan hidup, dapat tetap hidup terus (= survival of the fittest), ini adalah theori umum dari seleksl alamiah.
Apabila kita memikirkan pengaruh Darwin pada pemikiran manusia selama 100 tahun terakhir ini, adalah layak untuk memperbedakan secara tajam antara evolusi sebagai suatu fakta historis dan theori operasional dari modifikasi didalam masalah penurunan jenis. Adalah merupakan yang pertama kalinya dari theori-theori ilmu pengetahuan, bahwa theori evolusi itu telah diterima oleh umum sebagai imaginasi yang populer, dan telah menggerakkan saat timbulnya Zaman Victoria, di Dunia Barat, dengan implikasinya terhadap filsafat keagamaan, dan di semua bagian dari dunia lalu membicarakannya sebagai suatu pukulan yang mematikan terhadap mythologi-mythologi yang bersifat takhayul dan tradisional, yang telah menyelimuti idea-idea dari semua bangsa, sebagai suatu keterangan tentang asal manusia, kecuali pandangan Agama Buddha.
Didalam proses evolusi, theori seleksi alamiah yang diperkembangkan oleh Darwin, adalah sangat penting. Selanjutnya Darwin menunjukkan bagaimana modifikasi sepanjang garis penurunan jenis itu berlangsung. Makhluk hidup telah ber-evolusi secara berlanjut dan melalui periode waktu, yang berurut-urutan, yang tiap periodenya memiliki type, tingkatan, dan susunan organisme hidup, yang khusus.
Julian Huxley menyatakan pendapatnya sebagai berikut : "Sistem alam adalah penyusunan genealogis dengan pencapaian tingkatan-tingkatan perbedaan, yang ditandai dengan istilah-istilah : varietas-varietas, species-species, genus-genus, family-family, dan order-order. Dan kita telah menemukan garis-garis keturunan, dengan ciri-ciri karakteristik yang paling permanen, apa pun ciri-ciri mereka itu, dan tidak perlu terpengaruh betapa kurang vitalnya ciri-ciri mereka itu."
Susunan rangka yang terkenal dari tulang-tulang pada tangan-tangan, pada sayap-sayap dari kelelawar, pada sirip-sirip ikan hiu, dan ciri-ciri leher pada kuda, yang dibandingkan dengan sejumlah yang sama, pada hewan-hewan bertulang belakang, yang membentuk leher hewan jerapah dan gajah, segera terlihat telah menunjukkan benarnya theori keturunan jenis, dengan modifikasi-modifikasi yang perlahan-lahan, dan secara berurut-urutan.
Sejak tahun 1900 theori-nya Darwin telah diungkapkan kembali didalam istilah-istilah genetic yang memungkinkan kita memperoleh manfaat yang besar didalam pemahaman kita mengenai proses-proses penurunan warisan (= hereditas).
Pada tahun 1866 Gregor Mendel telah mempublikasikan karyanya yang termasyhur mengenal keturunan, yang memperkuat dan mengkonsolidasikan theori-nya Darwin. Faktor lainnya yang menolong didalam penerimaan theori seleksi alam, yang menciptakan species baru didalam alam, adalah mutasi. Namun ketepatan dari methode operasinya dari phenomena mutasi ini belum sepenuhnya dapat dimengerti. Contoh yang paling terkenal mengenai mutasi-mutasi yang demikian itu, yang dinamai variasi-variasi yang spontan (variasi tunggal dari Darwin), dengan mana varietas-varietas yang berbeda dan baru dari tanaman-tanaman dan hewan-hewan muncul. Hukum-hukum mutabilitas itu sangat berbeda dengan variasi-variasi individual. Yang disebutkan belakangan itu dikarenakan oleh faktor-faktor herediter.
Dinyatakan orang bahwa lama sebelum Darwin, orang telah mulai menolak ceritera dari Kitab Suci mengenai penciptaan. Satu demi satu, Darwin telah memperkembangkan idea-idea besarnya, yang kita assosiasikan dengan namanya, yaitu: seleksi alam, seleksi seksual, argumen-argumen dari domestikasi, studi-studi didalam penekanan penduduk, studi tentang variasi-variasi dan isolasi geografis; bukti tentang perbandingan anatomi dan embryologi, cara-cara hybridisasi, manfaat dari hybrid-hybrid, dan yang terakhir dari semuanya, adalah analisanya tentang jiwa dan moral. Tidak ada satu pun dari yang tersebut dimuka tadi, yang didalam sesuatu cara, bertentangan dengan ajaran Buddha Dhamma.
Darwin mempertahankan pendapatnya bahwa manusia itu berasal dari satu sumber tunggal, yang berupa hewan-hewan menyerupai kera, yang menghuni dunia kuno (= old world). Dia mempertahankan pendapatnya bahwa satu sumber tunggal tersebut lalu mengalami diversifikasi menjadi berbagai species-species atau bangsa-bangsa (= races). Mereka itu juga telah mengadakan adaptasi atau akklimatisasi (= penyesuaian-diri terhadap iklim) (dengan seleksi alam), untuk mempertahankan diri dari serangan penyakit-penyakit yang ada di daerah dimana mereka tinggal.
Evolusi didalam faktanya terjadi peristiwanya, paling jelas ditunjukkan oleh studi mengenai fossil-fossil. Penemuan fossil-fossil tulang-tulang hewan, yang dapat diperbandingkan dengan makhluk-makhluk yang masih hidup, dinamai palaentologi.
Adalah doktrin evolusi-lah, yang mula pertama dapat memberikan interpretasi mengenai sifat-sifat perubahan-perubahan fauna, dari fossil-fossil yang ada, yang diketemukakan oleh para ahli palaeontologi dan para ahli geologi. Seri-seri hewan-hewan yang menunjukkan adanya perubahan-perubahan evolusioner, yang paling meyakinkan adalah pada penemuan-penemuan hewan-hewan yang bertulang belakang. Suatu contoh klassik, yang tidak diketahui oleh Darwin, adalah perubahan secara setapak demi setapak dari kuda-kuda, selama 40 hingga 50 juta tahun, dari makhluk hewan, yang jari-jari kakinya ada empat, dan masih sangat kecil, dengan gigi-gigi yang masih primitif, hingga ke makhluk hewan yang kakinya berjari satu dan besar, dengan gigi gerahamnya, yang mewakili jenis family kuda yang hidup, di zaman sekarang ini.
Kita memiliki pengetahuan yang luar biasa kayanya tentang sejarah hewan-hewan menyusui (= mammal). Dapat ditunjukkan bahwa didalam proses perubahan setingkat demi setingkat yang meliputi keterangan suatu jenis makhluk, tentang besarnya tubuhnya, pertumbuhannya, kebiasaan cara memakannya, dari jenis babi, hingga jenis gajah. Perubahan-perubahan tersebut meliputi jangka waktu kira-kira 40 juta tahun. Kalau jenis kuda dan jerapah (= giraffe) dengan memperpanjang lehernya untuk mencari makanannya, maka yang terjadi pada hewan jenis gajah adalah dengan memperpanjang rahang bawahnya, untuk tujuan yang sama seperti pada jenis kuda. Julian Huxley berpandangan yang sama dengan pandangan Darwin yang berfikiran bahwa mungkin semua kehidupan yang ada ini berasal dari satu wujud yang aseli.
Professor Mannes Alfven dari Royal Institute of Technology, mempertahankan pendapatnya dengan mengatakan sebagai berikut : "Jawaban yang paling sederhana dan paling sympathic adalah bahwa secara alamiah, Tuhan, atau beberapa "Kekuatan" lainnya, itu mengarahkan perkembangan menuju ke tujuan tertentu didalam "membawa ke pencapaian mahkota kehidupan", yaitu menjadi seperti kita ini. Dipandang dari sudut skala yang lebih luas, dengan hewan amoeba sebagai titik berangkatnya, perspektif yang dikemukakan, nampaknya lebih bersifat ilmiah, tetapi segera setelah kita meneliti hingga ke hal yang sekecil-kecilnya, kita dapat mengetahui bahwa konsepsi yang demikian itu tidak dapat dipertahankan. Pertanyaannya yang utama berbunyi : "Bagaimana caranya intervensi yang supernatural itu terjadi?. Sebab, apabila hukum-hukum alam itu, tanpa ada kecualinya, berkeadaan valid (= berlaku sah dan tidak dapat ditawar-tawar), maka tentu tidak ada tempat untuk adanya intervensi yang demikian itu."
"Kita mulai dapat melihat bahwa keajaiban evolusi dari amoeba ke tingkat manusia, atau, kita tahu, tanpa perlu adanya keragu-raguan bahwa itu merupakan suatu keajaiban yang sangat mentakjubkan, dan bahwa evolusi yang demikian itu bukan merupakan hasil karya dari Sabda Yang Maha Perkasa dari Sang Maha Pencipta, tetapi adalah merupakan hasil pergabungan dari proses-proses kecil, yang tampaknya tidak berarti. Perubahan struktural itu terjadi didalam suatu molekul, pada chromosome-chromosome-nya, hasil dari suatu perjuangan untuk mencari makan, pada dua hewan, reproduksi dan kegiatan membesarkan anaknya, yang demikian itu adalah merupakan elemen sederhana, yang bersama-sama, didalam garis waktu sepanjang jutaan tahun, telah menciptakan keajaiban besar. Ini bukan merupakan sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Suatu keajaiban itu bukan terpisah dari kehidupan yang biasa. Suatu keajaiban didalam kehidupan kita sehari-hari, itu hanya masalah apakah kita memiliki kemampuan melihat keajaiban itu, atau tidak."
Sir Garvin mengemukakan pendapatnya sebagai berikut : "Lebih lanjut, dapatlah kita terangkan bahwa evolusi dan adaptasi dari tanaman-tanaman dan hewan-hewan, itu sering dikatakan pada desainnya, tujuannya, atau bimbingannya; namun didalam kenyataannya sering ada penyimpangan-penyimpangan, dan bencana-bencana, yang berada jauh dari desain, tujuan, dan bimbingan, sehingga hal itu mendorong kita untuk mencari keterangan-keterangan yang lainnya."
Tidak ada entitas (= entity) yang keadaannya sedemikian rupa, yang dikatakan sebagai roh (= soul), (yang didalam Agama Buddha, diistilahkan dengan ("anatta") pada manusia dan hewan-hewan. Menurut ajaran Agama Buddha, semua benda, baik makhluk hidup atau benda-benda mati, itu merupakan subjek yang terkena perubahan. Tidak ada yang bersifat permanen; semua benda itu muncul dan lalu lenyap; oleh karena itu, tidak ada entitas yang berkeadaan permanen didalam bentuk suatu roh atau self, yang terdapat didalam diri manusia atau didalam sesuatu yang lain.
Semua kehidupan di bumi ini berkeadaan saling bergantungan, yang satu terhadap yang lainnya, dan tidak berfungsi didalam isolasi atau keterasingan. Oleh karena itu, manusia dan hewan-hewan itu tidak bersifat dapat mencukupi dirinya sendiri, dan semua phenomena biologis itu bersifat tidak permanen dan mengalami perubahan-perubahan secara berlanjut terus, dan berada didalam suatu keadaan yang selalu mengalami keadaan yang mengalir (= continuous flux) (yang didalam Agama Buddha, diistilahkan dengan "anicca"), dan masing-masing dikondisikan oleh faktor-faktor lingkungan-sekitar. Dimana-mana, kita dapati konflik-konflik, dan konflik-konflik itu menunjukkan adanya sifat tidak memuaskan didalam kehidupan, atau untuk menggunakan istilah tehnis didalam Agama Buddha, "duhkha" (= penderitaan, keadaan sakit, dan kepedihan karena sakit badaniah, atau sakit kejiwaan).
Kejanggalan dari apa yang dinyatakan oleh Religi yang bersifat theistic, yaitu bahwa manusia dikatakan mempunyai roh, - yang diterangkan sebagai merupakan setitik kecil api dari Maha-Api Ke-Tuhan-an, dan merupakan suatu entitas yang tidak mengalami perubahan, didemonstrasikan dengan jelas dengan adanya organ tubuh, terutama jantung, yang dicangkokkan dari manusia satu ke manusia lainnya. Dr. Christian Barnard, seorang ahli bedah dari Afrika Selatan, yang telah melakukan pencangkokkan jantung manusia, yang pertama kali, meramalkan bahwa di masa-masa yang akan datang, jantung-jantung hewan dan organ-organ lainnya akan digunakan secara luas, sebagai pengganti organ tubuh yang sama pada badan manusia.
http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=901&multi=T&hal=0
Read more...
Khotbah Sang Buddha Tentang Hukum Karma(Sebab dan Akibatnya)
Pada suatu waktu ada satu perkumpulan di pegunungan (Lin-Shan)dimana 1250 Bhikku,siswa Sang Buddha menghadirinya,Ananda,salah satu dari siswa utama Sang Buddha,setelah bekeliling 3 kali dengan merangkupkan tangan di hadapan Buddha Sakyamuni,membungkukan badan dalam pernghormatan,dengan rendah hati beliau bertanya: "Di zaman kegelapan,dimana kebanyakan orang-orang gemar mengikuti jalan ketidakbenaran,tidak mempunyai rasa hormat kepada ajaran Sang Buddha,tidak mempunyai kasih sayang terhadap orang tua mereka,tidak bermoral,sengsara dan kotor (jorok),diantara mereka ada yang tuli,buta,bisu,bodoh,cacat dalam segi-segi yang lain dan kebanyakan orang membiasakan diri melakukan pembunuhan...bagaimanakah kita dapat mengerti keadaan ini dan prinsip dasar dari kasus-kasus yang mendatangkan kenyataan ini dan akibat-akibat yang harus diderita oleh masing-masing perorangan secara tak terelakan atas perbuatannya.Yang Mulia,sudikah Anda dengan baik hati menjelaskna hal ini kepada kami?"
Buddha Sakyamuni memberitahu Ananda dan para siswa yang lain mendengar secara teliti: "Saya sekarang akan menguraikan secara terperinci peraturan dari Hukum Karma.Karena pengaruh akibat perbuatan dari kehidupan yang lalu,sebagian orang dilahirkan dalam keadaan miskin,sebagian kaya,sebagian bahagia,sebagian hidup sengsara.Adanya 4 peraturan secara terpisah dalam memperoleh kebahagiaan dan kemakmuran untuk kehidupan yang akan datang."
Yaitu:
1.Kita harus merawat dan mempunyai kasih kepada orang tua.
2.Menghormati para Buddha,Dharma(ajaran Sang Buddha) dan para Bhikksu/Bhikksuni.
3.Berpantang makan daging.
4.Bermurah hati(berdana)
Kemudian Sang Buddha meneruskan khotbah tentang hukum karma:" Nasib adalah pengumpulan dari efek-efek (akibat) dari kehidupan yang lampau menentukan nasib anda saat ini.Karma saat ini membentuk kehidupan anda yang berikutnya.Pelajarilah hukum karma yang diuraikan seperti dibawah ini.
"HUKUM KARMA BERSIFAT ADIL DAN KATA-KATA YG KUUCAPKAN ADALAH BENAR"
Setelah membicarakan tentang Hukum Karma kepada Ananda dan para pengikut lain nya,Sang Buddha menambahkan:" Adanya contoh-contoh yang banyak sekali tentang Hukum Karma.Tetapi saya hanya akan menyebutkan karma yang terjadi pada umumnya."
Kemudian Ananda berkata:" Pada akhir dari zaman kegelapan kebanyakan manusia akan lahir mati terus menerus,mereka mengumpul akibat perbuatan yang salah yang mana tak terhitung banyaknya,karena mereka tidak mengetahui tentang hukum Sebab-Akibat dari hukum karma."
"Kita berterima kasih sekali kepada Sang Buddha atas khotbahnya yang sebegitu baik yang Beliau berikan kepada kita,maka itu siapa saja yg menulis dan membaca,mencetak dan membagikan kitab suci ini untuk memuliakan Sang Buddha.akan diberkahi kebahagiaan yang abadi dan dapat melihat Buddha Amitabha,Bodhistatva Avalokitesvara dan semua Buddha yang lain dalam alam surga setelah berkahirnya kehidupan ini."
Sumber "KITAB HUKUM KARMA"(The Cause & Effect Sutra) Read more...
Buddha Sakyamuni memberitahu Ananda dan para siswa yang lain mendengar secara teliti: "Saya sekarang akan menguraikan secara terperinci peraturan dari Hukum Karma.Karena pengaruh akibat perbuatan dari kehidupan yang lalu,sebagian orang dilahirkan dalam keadaan miskin,sebagian kaya,sebagian bahagia,sebagian hidup sengsara.Adanya 4 peraturan secara terpisah dalam memperoleh kebahagiaan dan kemakmuran untuk kehidupan yang akan datang."
Yaitu:
1.Kita harus merawat dan mempunyai kasih kepada orang tua.
2.Menghormati para Buddha,Dharma(ajaran Sang Buddha) dan para Bhikksu/Bhikksuni.
3.Berpantang makan daging.
4.Bermurah hati(berdana)
Kemudian Sang Buddha meneruskan khotbah tentang hukum karma:" Nasib adalah pengumpulan dari efek-efek (akibat) dari kehidupan yang lampau menentukan nasib anda saat ini.Karma saat ini membentuk kehidupan anda yang berikutnya.Pelajarilah hukum karma yang diuraikan seperti dibawah ini.
"HUKUM KARMA BERSIFAT ADIL DAN KATA-KATA YG KUUCAPKAN ADALAH BENAR"
Setelah membicarakan tentang Hukum Karma kepada Ananda dan para pengikut lain nya,Sang Buddha menambahkan:" Adanya contoh-contoh yang banyak sekali tentang Hukum Karma.Tetapi saya hanya akan menyebutkan karma yang terjadi pada umumnya."
Kemudian Ananda berkata:" Pada akhir dari zaman kegelapan kebanyakan manusia akan lahir mati terus menerus,mereka mengumpul akibat perbuatan yang salah yang mana tak terhitung banyaknya,karena mereka tidak mengetahui tentang hukum Sebab-Akibat dari hukum karma."
"Kita berterima kasih sekali kepada Sang Buddha atas khotbahnya yang sebegitu baik yang Beliau berikan kepada kita,maka itu siapa saja yg menulis dan membaca,mencetak dan membagikan kitab suci ini untuk memuliakan Sang Buddha.akan diberkahi kebahagiaan yang abadi dan dapat melihat Buddha Amitabha,Bodhistatva Avalokitesvara dan semua Buddha yang lain dalam alam surga setelah berkahirnya kehidupan ini."
Sumber "KITAB HUKUM KARMA"(The Cause & Effect Sutra) Read more...
Kamis, 15 Oktober 2009
MEDITASI BUDDHIS DAN BIOSCIENCE ATAU ILMU PENGETAHUAN TENTANG HIDUP DAN KEHIDUPAN
By : U. AUNG THEIN
Adalah sangat menarik untuk dicatat bahwa begitu ilmu pengetahuan tentang manusia dan alam semesta itu bertambah maju, maka makin banyak diketemukan bukti-bukti yang memperkuat kebenaran doktrin yang diajarkan oleh Sang Buddha. Agama Buddha adalah Jalan Kebebasan (atau Jalan untuk Mencapai Nirvana), yang diajarkan oleh Sang Buddha. Ajaran Agama Buddha tersebut dikemukakan didalam ajaran tentang Kasunyataan yang dinamai Empat Kasunyataan Mulia, yang juga mencakup ajaran yang dinamai Delapan Jalan Utama. Kebebasan berarti berhentinya secara tuntas dan sempurna, dari mengalami cyclus kehidupan dan kematian.
Ilmu pengetahuan adalah penyelidikan yang objektif terhadap hukum-hukum alam untuk dapat membentuk generalisasi-generalisasi dan keterangan-keterangan mengenai fakta-fakta yang diobservasi. Tepatlah pernyataan yang dikemukakan oleh seorang ahli physiologi Perancis, yang bernama Loeb, yang berbunyi : "Tujuan yang paling utama dari ilmu pengetahuan, ialah meramalkan sesuatu."
Jalan untuk mencapai Kebebasan, yang diajarkan oleh Sang Buddha, itu dapat digambarkan sebagai suatu penghayatan kehidupan yang berisi Pengalaman-pengalaman dan Eksperimen-Eksperimen. Sama seperti bahwa didalam ilmu pengetahuan, itu sang penyelidik (= ilmuwan) mengadakan langkah-langkah secara setapak demi setapak, demikian juga didalam Agama Buddha, seseorang itu maju menuju ke pencapaian tujuan, secara selangkah demi selangkah; pula diperolehnya pengetahuan, itu juga secara sedikit demi sedikit. Tidak ada hal-hal yang tabu (atau dilarang) untuk ditanyakan; kepercayaan yang membuta itu membawa orang kesana-kemari, yang tidak menentu tujuannya. Pengalaman yang teguh dalam pelaksanaan ajaran Berfikir Yang Benar, Berkata Yang Benar, dan Berbuat Yang Benar, akan mengubah seseorang untuk memiliki sifat teguh dalam melakukan hal-hal yang mulia, yang membawanya hingga tiba pada titik puncak pencapaian keadaan berhentinya, atau bebasnya, dari cyclus kelahiran dan kematian, secara tuntas dan sempurna.
Ke-Delapan Jalan Utama itu digolongkan menjadi Tiga Bagian Utama; Bagian Utama Yang Pertama, Yang terdiri dari Tiga Ajaran, yaitu Ajaran untuk; Berbicara Yang Benar, Berbuat Yang Benar, dan Ber-Mata-Pencaharian Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Kesusilaan (= Virtue); Bagian Utama Yang Kedua, yang terdiri dari Tiga Ajaran, yaitu Ajaran untuk; Ber-Usaha Yang Benar, Ber-Perhatian Yang Benar, dan Ber-Konsentrasi Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Meditasi (= Meditation); dan Bagian Utama Yang Ketiga, yang terdiri dari dua Ajaran, yaitu Ajaran untuk : Ber-Pandangan, atau Ber-Pengertian, Yang Benar, dan Ber-Cita-Cita, atau Ber-Niat, Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Kebijaksanaan (= Wisdom = Realization).
Didalam Agama Buddha, diterima sebagai fakta yang fundamental bahwa semua makhluk hidup itu adalah merupakan suatu bentuk yang integral dari Ke-Lima 'Skandha' yaitu: Mentalitas (= Mentality), persepsi (= perception), Sensasi (= Sensation), Aktivitas-Aktivitas Mental (= Mental Activities), dan Kesadaran (= Consieousness). Ke-Lima Komponen, yang sifatnya tidak permanen dan saling bergantungan yang satu dengan yang lainnya itu, melalui aksi-aksinya yang tetap berlangsung secara berlanjut, dalam titik-titik proses kehidupan, menghasilkan suatu mata-rantai kelahiran kembali (atau kelahiran dan kematian secara berulang-ulang), sejak waktu yang tidak berpermulaan, dan akan berlanjut terus, sampai tiba pada titik ada counter-aksi, yang dapat melenyapkan karma-karma yang menyebabkan adanya kelahiran kembali, atau sampai titik dapat dicapainya Kebebasan yang final, dan tanpa terdapatnya sisa-sisa karma lagi.
Marilah kita pelajari mengenai proses kehidupan dan "MANUSIA", yang terdiri dari lima komponen tersebut dimuka; yang mengenai hal itu, Sang Buddha bersabda sebagai berikut: "Didalam tubuh (maksudnya barangkali yang dinamai badan-sebab, atau karana-sharira), yang keberadaannya lama sekali jangka waktunya, dan (hampir-hampir) tak memiliki batas waktu (yang dipakai dalam banyak kelahiran dan kematian itu), terletak mysteri-mysteri dan problema-problema dari alam semesta."
Didalam naskah Satipatthana Sutta dan Mahasatipatthana Sutta, diterangkan bahwa tubuh ini merupakan suatu gabungan dari berbagai organ, yang terdiri dari zat-zat cair dan padat. Selanjutnya, diterangkan pula didalam naskah "Milinda-Panha" bahwa didalam menjawab pertanyaan Sang Raja, seorang yang berkepribadian yang besar dan suci, telah membandingkan tubuh ini dengan kumpulan bagian-bagian dan telah mengemukakan pendapatnya bahwa disitu (didalam tubuh) tidak terdapat sesuatu entitas (= entity) yang menempatinya.
Dari sudut anatomis dan biochemis, badan ini tidaklah lain adalah suatu pergabungan sistem-sistem organis, didalam mana proses-proses chemis berjalan, dan secara tetap mengalami perubahan-perubahan. Tubuh ini keadaannya seperti Servomechanisme, karena apabila sesuatu bagiannya mengalami gangguan, maka keseluruhannya merasakan akibatnya. Kemampuan dan kecenderungan badan, yang selalu akan kembali ke keseimbangannya yang normal, atau ke garis basisnya, dikenal dengan istilah Homeostasis.
Untuk memelihara agar badan dan jiwa, berkeadaan harmonis, menurut ajaran Agama Buddha, diperlukan persyaratannya, yang berupa dicapainya kesehatan di bidang physik (= Jasmaniah), Emosional (= Perasaan), dan Mental (= Fikiran), yang dapat dicapai dengan melalui pelaksanaan Meditasi.
Keseimbangan tubuh, perasaan, dan fikiran, dapat diperoleh dengan jalan mempraktekkan Ajaran Kesusilaan (= atau Kebajikan = Virtus), yaitu bagian Utama yang Pertama dari Ajaran Delapan Jalan Utama. Ajaran Kesusilaan atau Kebajikan ini, diuraikan didalam naskah suci Visuddhimagga, berupa : menghindari berbuat jahat, ber-kemauan-baik, dan tidak serakah. Adapun sifat-sifat yang mengganggu tercapainya Kebaikan, adalah : kemarahan, kejahilan, hypocrisy, kegiatan merangsang orang-orang lain untuk berlaku berang, iri-hati atau cemburu, suka mengakali atau mendustai orang lain, suka mengganggu orang lain, kesombongan, kebangaan-diri, suka bermalas-malasan, suka memenuhi godaan hawa-nafsu, membiarkan dirinya ketagihan akan kenikmatan mulut dan lidah, suka berbicara kotor dan kasar, dan tidak berusaha mengekang kegiatan indria-indria yang mengarah ke pemuas hawa-nafsu. Keadaan-keadaan atau sifat-sifat yang meng-counter-aksi, atau yang berlawanan dengan sifat-sifat negatif tersebut dimuka itu, dapat menjadi penyebab tercapainya kebajikan atau kesusilaan.
Sesuatu dari keadaan-keadaan atau sifat-sifat yang negatif tersebut dimuka, itu menghasilkan perubahan-perubahan didalam keseimbangan blochemis dari badan. Makin tidak seimbang keadaan diri, atau tubuh seseorang, menjadi makin banyak dikeluarkan substansi-substansi neuro-transmitter, sebagai misalnya Acetylcline, Scrotonin dan Epinefrin. Zat-zat tersebut menyebabkan lalu dihasilkan banyak type-type effek, yang bermacam-macam, terhadap organ-organ tubuh, sebagai misalnya pada kelenjar buntu thyroid, adrenal cortex, saluran-saluran pencernaan makanan dan pada organ-organ seksual. Misalnya, apabila seseorang berang, maka kemarahan atau agitasinya yang dialaminya itu menyebabkan dihasilkannya Epinefrin, yang selanjutnya ini mengakibatkan tekanan darahnya naik, dan output cardialnya, serta konsumsi oxygennya menjadi makin bertambah.
Keadaan lainnya yang kita alami adalah rasa takut dan kecemasan. Selama orang mengalami ketakutan dan kecemasan, lebih banyak jumlah acid yang dikeluarkan dari pada yang biasa, terhadap saluran-saluran pencernaan makanan, hal ini selanjutnya mengakibatkan membran-nya terkena serangan acid dalam jumlah yang banyak, dan sebagai hasilnya orangnya menderita penyakit ulcer, atau mengalami luka pada ususnya.
Keadaan ketegangan syaraf yang berlangsung lama, telah diketahui menjadi sebab rusaknya sistem syaraf autonomis, didalam cara yang sedemikian rupa, sehingga mempengaruhi peristalsis, secara negatif, yang menjadikan rusaknya fungsi-fungsi pencernaan makanan dan pengeluaran kotor-kotoran dari tubuh. Hal tersebut mengakibatkan penyakit sembelit (= tidak dapat buang air besar) dan peracunan terhadap dirinya sendiri, dan keadaan ini mempengaruhi kesehatan physik, emosional, dan mental, dari orang yang bersangkutan, yaitu mengalami penyimpangan fungsi dari yang sewajarnya.
Dari uraian tersebut diatas, kiranya dapat kita mengerti mengapa Sang Buddha menggaris-bawahi praktek kebajikan, atau kesusilaan, sebagai syarat penting untuk keberhasilan meditasi. Praktek meditasi tidak mungkin berhasil, apabila badan jasmani, emosi, dan fikiran, seseorang, mengalami gangguan. Seseorang yang mempraktekkan kebajikan, atau kesusilaan, akan dapat melaksanakan meditasi secara sukses, dapat menghilangkan gangguan-gangguannya, dan dapat berkontemplasi (= bermeditasi) terhadap realitas, dan akhirnya dapat mencapai Kebebasan (bebas dari mengalami penderitaan). Ketiga tujuan utama ini dapat dicapai dengan melaksanakan Ke-Empat Jhana.
Sama keadaannya bahwa didalam ilmu pengetahuan, itu pencapaian tujuan diperoleh secara setapak demi setapak dan secara methodis, demikian juga pencapaian tujuan Agama Buddha, didalam meditasi, itu dicapai secara setingkat demi setingkat dan secara hirahis, serta erat sekali kaitannya dengan keadaan dari tubuh physiknya.
Dimilikinya kemampuan dapat bermeditasi dengan sikap badan yang baik dan teguh, dapatnya diatur fikirannya secara mantap, tanpa mengalami teralihkan perhatiannya kesana-kemari, dan telah dapatnya berkonsentrasi secara mendalam, adalah persyaratan utama untuk meditasi yang baik. Sang Buddha memuji tinggi-tinggi methode yang dapat menghasilkan ketenangan, melalui pemusatan perhatian terhadap pernapasan, dengan jalan mana, Beliau sendiri telah dapat mencapai Penerangan Sempurna.
Para penyelidik modern telah menemukan fakta bahwa seseorang yang sedang bermeditasi itu mengalami menjadi lambatnya kecepatan pernapasannya; konsumsi oxygen menjadi berkurang sekitar 20 %, dan output Co2-nya mengalami penurunan pula.
Effek-effek, akibat-akibat, physiologis, yang berupa pengurangan kecepatan metabolisme, diungkapkan pula; juga dicatat berkurangnya lactic acid didalam darah, yang dalam waktu yang bersamaan nampak naiknya didalam pH dan berkurangnya response Galvanic yang berhubungan dengan kulit, sewaktu orang melakukan meditasi.
Dengan telah diatasinya hambatan-hambatan, yang menghasilkan keadaan tenangnya physik dan mentalnya, bersama-sama dengan makin berhasilnya praktek meditasi, maka Jhana yang pertama tercapai. Keadaan tak berkeinginan (keinginan tingkatan rendah) ini berhubungan dengan telah dapat dikontrolnya secara mutlak alam wujud-wujud (= plane of form). Transisi permulaan untuk mencapai kemahiran dalam berkelana di Jalan Suci ini, dikatakan merupakan tugas yang paling berat.
Setelah dapat mencapai tingkatan Jhana Yang Pertama, Sang Jhani berusaha untuk mencapai penguasaan atas alam-alam mental. Jhana Yang Ke-Dua ini berhubungan dengan kekuatan untuk berkonsentrasi, yaitu kemampuan memusatkan konsentrasinya pada kekuatan-kekuatan mental. Ini dikenal dengan istilah Ekkagatha, atau Pemusatan Fikiran pada Satu Titik.
Orang dapat membayangkan betapa hebat kekuatan yang dicapai oleh seseorang yang telah dapat bermeditasi yang berlangsung lama dan mantap, atas otaknya dan atas reaksi-reaksi biochemisnya, kalau kita ketahui bahwa menurut ilmu pengetahuan, latihan meditasi yang biasa dan berlangsung singkat saja, telah dapat mengubah objek didalam eksperimen yang telah dilakukan.
Pada WCLA Berkley di tahun 1964, laboratori yang khusus, telah dapat mengungkapkan bahwa apabila makin diperkaya lingkungan-sekitar belajarnya seseorang, maka akan makin berkembang dan makin teballah lapisan-lapisan cortex, yang yang mengakibatkan makin besarnya aktivitas total dari kedua enzym otak. Makin kayanya lingkungan sekitar belajar itu juga menghasilkan cel-cel yang lebih besar.
Adalah merupakan pengetahuan yang sifatnya umum fikiran yang terkonsetrasikan dan jiwa yang tenang itu menghasilkan gelombang-gelombang yang sifatnya tertentu. Keadaan ketenangan jiwa ini dapat diketahui sifatnya dan dapat diusahakan dipertahankan keadaannya, melalui alat-alat bio-feadback.
Aktivitas-aktivitas mental itu dikenal mempengaruhi produksi dari RNA, yang erat hubungannya dengan protein syntehsis. Keduanya, RNA dan molekul-molekul protein menyarankan kepada orang, untuk berkesimpulan bahwa itu berhubungan dengan ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Keadaan mental selama orang melaksanakan meditasi, itu dapat mempengaruhi produksinya type khusus dari RNA dan protein-protein. Dr. Penfield didalam penyelidikannya mengenai perangsangan terhadap otak telah menunjukkan bahwa perangsangan pada otak itu dapat menyebabkan timbulnya kembali pengalaman-pengalaman di masa yang lampau, yang caranya adalah dengan mengadakan rangsangan elektris terhadap otak. Didalam cara yang sama, seorang Jhani dengan kekuatan konsentrasinya dapat merangsang aktivitas elektris didalam sesuatu bagian dari otak, yang mengakibatkan dapat menimbulkan kembali ingatan-ingatan. Karena makhluk-makhluk hidup itu telah ada sejak waktu yang permulaannya tidak diketahui, maka adalah mungkin untuk mengambil kesimpulan bahwa masalah pemanggilan kembali ingatan-ingatan kehidupan di masa-masa yang lampau itu dapat dicapai oleh seseorang yang telah mampu memiliki Tingkatan Jhana yang Ke-Dua, melalui mechanisme jasmaniah.
Jhana tingkat Ke-Tiga adalah keadaan didalam mana Sang Jhani berada didalam Ketenangan dan Keadaan Bersikap Adil. Dia memandang dengan tenang dan tidak berat sebelah, maupun tanpa kehilangan kewaspadaan dalam pengamatan terhadap benda-benda, atau hal-hal, sewaktu benda-benda, atau hal-hal, itu muncul dan lenyap. Dia ada didalam pemilikan energi yang berkeadaan seimbang. Dia tidak berkeadaan sangat tegang, maupun tidak terlalu santai, dan dia ber-eksistensi seperti sebuah molekul didalam keadaan dasar dari energi. Didalam keadaan ini, proses badan seseorang membutuhkan sejumlah energi yang sedikit saja, dan orangnya dapat merasa puas atas fungsi chemis utamanya, dari kehidupannya, yang dapat meminimkan, membuat sesedikit mungkin, entropi pada dirinya. Entropi adalah ukuran ketidak-teraturan atau kekacauan, dan fungsi-fungsi tubuhnya, yang mencakup perasaannya, dan fikirannya. Sang Jhani didalam keadaan yang demikian itu, telah bebas dari kegelisahan, kecemasan dan ke-agitasi-an, atau keadaan ingin marah atau menjadi berang.
Setelah dapat mencapai Tingkatan Jhana Yang Ke-Empat, seorang Jhani berada didalam keadaan kemurniaan badan, perasaan, dan fikiran, disertai dengan pemilikan kemampuan bersikap penuh kewaskitaan dan ketenangan serta keadilan. Dengan telah berhentinya, atau telah bebasnya orang, dari penderitaan dan kenikmatan, keduanya, baik badan jasmaninya maupun mentalnya, akhirnya dia dapat mencapai bebas dari keterikatan secara tuntas, dan berada didalam keadaan yang bebas, atau telah mencapai Kebebasan Spiritual.
Saya akan mengakhiri uraian dari artikel saya ini, dengan contoh-contoh ilmiah, yang ada hubungannya dengan masalah meditasi. Telah diketahui oleh ilmu pengetahuan bahwa transmisi neural (penyampaian getaran elektris pada syaraf) itu dipengaruhi oleh keberadaan ion-ion calcium. Getaran-getaran electromagnetis dari sekitar 7 hingga 13 cyclus per detik dihasilkan orang, selagi dia melakukan meditasi. Apabila getaran-getaran electromagnetis dari frekwensi yang tersebut diatas itu disentuhkan pada otak, akan terdapat aliran sejumlah banyak calcium, dari syaraf-syaraf cel-cel membran. Eksperimen mengenai ruang, yang dilakukan pada akhir-akhir ini, yang dilakukan oleh para astronaut didalam keadaan diperpanjangnya keadaan tanpa bobot, di angkasa luar, telah lebih memperbesar rasa atau penghayatan keagamaan, lebih banyak dari pada penghayatan pengalaman spiritual.
Makin banyaknya dibebaskannya ion-ion calcium, yang disebabkan oleh decalcifikasinya tulang-tulang, itu mengakibatkan, ion-ion calcium beredar didalam aliran darah, yang memungkinkannya hingga sampai di otak.
Adalah merupakan hal yang masuk akal, kalau kita mengambil kesimpulan bahwa keduanya, yaitu pengalaman spiritual dari sang meditator dan para astronanut didalam keadaan tanpa bobot, itu dapat dilacak kepada phenomena physiologis, yang sama, yaitu perubahan ikatan calcium didalam sistem neurologis.
Sebagai ringkasan dari yang telah saya kemukakan dimuka, saya telah menunjukkan didalam artikel ini, bahwa walaupun waktu penyampaiannya berkeadaan berbeda, namun apa yang diajarkan oleh Sang Buddha itu bersifat ilmiah. Tujuan dari keduanya, baik Agama Buddha, maupun Ilmu Pengetahuan, adalah untuk menemukan hukum-hukum alam, dan akhirnya, dengan mengikuti tehnik-tehnik yang tepat, orang dapat mencapai yang menjadi tujuannya, sesuai dengan yang telah diramalkannya.
Sang Buddha telah bersabda sebagai berikut : "Lakukanlah Ehipassako! Datang dan lihatlah dengan mata kepala anda sendiri! Dan terimalah pesan dari artikel ini : "Ber-Meditasi-lah! Ber-Eksperimen-lah! Dan hayatilah Ajaran-Ajaran dari Buddha Dhamma!".
http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=898&multi=T&hal=0
Read more...
Adalah sangat menarik untuk dicatat bahwa begitu ilmu pengetahuan tentang manusia dan alam semesta itu bertambah maju, maka makin banyak diketemukan bukti-bukti yang memperkuat kebenaran doktrin yang diajarkan oleh Sang Buddha. Agama Buddha adalah Jalan Kebebasan (atau Jalan untuk Mencapai Nirvana), yang diajarkan oleh Sang Buddha. Ajaran Agama Buddha tersebut dikemukakan didalam ajaran tentang Kasunyataan yang dinamai Empat Kasunyataan Mulia, yang juga mencakup ajaran yang dinamai Delapan Jalan Utama. Kebebasan berarti berhentinya secara tuntas dan sempurna, dari mengalami cyclus kehidupan dan kematian.
Ilmu pengetahuan adalah penyelidikan yang objektif terhadap hukum-hukum alam untuk dapat membentuk generalisasi-generalisasi dan keterangan-keterangan mengenai fakta-fakta yang diobservasi. Tepatlah pernyataan yang dikemukakan oleh seorang ahli physiologi Perancis, yang bernama Loeb, yang berbunyi : "Tujuan yang paling utama dari ilmu pengetahuan, ialah meramalkan sesuatu."
Jalan untuk mencapai Kebebasan, yang diajarkan oleh Sang Buddha, itu dapat digambarkan sebagai suatu penghayatan kehidupan yang berisi Pengalaman-pengalaman dan Eksperimen-Eksperimen. Sama seperti bahwa didalam ilmu pengetahuan, itu sang penyelidik (= ilmuwan) mengadakan langkah-langkah secara setapak demi setapak, demikian juga didalam Agama Buddha, seseorang itu maju menuju ke pencapaian tujuan, secara selangkah demi selangkah; pula diperolehnya pengetahuan, itu juga secara sedikit demi sedikit. Tidak ada hal-hal yang tabu (atau dilarang) untuk ditanyakan; kepercayaan yang membuta itu membawa orang kesana-kemari, yang tidak menentu tujuannya. Pengalaman yang teguh dalam pelaksanaan ajaran Berfikir Yang Benar, Berkata Yang Benar, dan Berbuat Yang Benar, akan mengubah seseorang untuk memiliki sifat teguh dalam melakukan hal-hal yang mulia, yang membawanya hingga tiba pada titik puncak pencapaian keadaan berhentinya, atau bebasnya, dari cyclus kelahiran dan kematian, secara tuntas dan sempurna.
Ke-Delapan Jalan Utama itu digolongkan menjadi Tiga Bagian Utama; Bagian Utama Yang Pertama, Yang terdiri dari Tiga Ajaran, yaitu Ajaran untuk; Berbicara Yang Benar, Berbuat Yang Benar, dan Ber-Mata-Pencaharian Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Kesusilaan (= Virtue); Bagian Utama Yang Kedua, yang terdiri dari Tiga Ajaran, yaitu Ajaran untuk; Ber-Usaha Yang Benar, Ber-Perhatian Yang Benar, dan Ber-Konsentrasi Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Meditasi (= Meditation); dan Bagian Utama Yang Ketiga, yang terdiri dari dua Ajaran, yaitu Ajaran untuk : Ber-Pandangan, atau Ber-Pengertian, Yang Benar, dan Ber-Cita-Cita, atau Ber-Niat, Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Kebijaksanaan (= Wisdom = Realization).
Didalam Agama Buddha, diterima sebagai fakta yang fundamental bahwa semua makhluk hidup itu adalah merupakan suatu bentuk yang integral dari Ke-Lima 'Skandha' yaitu: Mentalitas (= Mentality), persepsi (= perception), Sensasi (= Sensation), Aktivitas-Aktivitas Mental (= Mental Activities), dan Kesadaran (= Consieousness). Ke-Lima Komponen, yang sifatnya tidak permanen dan saling bergantungan yang satu dengan yang lainnya itu, melalui aksi-aksinya yang tetap berlangsung secara berlanjut, dalam titik-titik proses kehidupan, menghasilkan suatu mata-rantai kelahiran kembali (atau kelahiran dan kematian secara berulang-ulang), sejak waktu yang tidak berpermulaan, dan akan berlanjut terus, sampai tiba pada titik ada counter-aksi, yang dapat melenyapkan karma-karma yang menyebabkan adanya kelahiran kembali, atau sampai titik dapat dicapainya Kebebasan yang final, dan tanpa terdapatnya sisa-sisa karma lagi.
Marilah kita pelajari mengenai proses kehidupan dan "MANUSIA", yang terdiri dari lima komponen tersebut dimuka; yang mengenai hal itu, Sang Buddha bersabda sebagai berikut: "Didalam tubuh (maksudnya barangkali yang dinamai badan-sebab, atau karana-sharira), yang keberadaannya lama sekali jangka waktunya, dan (hampir-hampir) tak memiliki batas waktu (yang dipakai dalam banyak kelahiran dan kematian itu), terletak mysteri-mysteri dan problema-problema dari alam semesta."
Didalam naskah Satipatthana Sutta dan Mahasatipatthana Sutta, diterangkan bahwa tubuh ini merupakan suatu gabungan dari berbagai organ, yang terdiri dari zat-zat cair dan padat. Selanjutnya, diterangkan pula didalam naskah "Milinda-Panha" bahwa didalam menjawab pertanyaan Sang Raja, seorang yang berkepribadian yang besar dan suci, telah membandingkan tubuh ini dengan kumpulan bagian-bagian dan telah mengemukakan pendapatnya bahwa disitu (didalam tubuh) tidak terdapat sesuatu entitas (= entity) yang menempatinya.
Dari sudut anatomis dan biochemis, badan ini tidaklah lain adalah suatu pergabungan sistem-sistem organis, didalam mana proses-proses chemis berjalan, dan secara tetap mengalami perubahan-perubahan. Tubuh ini keadaannya seperti Servomechanisme, karena apabila sesuatu bagiannya mengalami gangguan, maka keseluruhannya merasakan akibatnya. Kemampuan dan kecenderungan badan, yang selalu akan kembali ke keseimbangannya yang normal, atau ke garis basisnya, dikenal dengan istilah Homeostasis.
Untuk memelihara agar badan dan jiwa, berkeadaan harmonis, menurut ajaran Agama Buddha, diperlukan persyaratannya, yang berupa dicapainya kesehatan di bidang physik (= Jasmaniah), Emosional (= Perasaan), dan Mental (= Fikiran), yang dapat dicapai dengan melalui pelaksanaan Meditasi.
Keseimbangan tubuh, perasaan, dan fikiran, dapat diperoleh dengan jalan mempraktekkan Ajaran Kesusilaan (= atau Kebajikan = Virtus), yaitu bagian Utama yang Pertama dari Ajaran Delapan Jalan Utama. Ajaran Kesusilaan atau Kebajikan ini, diuraikan didalam naskah suci Visuddhimagga, berupa : menghindari berbuat jahat, ber-kemauan-baik, dan tidak serakah. Adapun sifat-sifat yang mengganggu tercapainya Kebaikan, adalah : kemarahan, kejahilan, hypocrisy, kegiatan merangsang orang-orang lain untuk berlaku berang, iri-hati atau cemburu, suka mengakali atau mendustai orang lain, suka mengganggu orang lain, kesombongan, kebangaan-diri, suka bermalas-malasan, suka memenuhi godaan hawa-nafsu, membiarkan dirinya ketagihan akan kenikmatan mulut dan lidah, suka berbicara kotor dan kasar, dan tidak berusaha mengekang kegiatan indria-indria yang mengarah ke pemuas hawa-nafsu. Keadaan-keadaan atau sifat-sifat yang meng-counter-aksi, atau yang berlawanan dengan sifat-sifat negatif tersebut dimuka itu, dapat menjadi penyebab tercapainya kebajikan atau kesusilaan.
Sesuatu dari keadaan-keadaan atau sifat-sifat yang negatif tersebut dimuka, itu menghasilkan perubahan-perubahan didalam keseimbangan blochemis dari badan. Makin tidak seimbang keadaan diri, atau tubuh seseorang, menjadi makin banyak dikeluarkan substansi-substansi neuro-transmitter, sebagai misalnya Acetylcline, Scrotonin dan Epinefrin. Zat-zat tersebut menyebabkan lalu dihasilkan banyak type-type effek, yang bermacam-macam, terhadap organ-organ tubuh, sebagai misalnya pada kelenjar buntu thyroid, adrenal cortex, saluran-saluran pencernaan makanan dan pada organ-organ seksual. Misalnya, apabila seseorang berang, maka kemarahan atau agitasinya yang dialaminya itu menyebabkan dihasilkannya Epinefrin, yang selanjutnya ini mengakibatkan tekanan darahnya naik, dan output cardialnya, serta konsumsi oxygennya menjadi makin bertambah.
Keadaan lainnya yang kita alami adalah rasa takut dan kecemasan. Selama orang mengalami ketakutan dan kecemasan, lebih banyak jumlah acid yang dikeluarkan dari pada yang biasa, terhadap saluran-saluran pencernaan makanan, hal ini selanjutnya mengakibatkan membran-nya terkena serangan acid dalam jumlah yang banyak, dan sebagai hasilnya orangnya menderita penyakit ulcer, atau mengalami luka pada ususnya.
Keadaan ketegangan syaraf yang berlangsung lama, telah diketahui menjadi sebab rusaknya sistem syaraf autonomis, didalam cara yang sedemikian rupa, sehingga mempengaruhi peristalsis, secara negatif, yang menjadikan rusaknya fungsi-fungsi pencernaan makanan dan pengeluaran kotor-kotoran dari tubuh. Hal tersebut mengakibatkan penyakit sembelit (= tidak dapat buang air besar) dan peracunan terhadap dirinya sendiri, dan keadaan ini mempengaruhi kesehatan physik, emosional, dan mental, dari orang yang bersangkutan, yaitu mengalami penyimpangan fungsi dari yang sewajarnya.
Dari uraian tersebut diatas, kiranya dapat kita mengerti mengapa Sang Buddha menggaris-bawahi praktek kebajikan, atau kesusilaan, sebagai syarat penting untuk keberhasilan meditasi. Praktek meditasi tidak mungkin berhasil, apabila badan jasmani, emosi, dan fikiran, seseorang, mengalami gangguan. Seseorang yang mempraktekkan kebajikan, atau kesusilaan, akan dapat melaksanakan meditasi secara sukses, dapat menghilangkan gangguan-gangguannya, dan dapat berkontemplasi (= bermeditasi) terhadap realitas, dan akhirnya dapat mencapai Kebebasan (bebas dari mengalami penderitaan). Ketiga tujuan utama ini dapat dicapai dengan melaksanakan Ke-Empat Jhana.
Sama keadaannya bahwa didalam ilmu pengetahuan, itu pencapaian tujuan diperoleh secara setapak demi setapak dan secara methodis, demikian juga pencapaian tujuan Agama Buddha, didalam meditasi, itu dicapai secara setingkat demi setingkat dan secara hirahis, serta erat sekali kaitannya dengan keadaan dari tubuh physiknya.
Dimilikinya kemampuan dapat bermeditasi dengan sikap badan yang baik dan teguh, dapatnya diatur fikirannya secara mantap, tanpa mengalami teralihkan perhatiannya kesana-kemari, dan telah dapatnya berkonsentrasi secara mendalam, adalah persyaratan utama untuk meditasi yang baik. Sang Buddha memuji tinggi-tinggi methode yang dapat menghasilkan ketenangan, melalui pemusatan perhatian terhadap pernapasan, dengan jalan mana, Beliau sendiri telah dapat mencapai Penerangan Sempurna.
Para penyelidik modern telah menemukan fakta bahwa seseorang yang sedang bermeditasi itu mengalami menjadi lambatnya kecepatan pernapasannya; konsumsi oxygen menjadi berkurang sekitar 20 %, dan output Co2-nya mengalami penurunan pula.
Effek-effek, akibat-akibat, physiologis, yang berupa pengurangan kecepatan metabolisme, diungkapkan pula; juga dicatat berkurangnya lactic acid didalam darah, yang dalam waktu yang bersamaan nampak naiknya didalam pH dan berkurangnya response Galvanic yang berhubungan dengan kulit, sewaktu orang melakukan meditasi.
Dengan telah diatasinya hambatan-hambatan, yang menghasilkan keadaan tenangnya physik dan mentalnya, bersama-sama dengan makin berhasilnya praktek meditasi, maka Jhana yang pertama tercapai. Keadaan tak berkeinginan (keinginan tingkatan rendah) ini berhubungan dengan telah dapat dikontrolnya secara mutlak alam wujud-wujud (= plane of form). Transisi permulaan untuk mencapai kemahiran dalam berkelana di Jalan Suci ini, dikatakan merupakan tugas yang paling berat.
Setelah dapat mencapai tingkatan Jhana Yang Pertama, Sang Jhani berusaha untuk mencapai penguasaan atas alam-alam mental. Jhana Yang Ke-Dua ini berhubungan dengan kekuatan untuk berkonsentrasi, yaitu kemampuan memusatkan konsentrasinya pada kekuatan-kekuatan mental. Ini dikenal dengan istilah Ekkagatha, atau Pemusatan Fikiran pada Satu Titik.
Orang dapat membayangkan betapa hebat kekuatan yang dicapai oleh seseorang yang telah dapat bermeditasi yang berlangsung lama dan mantap, atas otaknya dan atas reaksi-reaksi biochemisnya, kalau kita ketahui bahwa menurut ilmu pengetahuan, latihan meditasi yang biasa dan berlangsung singkat saja, telah dapat mengubah objek didalam eksperimen yang telah dilakukan.
Pada WCLA Berkley di tahun 1964, laboratori yang khusus, telah dapat mengungkapkan bahwa apabila makin diperkaya lingkungan-sekitar belajarnya seseorang, maka akan makin berkembang dan makin teballah lapisan-lapisan cortex, yang yang mengakibatkan makin besarnya aktivitas total dari kedua enzym otak. Makin kayanya lingkungan sekitar belajar itu juga menghasilkan cel-cel yang lebih besar.
Adalah merupakan pengetahuan yang sifatnya umum fikiran yang terkonsetrasikan dan jiwa yang tenang itu menghasilkan gelombang-gelombang yang sifatnya tertentu. Keadaan ketenangan jiwa ini dapat diketahui sifatnya dan dapat diusahakan dipertahankan keadaannya, melalui alat-alat bio-feadback.
Aktivitas-aktivitas mental itu dikenal mempengaruhi produksi dari RNA, yang erat hubungannya dengan protein syntehsis. Keduanya, RNA dan molekul-molekul protein menyarankan kepada orang, untuk berkesimpulan bahwa itu berhubungan dengan ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Keadaan mental selama orang melaksanakan meditasi, itu dapat mempengaruhi produksinya type khusus dari RNA dan protein-protein. Dr. Penfield didalam penyelidikannya mengenai perangsangan terhadap otak telah menunjukkan bahwa perangsangan pada otak itu dapat menyebabkan timbulnya kembali pengalaman-pengalaman di masa yang lampau, yang caranya adalah dengan mengadakan rangsangan elektris terhadap otak. Didalam cara yang sama, seorang Jhani dengan kekuatan konsentrasinya dapat merangsang aktivitas elektris didalam sesuatu bagian dari otak, yang mengakibatkan dapat menimbulkan kembali ingatan-ingatan. Karena makhluk-makhluk hidup itu telah ada sejak waktu yang permulaannya tidak diketahui, maka adalah mungkin untuk mengambil kesimpulan bahwa masalah pemanggilan kembali ingatan-ingatan kehidupan di masa-masa yang lampau itu dapat dicapai oleh seseorang yang telah mampu memiliki Tingkatan Jhana yang Ke-Dua, melalui mechanisme jasmaniah.
Jhana tingkat Ke-Tiga adalah keadaan didalam mana Sang Jhani berada didalam Ketenangan dan Keadaan Bersikap Adil. Dia memandang dengan tenang dan tidak berat sebelah, maupun tanpa kehilangan kewaspadaan dalam pengamatan terhadap benda-benda, atau hal-hal, sewaktu benda-benda, atau hal-hal, itu muncul dan lenyap. Dia ada didalam pemilikan energi yang berkeadaan seimbang. Dia tidak berkeadaan sangat tegang, maupun tidak terlalu santai, dan dia ber-eksistensi seperti sebuah molekul didalam keadaan dasar dari energi. Didalam keadaan ini, proses badan seseorang membutuhkan sejumlah energi yang sedikit saja, dan orangnya dapat merasa puas atas fungsi chemis utamanya, dari kehidupannya, yang dapat meminimkan, membuat sesedikit mungkin, entropi pada dirinya. Entropi adalah ukuran ketidak-teraturan atau kekacauan, dan fungsi-fungsi tubuhnya, yang mencakup perasaannya, dan fikirannya. Sang Jhani didalam keadaan yang demikian itu, telah bebas dari kegelisahan, kecemasan dan ke-agitasi-an, atau keadaan ingin marah atau menjadi berang.
Setelah dapat mencapai Tingkatan Jhana Yang Ke-Empat, seorang Jhani berada didalam keadaan kemurniaan badan, perasaan, dan fikiran, disertai dengan pemilikan kemampuan bersikap penuh kewaskitaan dan ketenangan serta keadilan. Dengan telah berhentinya, atau telah bebasnya orang, dari penderitaan dan kenikmatan, keduanya, baik badan jasmaninya maupun mentalnya, akhirnya dia dapat mencapai bebas dari keterikatan secara tuntas, dan berada didalam keadaan yang bebas, atau telah mencapai Kebebasan Spiritual.
Saya akan mengakhiri uraian dari artikel saya ini, dengan contoh-contoh ilmiah, yang ada hubungannya dengan masalah meditasi. Telah diketahui oleh ilmu pengetahuan bahwa transmisi neural (penyampaian getaran elektris pada syaraf) itu dipengaruhi oleh keberadaan ion-ion calcium. Getaran-getaran electromagnetis dari sekitar 7 hingga 13 cyclus per detik dihasilkan orang, selagi dia melakukan meditasi. Apabila getaran-getaran electromagnetis dari frekwensi yang tersebut diatas itu disentuhkan pada otak, akan terdapat aliran sejumlah banyak calcium, dari syaraf-syaraf cel-cel membran. Eksperimen mengenai ruang, yang dilakukan pada akhir-akhir ini, yang dilakukan oleh para astronaut didalam keadaan diperpanjangnya keadaan tanpa bobot, di angkasa luar, telah lebih memperbesar rasa atau penghayatan keagamaan, lebih banyak dari pada penghayatan pengalaman spiritual.
Makin banyaknya dibebaskannya ion-ion calcium, yang disebabkan oleh decalcifikasinya tulang-tulang, itu mengakibatkan, ion-ion calcium beredar didalam aliran darah, yang memungkinkannya hingga sampai di otak.
Adalah merupakan hal yang masuk akal, kalau kita mengambil kesimpulan bahwa keduanya, yaitu pengalaman spiritual dari sang meditator dan para astronanut didalam keadaan tanpa bobot, itu dapat dilacak kepada phenomena physiologis, yang sama, yaitu perubahan ikatan calcium didalam sistem neurologis.
Sebagai ringkasan dari yang telah saya kemukakan dimuka, saya telah menunjukkan didalam artikel ini, bahwa walaupun waktu penyampaiannya berkeadaan berbeda, namun apa yang diajarkan oleh Sang Buddha itu bersifat ilmiah. Tujuan dari keduanya, baik Agama Buddha, maupun Ilmu Pengetahuan, adalah untuk menemukan hukum-hukum alam, dan akhirnya, dengan mengikuti tehnik-tehnik yang tepat, orang dapat mencapai yang menjadi tujuannya, sesuai dengan yang telah diramalkannya.
Sang Buddha telah bersabda sebagai berikut : "Lakukanlah Ehipassako! Datang dan lihatlah dengan mata kepala anda sendiri! Dan terimalah pesan dari artikel ini : "Ber-Meditasi-lah! Ber-Eksperimen-lah! Dan hayatilah Ajaran-Ajaran dari Buddha Dhamma!".
http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=898&multi=T&hal=0
Read more...
Hukum Karma
Sang Buddha bersabda : " Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan Anda peroleh. Pelaku kebaikan akan mengumpulkan kebaikan. Pelaku keburukan, memperoleh keburukan. Jika Anda menanamkan benih yang baik, maka Anda menikmati buah yang baik." (Samyutta Nikaya I, 227).
Ketika seseorang sedang bahagia dan bersuka cita, dia cenderung menilai hidup ini menyenangkan. Tetapi jika seseorang sedang menderita, maka dia akan menilai hidup ini sangat sulit, sehingga dia akan mulai mencari alasan dan cara untuk menanggulangi kesulitan tersebut.
Kita cenderung bertanya, kenapa ada yang dilahirkan miskin dan menderita, sedangkan yang lainnya dilahirkan dalam berbagai keberuntungan. Kita merasa tidak mampu untuk bisa hidup sebagaimana yang diidamkan, yaitu mengalami hidup yang selalu bahagia. Sebagian orang percaya bahwa ini karena nasib, kesempatan, atau suatu kekuasaan yang tidak kelihatan diluar pengendalian kita. Akibatnya kita cenderung menjadi bingung dan putus asa. Bagaimanapun Sang Buddha mampu menjelaskan kenapa ada orang yang dilahirkan berbeda keadaannya, dan kenapa sebagian orang lebih beruntung dalam menjalani kehidupan dari yang lainnya.
Sang Buddha mengajarkan, bahwa suatu kondisi yang terjadi sekarang apakah bahagia atau menderita adalah merupakan hasil akumulasi perbuatan yang dilakukan sebelumnya atau disebut karma. Sang Buddha mengatakan bahwa semua makhluk hidup mempunyai karma mereka sendiri, warisan mereka , sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka. Karmalah yang membedakan setiap makhluk hidup itu dalam keadaan rendah atau tinggi.
Karma berasal dari kata Sanskerta [Pali; kamma] yang berarti tindakan, pekerjaan atau perbuatan. Setiap perbuatan, ucapan atau pikiran yang dilakukan dengan suatu tujuan atau niat dapat disebut karma. Karma berarti suatu kehendak atau niat [cetana] yang baik [kusala] dan buruk [akusala]. Setiap tindakan yang kita lakukan apabila berdasarkan suatu niat maka akan menciptakan karma.
Sang Buddha bersabda :"Aku nyatakan, O para Bhikkhu, bahwa niat [cetana] itulah Kamma, dengan niat seseorang bertindak melalui badan jasmani, ucapan dan pikiran." (Anguttara Nikaya III,I-117).
Dengan kata lain, Karma merupakan suatu hukum moral sebab-akibat, suatu hukum alam dimana menjelaskan bahwa setiap tindakan akan membuahkan hasil tindakan tertentu atau buah karma [karma vipaka] . Sehingga apabila seseorang melakukan perbuatan mulia seperti memberikan sumbangan kepada suatu yayasan kemanusiaan, maka dia akan merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu perbuatan yang tercela, misalnya membunuh makhluk hidup, maka dia akan merasakan penderitaan. Sehingga dapat disimpulkan, akibat dari perbuatan karma sebelumnya menentukan keberadaan orang tersebut pada kehidupan saat ini. Karma dapat dikategorikan menurut matangnya, yaitu karma yang matang pada kehidupan ini, karma yang matang pada kehidupan berikutnya dan karma yang matang pada beberapa kehidupan yang akan datang.
Sang Buddha bersabda : " Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatan jahatnya telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk. Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah perbuatan bajiknya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik." (Dhammapada, 119 - 120 ).
Tiga komponen yang merupakan pelaku utama karma adalah tubuh fisik, ucapan dan pikiran. Contoh karma yang dilakukan oleh tubuh fisik, yaitu membunuh, mencuri dan berjinah. Contoh karma yang dilakukan oleh ucapan, yaitu berbohong, membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, memfitnah dan berbicara kasar. Sedangkan contoh karma yang dilakukan oleh pikiran adalah keserakahan, kebencian dan khayalan. Karma dapat dibedakan atas karma yang bermanfaat, karma yang tidak bermanfaat dan karma yang bukan bermanfaat maupun tidak bermanfaat.
Akibat dari karma buruk adalah tumimbal lahir di tiga alam penderitaan (neraka, hantu kelaparan dan binatang). Contoh karma buruk yang dapat menyebabkan seseorang terlahir di alam neraka antara lain: membunuh orangtua kandung, membunuh orang suci/ Arahat/ Bodhisattva, dan melukai Buddha. Sedangkan akibat dari karma baik adalah tumimbal lahir di alam manusia atau surga. Sedangkan para Buddha, Arahat dan Bodhisattva yang sudah mencapai Pencerahan Sempurna memperoleh karma tidak bergerak, namun Bodhisattva yang karena welas-asihnya untuk menyeberangkan semua makhluk yang menderita dapat saja bertumimbal lahir lagi di alam manusia .
Sebab utama timbulnya karma adalah karena ketidak-tahuan [avidya/avijja] atau ketidak-mampuan untuk memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Nafsu keinginan [tanha] juga merupakan akar timbulnya karma. Perbuatan seseorang walaupun dilandasi oleh tiga akar kebajikan yaitu kedermawan [alobha], kehendak baik [adosa] dan pengetahuan [amoha], tetap dapat dianggap sebagai karma karena dua unsur penyebab karma yaitu ketidak-tahuan dan keinginan masih melekat dalam dirinya. Hanya perbuatan baik dari Jalan Kesadaran [maggacitta] yang dapat dipandang sebagai proses untuk menghancurkan akar sebab-akibat karma tersebut.
Apakah Kita Harus Pasrah Terhadap Karma?
Pemuda Subha menghadap Sang Buddha untuk menanyakan perbedaan nyata di antara umat manusia, "Apakah alasannya dan sebabnya, o Guru, kita jumpai di antara umat manusia ada yang berumur pendek dan berumur panjang, berpenyakit dan sehat, jelek dan rupawan , tak berpengaruh dan berpengaruh, miskin dan kaya, hina dan mulia, dungu dan bijaksana."
Sang Buddha bersabda : "Semua mahluk hidup mempunyai karma sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka. Karma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi." (Majjhima Nikaya, Cullakammavibhanga Sutta, 135)
Membaca uraian di atas tentang karma seolah-olah mencerminkan bahwa manusia itu haruslah pasrah dan menerima keadaan hidupnya. Di satu sisi memang mencerminkan kenyataan tersebut, namun dalam sudut pandang yang optimis, tidaklah seharusnya demikian. Sebagai manusia duniawi [prthagjana/puthujjana] , tentunya sangat sulit untuk kita dapat seluruhnya terbebas dari suatu perbuatan baik ataupun buruk. Meskipun kita merupakan tuan dari karma kita sendiri tetapi terbukti bahwa adanya faktor yang meniadakan atau yang menunjang berbuahnya karma yang dapat juga dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan, kebiasaan, usaha yang tekun dan konsentrasi pikiran yang baik.
Dalam kehidupan Buddha Gautama juga tercatat banyak penjahat dan bahkan pelacur yang karena `dicerahkan' oleh Yang Telah Tercerahkan, maka seketika dapat mencapai tingkat kesucian batin tertentu.
Sang Buddha Mencerahkan
Angulimala, seorang perampok jalanan dan pembunuh yang mempunyai hobby koleksi kelingking manusia yang dibunuhnya, pada suatu saat bertemu Sang Buddha dan bermaksud menggenapkan koleksinya menjadi 1000 buah. Maka diapun menghadang Sang Buddha dan bermaksud membunuhNya. Angulimala yang terkenal lincah dalam bergerak, tetap tidak bisa menyentuh tubuh Sang Buddha yang kelihatan sama sekali tidak bergeming. Karena kecapaian, akhirnya Angulimala bertanya kenapa Sang Buddha bisa bergerak begitu cepat, yang oleh Sang Buddha dijawab, "Wahai Angulimala, Aku sudah dari tadi tidak bergerak, engkaulah yang masih terus bergerak." Angulimala yang mendengarkan perkataan Sang Buddha ini akhirnya berubah seketika dan menjadi pengikut Sang Buddha yang mampu mencapai tingkat Arahat.
Alavaka, setan yang kejam yang hobby memakan daging manusia, sesudah bertemu Sang Buddha dapat menghentikan kebiasaan memakan daging dan mencapai tingkat kesucian pertama.
Ambapali, seorang pelacur dapat terbersihkan pembawaannya setelah bertemu Sang Buddha dan mencapai tingkat Arahat.
Contoh-contoh tersebut di atas memperlihatkan bahwa betapa besarnya Kasih Sayang seorang Yang Telah Tercerahkan, mampu membimbing dan memberikan `Pencerahan Seketika' kepada setiap makhluk hidup . Dalam tradisi Buddhisme Tantrayana/Vajrayana Tibet dan beberapa aliran spiritual yang diturunkan dari India oleh para Satguru, menganut hubungan spiritual guru dan murid, juga dipercayai adanya kemampuan seorang guru Yang Telah Tercerahkan untuk menciptakan kondisi, menarik atau mematangkan karma perintang seorang murid yang terakumulasi dari kehidupan sebelumnya, dengan tujuan agar murid bersangkutan tidak mengalami rintangan karma dalam kehidupan spiritualnya saat ini untuk mencapai pencerahan. Ajaran Sang Buddha yang bersifat esoterik (rahasia) sebagaimana yang dianut oleh tradisi Buddhisme Tantrayana/Vajrayana memungkinkan hal ini dilakukan, baik melalui suatu upacara pengangkatan (inisiasi) hubungan guru dan murid ataupun melalui cara meditasi dan pembacaan mantra. Terlepas dari itu semua, kepercayaan [sraddha/saddha] tetap memegang peranan penting.
Proses Bekerjanya Karma
Memang proses bekerjanya karma tidak dapat kita amati atau dibuktikan secara ilmiah, namun prinsip bahwa kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tanam itulah yang penting untuk kita renungkan. Proses bekerjanya karma hanyalah dapat dipahami sepenuhnya oleh seorang Buddha atau Yang Telah Tercerahkan.
Untuk mengetahui karma dari kelahiran kita sebelumnya, maka renungkanlah berbagai kejadian baik berupa penderitaan [dukkha] ataupun kebahagiaan [sukkha] yang menimpa kita dalam kehidupan saat ini. Sehingga kita tidak tersudut ke dalam suatu kondisi dimana kita harus mencela orang lain sewaktu menderita ataupun terlalu menjunjung orang lain sewaktu kita berbahagia. Karma yang berbuah dalam kehidupan ini apakah menghasilkan kebahagiaan ataupun penderitaan haruslah kita syukuri sebagai makin berkurangnya timbunan karma kita sehingga makin terbukalah peluang untuk kita keluar dari arus kelahiran dan kematian. Namun demikian kitapun tidak perlu terjebak pada sikap pesimistik dengan menyalahkan kehidupan sebelumnya yang menciptakan karma buruk pada kehidupan saat ini karena Buddhisme tidak mengajarkan fatalisme yaitu suatu sikap yang menyalahkan segala sesuatu kejadian sebagai kodrat, takdir ataupun nasib. Buddhisme mengajarkan suatu tuntunan buat kita untuk melihat kehidupan saat ini sebagai alam kehidupan yang memungkinkan manusia untuk berlatih diri keluar dari lingkaran kehidupan dan kematian.
Untuk memahami kondisi bekerjanya karma sebagai suatu Hukum Sebab Akibat, kita dapat memulainya dengan mengenali adanya hukum yang bekerja di alam semesta ini. Dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Dighanikaya Atthakatha II-432, dapat ditemui adanya Lima Hukum Alam [Pancaniyama Dhamma] , yaitu :
1. Rtu Niyama [Utu Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan suhu, contohnya gejala timbulnya angin dan hujan, bergantinya musim, perubahan iklim, sifat panas, dan sebagainya.
2. Bija Niyama, yaitu hukum sebab-akibat mengenai biji-bijian, contohnya sesawi berasal dari biji sesawi, gula berasal dari tebu, dan sebagainya.
3. Karma Niyama [Kamma Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan perbuatan, contohnya perbuatan baik akan menghasilkan akibat baik, dan perbuatan buruk akan menghasilkan akibat buruk.
4. Citta Niyama, yaitu hukum sebab-akibat yang berkiatan dengan hasil pikiran, misalnya proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat kesadaran, kekuatan batin, telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan mengingat hal-hal yang telah terjadi, dan sebagainya.
5. Dharma Niyama [Dhamma Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan gravitasi, berupa gejala alam yang menandai akan terlahirnya atau meninggalnya seorang Bodhisattva ataupun seorang Buddha.
Hukum Karma [Kamma Niyama] merupakan salah satu dari Hukum Alam tersebut di atas yang terjadi karena prinsip Hukum Sebab dan Akibat, dimana setiap suka ataupun duka pasti ada penyebabnya. Tiada sebab maka tiada akibat. Segala penderitaan akan dapat dihindari apabila dapat diketahui sebabnya. Penyebab tunggal dari segala bentuk penderitaan adalah kemelekatan terhadap nafsu keinginan duniawi.
Terdapat cukup banyak cara menggolongkan Hukum Karma, dan berikut disampaikan beberapa jenis penggolongan Hukum Karma tersebut.
Menurut masa berlakunya, dapat diurut sebagai berikut :
1. Karma yang berlaku segera [ditthadhammavedaniya kamma]
2. Karma yang berlaku sesudahnya [upapajjavedaniya kamma]
3. Karma yang berlaku untuk jangka waktu tidak terbatas [aparapariyavedaniya kamma]
4. Karma yang kadaluarsa [ahosi kamma]
Menurut fungsinya [kicca] karma, maka dapat digolongkan atas :
1. Karma penghasil [janaka kamma]
2. Karma penunjang [upatthambaka kamma]
3. Karma pelemah [upapidaka kamma]
4. Karma penghancur [upaghataka kamma]
Sedangkan penggolongan karma menurut urutan akibatnya [vipakadanavasena], dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Karma yang berat [garuka kamma]
2. Karma menjelang kematian [asanna kamma]
3. Karma kebiasaan [acinna kamma]
4. Karma yang bertimbun [katatta kamma]
Beberapa perbuatan berikut akan menghasilkan karma baik:
1. Selalu bersifat kedermawanan [dana]
2. Menjaga moralitas yang baik [sila]
3. Senantiasa melakukan meditasi [bhavana]
4. Melakukan penghormatan [apacayana]
5. Pengabdian yang mendalam [veyyavacca]
6. Senantiasa mengirim jasa kepada makhluk yang menderita [pattidana]
7. Berbahagia atas perbuatan baik dari pihak lain [anumodana]
8. Mendengarkan Dharma [dhammasavana]
9. Membabarkan Dharma [dhammadesana]
10. Meluruskan pandangan salah [ditthijjukamma]
Sebagai Buddhis yang mempercayai hukum karma maka kita tidak perlu mencela orang lain yang melakukan perbuatan paling jahat sekalipun, karena selain mereka juga akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, juga mereka tidak akan dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya sendiri.
Sang Buddha bersabda : " Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun, juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya. " (Dhammapada, 127). Read more...
Ketika seseorang sedang bahagia dan bersuka cita, dia cenderung menilai hidup ini menyenangkan. Tetapi jika seseorang sedang menderita, maka dia akan menilai hidup ini sangat sulit, sehingga dia akan mulai mencari alasan dan cara untuk menanggulangi kesulitan tersebut.
Kita cenderung bertanya, kenapa ada yang dilahirkan miskin dan menderita, sedangkan yang lainnya dilahirkan dalam berbagai keberuntungan. Kita merasa tidak mampu untuk bisa hidup sebagaimana yang diidamkan, yaitu mengalami hidup yang selalu bahagia. Sebagian orang percaya bahwa ini karena nasib, kesempatan, atau suatu kekuasaan yang tidak kelihatan diluar pengendalian kita. Akibatnya kita cenderung menjadi bingung dan putus asa. Bagaimanapun Sang Buddha mampu menjelaskan kenapa ada orang yang dilahirkan berbeda keadaannya, dan kenapa sebagian orang lebih beruntung dalam menjalani kehidupan dari yang lainnya.
Sang Buddha mengajarkan, bahwa suatu kondisi yang terjadi sekarang apakah bahagia atau menderita adalah merupakan hasil akumulasi perbuatan yang dilakukan sebelumnya atau disebut karma. Sang Buddha mengatakan bahwa semua makhluk hidup mempunyai karma mereka sendiri, warisan mereka , sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka. Karmalah yang membedakan setiap makhluk hidup itu dalam keadaan rendah atau tinggi.
Karma berasal dari kata Sanskerta [Pali; kamma] yang berarti tindakan, pekerjaan atau perbuatan. Setiap perbuatan, ucapan atau pikiran yang dilakukan dengan suatu tujuan atau niat dapat disebut karma. Karma berarti suatu kehendak atau niat [cetana] yang baik [kusala] dan buruk [akusala]. Setiap tindakan yang kita lakukan apabila berdasarkan suatu niat maka akan menciptakan karma.
Sang Buddha bersabda :"Aku nyatakan, O para Bhikkhu, bahwa niat [cetana] itulah Kamma, dengan niat seseorang bertindak melalui badan jasmani, ucapan dan pikiran." (Anguttara Nikaya III,I-117).
Dengan kata lain, Karma merupakan suatu hukum moral sebab-akibat, suatu hukum alam dimana menjelaskan bahwa setiap tindakan akan membuahkan hasil tindakan tertentu atau buah karma [karma vipaka] . Sehingga apabila seseorang melakukan perbuatan mulia seperti memberikan sumbangan kepada suatu yayasan kemanusiaan, maka dia akan merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu perbuatan yang tercela, misalnya membunuh makhluk hidup, maka dia akan merasakan penderitaan. Sehingga dapat disimpulkan, akibat dari perbuatan karma sebelumnya menentukan keberadaan orang tersebut pada kehidupan saat ini. Karma dapat dikategorikan menurut matangnya, yaitu karma yang matang pada kehidupan ini, karma yang matang pada kehidupan berikutnya dan karma yang matang pada beberapa kehidupan yang akan datang.
Sang Buddha bersabda : " Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatan jahatnya telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk. Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah perbuatan bajiknya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik." (Dhammapada, 119 - 120 ).
Tiga komponen yang merupakan pelaku utama karma adalah tubuh fisik, ucapan dan pikiran. Contoh karma yang dilakukan oleh tubuh fisik, yaitu membunuh, mencuri dan berjinah. Contoh karma yang dilakukan oleh ucapan, yaitu berbohong, membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, memfitnah dan berbicara kasar. Sedangkan contoh karma yang dilakukan oleh pikiran adalah keserakahan, kebencian dan khayalan. Karma dapat dibedakan atas karma yang bermanfaat, karma yang tidak bermanfaat dan karma yang bukan bermanfaat maupun tidak bermanfaat.
Akibat dari karma buruk adalah tumimbal lahir di tiga alam penderitaan (neraka, hantu kelaparan dan binatang). Contoh karma buruk yang dapat menyebabkan seseorang terlahir di alam neraka antara lain: membunuh orangtua kandung, membunuh orang suci/ Arahat/ Bodhisattva, dan melukai Buddha. Sedangkan akibat dari karma baik adalah tumimbal lahir di alam manusia atau surga. Sedangkan para Buddha, Arahat dan Bodhisattva yang sudah mencapai Pencerahan Sempurna memperoleh karma tidak bergerak, namun Bodhisattva yang karena welas-asihnya untuk menyeberangkan semua makhluk yang menderita dapat saja bertumimbal lahir lagi di alam manusia .
Sebab utama timbulnya karma adalah karena ketidak-tahuan [avidya/avijja] atau ketidak-mampuan untuk memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Nafsu keinginan [tanha] juga merupakan akar timbulnya karma. Perbuatan seseorang walaupun dilandasi oleh tiga akar kebajikan yaitu kedermawan [alobha], kehendak baik [adosa] dan pengetahuan [amoha], tetap dapat dianggap sebagai karma karena dua unsur penyebab karma yaitu ketidak-tahuan dan keinginan masih melekat dalam dirinya. Hanya perbuatan baik dari Jalan Kesadaran [maggacitta] yang dapat dipandang sebagai proses untuk menghancurkan akar sebab-akibat karma tersebut.
Apakah Kita Harus Pasrah Terhadap Karma?
Pemuda Subha menghadap Sang Buddha untuk menanyakan perbedaan nyata di antara umat manusia, "Apakah alasannya dan sebabnya, o Guru, kita jumpai di antara umat manusia ada yang berumur pendek dan berumur panjang, berpenyakit dan sehat, jelek dan rupawan , tak berpengaruh dan berpengaruh, miskin dan kaya, hina dan mulia, dungu dan bijaksana."
Sang Buddha bersabda : "Semua mahluk hidup mempunyai karma sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka. Karma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi." (Majjhima Nikaya, Cullakammavibhanga Sutta, 135)
Membaca uraian di atas tentang karma seolah-olah mencerminkan bahwa manusia itu haruslah pasrah dan menerima keadaan hidupnya. Di satu sisi memang mencerminkan kenyataan tersebut, namun dalam sudut pandang yang optimis, tidaklah seharusnya demikian. Sebagai manusia duniawi [prthagjana/puthujjana] , tentunya sangat sulit untuk kita dapat seluruhnya terbebas dari suatu perbuatan baik ataupun buruk. Meskipun kita merupakan tuan dari karma kita sendiri tetapi terbukti bahwa adanya faktor yang meniadakan atau yang menunjang berbuahnya karma yang dapat juga dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan, kebiasaan, usaha yang tekun dan konsentrasi pikiran yang baik.
Dalam kehidupan Buddha Gautama juga tercatat banyak penjahat dan bahkan pelacur yang karena `dicerahkan' oleh Yang Telah Tercerahkan, maka seketika dapat mencapai tingkat kesucian batin tertentu.
Sang Buddha Mencerahkan
Angulimala, seorang perampok jalanan dan pembunuh yang mempunyai hobby koleksi kelingking manusia yang dibunuhnya, pada suatu saat bertemu Sang Buddha dan bermaksud menggenapkan koleksinya menjadi 1000 buah. Maka diapun menghadang Sang Buddha dan bermaksud membunuhNya. Angulimala yang terkenal lincah dalam bergerak, tetap tidak bisa menyentuh tubuh Sang Buddha yang kelihatan sama sekali tidak bergeming. Karena kecapaian, akhirnya Angulimala bertanya kenapa Sang Buddha bisa bergerak begitu cepat, yang oleh Sang Buddha dijawab, "Wahai Angulimala, Aku sudah dari tadi tidak bergerak, engkaulah yang masih terus bergerak." Angulimala yang mendengarkan perkataan Sang Buddha ini akhirnya berubah seketika dan menjadi pengikut Sang Buddha yang mampu mencapai tingkat Arahat.
Alavaka, setan yang kejam yang hobby memakan daging manusia, sesudah bertemu Sang Buddha dapat menghentikan kebiasaan memakan daging dan mencapai tingkat kesucian pertama.
Ambapali, seorang pelacur dapat terbersihkan pembawaannya setelah bertemu Sang Buddha dan mencapai tingkat Arahat.
Contoh-contoh tersebut di atas memperlihatkan bahwa betapa besarnya Kasih Sayang seorang Yang Telah Tercerahkan, mampu membimbing dan memberikan `Pencerahan Seketika' kepada setiap makhluk hidup . Dalam tradisi Buddhisme Tantrayana/Vajrayana Tibet dan beberapa aliran spiritual yang diturunkan dari India oleh para Satguru, menganut hubungan spiritual guru dan murid, juga dipercayai adanya kemampuan seorang guru Yang Telah Tercerahkan untuk menciptakan kondisi, menarik atau mematangkan karma perintang seorang murid yang terakumulasi dari kehidupan sebelumnya, dengan tujuan agar murid bersangkutan tidak mengalami rintangan karma dalam kehidupan spiritualnya saat ini untuk mencapai pencerahan. Ajaran Sang Buddha yang bersifat esoterik (rahasia) sebagaimana yang dianut oleh tradisi Buddhisme Tantrayana/Vajrayana memungkinkan hal ini dilakukan, baik melalui suatu upacara pengangkatan (inisiasi) hubungan guru dan murid ataupun melalui cara meditasi dan pembacaan mantra. Terlepas dari itu semua, kepercayaan [sraddha/saddha] tetap memegang peranan penting.
Proses Bekerjanya Karma
Memang proses bekerjanya karma tidak dapat kita amati atau dibuktikan secara ilmiah, namun prinsip bahwa kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tanam itulah yang penting untuk kita renungkan. Proses bekerjanya karma hanyalah dapat dipahami sepenuhnya oleh seorang Buddha atau Yang Telah Tercerahkan.
Untuk mengetahui karma dari kelahiran kita sebelumnya, maka renungkanlah berbagai kejadian baik berupa penderitaan [dukkha] ataupun kebahagiaan [sukkha] yang menimpa kita dalam kehidupan saat ini. Sehingga kita tidak tersudut ke dalam suatu kondisi dimana kita harus mencela orang lain sewaktu menderita ataupun terlalu menjunjung orang lain sewaktu kita berbahagia. Karma yang berbuah dalam kehidupan ini apakah menghasilkan kebahagiaan ataupun penderitaan haruslah kita syukuri sebagai makin berkurangnya timbunan karma kita sehingga makin terbukalah peluang untuk kita keluar dari arus kelahiran dan kematian. Namun demikian kitapun tidak perlu terjebak pada sikap pesimistik dengan menyalahkan kehidupan sebelumnya yang menciptakan karma buruk pada kehidupan saat ini karena Buddhisme tidak mengajarkan fatalisme yaitu suatu sikap yang menyalahkan segala sesuatu kejadian sebagai kodrat, takdir ataupun nasib. Buddhisme mengajarkan suatu tuntunan buat kita untuk melihat kehidupan saat ini sebagai alam kehidupan yang memungkinkan manusia untuk berlatih diri keluar dari lingkaran kehidupan dan kematian.
Untuk memahami kondisi bekerjanya karma sebagai suatu Hukum Sebab Akibat, kita dapat memulainya dengan mengenali adanya hukum yang bekerja di alam semesta ini. Dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Dighanikaya Atthakatha II-432, dapat ditemui adanya Lima Hukum Alam [Pancaniyama Dhamma] , yaitu :
1. Rtu Niyama [Utu Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan suhu, contohnya gejala timbulnya angin dan hujan, bergantinya musim, perubahan iklim, sifat panas, dan sebagainya.
2. Bija Niyama, yaitu hukum sebab-akibat mengenai biji-bijian, contohnya sesawi berasal dari biji sesawi, gula berasal dari tebu, dan sebagainya.
3. Karma Niyama [Kamma Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan perbuatan, contohnya perbuatan baik akan menghasilkan akibat baik, dan perbuatan buruk akan menghasilkan akibat buruk.
4. Citta Niyama, yaitu hukum sebab-akibat yang berkiatan dengan hasil pikiran, misalnya proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat kesadaran, kekuatan batin, telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan mengingat hal-hal yang telah terjadi, dan sebagainya.
5. Dharma Niyama [Dhamma Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan gravitasi, berupa gejala alam yang menandai akan terlahirnya atau meninggalnya seorang Bodhisattva ataupun seorang Buddha.
Hukum Karma [Kamma Niyama] merupakan salah satu dari Hukum Alam tersebut di atas yang terjadi karena prinsip Hukum Sebab dan Akibat, dimana setiap suka ataupun duka pasti ada penyebabnya. Tiada sebab maka tiada akibat. Segala penderitaan akan dapat dihindari apabila dapat diketahui sebabnya. Penyebab tunggal dari segala bentuk penderitaan adalah kemelekatan terhadap nafsu keinginan duniawi.
Terdapat cukup banyak cara menggolongkan Hukum Karma, dan berikut disampaikan beberapa jenis penggolongan Hukum Karma tersebut.
Menurut masa berlakunya, dapat diurut sebagai berikut :
1. Karma yang berlaku segera [ditthadhammavedaniya kamma]
2. Karma yang berlaku sesudahnya [upapajjavedaniya kamma]
3. Karma yang berlaku untuk jangka waktu tidak terbatas [aparapariyavedaniya kamma]
4. Karma yang kadaluarsa [ahosi kamma]
Menurut fungsinya [kicca] karma, maka dapat digolongkan atas :
1. Karma penghasil [janaka kamma]
2. Karma penunjang [upatthambaka kamma]
3. Karma pelemah [upapidaka kamma]
4. Karma penghancur [upaghataka kamma]
Sedangkan penggolongan karma menurut urutan akibatnya [vipakadanavasena], dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Karma yang berat [garuka kamma]
2. Karma menjelang kematian [asanna kamma]
3. Karma kebiasaan [acinna kamma]
4. Karma yang bertimbun [katatta kamma]
Beberapa perbuatan berikut akan menghasilkan karma baik:
1. Selalu bersifat kedermawanan [dana]
2. Menjaga moralitas yang baik [sila]
3. Senantiasa melakukan meditasi [bhavana]
4. Melakukan penghormatan [apacayana]
5. Pengabdian yang mendalam [veyyavacca]
6. Senantiasa mengirim jasa kepada makhluk yang menderita [pattidana]
7. Berbahagia atas perbuatan baik dari pihak lain [anumodana]
8. Mendengarkan Dharma [dhammasavana]
9. Membabarkan Dharma [dhammadesana]
10. Meluruskan pandangan salah [ditthijjukamma]
Sebagai Buddhis yang mempercayai hukum karma maka kita tidak perlu mencela orang lain yang melakukan perbuatan paling jahat sekalipun, karena selain mereka juga akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, juga mereka tidak akan dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya sendiri.
Sang Buddha bersabda : " Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun, juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya. " (Dhammapada, 127). Read more...
AJARAN AGAMA BUDDHA TENTANG JALAN TENGAH DAN PSYCHOTHERAPY, ATAU PENYEMBUHAN SECARA KEJIWAAN, MENURUT DUNIA BARAT.
By: Shanti Tayal
Tujuan psychotherapy, - atau Ilmu Penyembuhan secara kejiwaan terhadap penderita penyakit jiwa -, yang modern, adalah : menyembuhkan, mengurangi sakit, dan membebaskan penderitaan, karena terkena akibat-akibat dari problema-problema kehidupan, yang dialami oleh orang-orang yang didiagnosa sebagai orang yang menderita penyakit jiwa. Didalam masalah ini, adalah merupakan suatu hal yang bermanfaat, kalau saya kemukakan pertanyaan-pertanyaan, yang memerlukan jawaban-jawaban dari para ahli psychotherapy, yang bunyinya sebagai berikut ini : Apakah psychotherapy itu?. Apakah penyakit jiwa itu?. Apa tehnik-tehnik yang dipergunakan dalam psychotherapy itu?. Apakah tujuan-tujuan dari psychotherapy itu?. Bagaimana cara penyembuhannya?. Sampai sejauh mana keeffektifan penyembuhannya itu?. Dengan kata lain, dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, berarti kita menanyakan masalah keadaan status dari sistem psychotherapy, di Dunia Barat, pada masa sekarang ini.
Suatu peninjauan kembali mengenai definisi-definisi psychotherapy, yang berkembang akhir-akhir ini, nampaknya dikarenakan adanya kebingungan di kalangan para ahli psychotherapy, yang sedang bertugas menelaah masalah-masalah psychotherapy. Semua definisi yang ada, itu mempunyai kesamaan dalam satu hal, yaitu bahwa psychotherapy adalah ilmu yang membicarakan mengenai beberapa jenis cara pemecahan terhadap problema-problema gangguan emosional dan gangguan tingkah-laku. Terdapat perbedaan yang besar mengenai pendapat-pendapat sehubungan dengan masalah tehnik-tehnik dan proses-prosesnya, tujuan-tujuannya dan hasil-hasilnya. Menurut Whitaker dan Malone (1953), psychotherapy itu adalah:
Suatu kegiatan operasional yang bersifat interpersonal, didalam mana adaptasi organismic yang bersifat total dari individu, di-katalisasi-kan, oleh individu lainnya, secara sedemikian rupa, sehingga tingkatan kemampuan meng-adaptasi si pasien mengalami peningkatan.
Definisi dari Wolberg (1954) berkeadaan lebih bersifat deskriptif, dan rumusannya adalah sebagai berikut ini :
Psychotherapy adalah suatu bentuk penanganan terhadap problema-problema yang sifatnya emosional, didalam mana seorang yang telah terlatih secara baik, berusaha untuk membentuk hubungan yang professional dengan pasien, dengan tujuan untuk : melenyapkan, memodifikasi, atau menghambat munculnya symptom-symptom, ikut campur tangan terhadap pola-pola tingkah-laku yang terganggu, dan berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, yang positif, dari pasiennya itu.
Definisi-definisi yang demikian itu, walaupun bersifat komprehensif dan disusun oleh para cendekiawan di bidang psychotherapy, namun tidak dapat menolong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang telah kami kemukakan dimuka tadi. Definisi-definisi yang mereka susun itu lebih banyak mengundang pertanyaan-pertanyaan, dari pada menjawab masalah-masalah. Definisi-nya Wolberg mengatakan bahwa seseorang yang telah terlatih secara profesional di bidang ilmu psychotherapi itu dapat membentuk hubungan dengan orang yang menderita penyakit jiwa: tetapi sama sekali mengenyampingkan pertanyaan-pertanyaan, sebagai misalnya : Apa bentuk penanganan atau penyembuhannya?. Bagaimana corak hubungannya itu?. Dan mengapa hubungan yang telah diadakan itu mampu mengubah tingkah-laku atau mampu melenyapkan penyakitnya?. Bagaimana cara memodifikasi tingkah-laku pasiennya?. Dan bagaimana caranya menghambat munculnya symptom-symptom yang menyakitkan itu?. Pada tahun 1934, setelah mengemukakan pertanyaan-pertanyaan serupa mengenai masalah psychotherapy, Geraldine Coster, mengambil kesimpulan sebagai berikut ini : "Kita heran, mengapa hingga sekarang ini, belum ada seorang pun, yang nampaknya telah mengetahui setepatnya, mengapa suatu penganalisaan di bidang psychotherapy itu dapat dianggap sebagai suatu penyembuhan?". Dan setelah 35 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1969 -, seorang psychiatrist yang bernama Richard Chessick, mengeluh mengenai keadaan psychotherapy pada waktu itu, dengan mengungkapkan pendapatnya itu dengan kata-kata sebagai berikut ini:
Setelah kami kumpulkan banyak pengalaman klinik, dan sesudah kami perdalam dan perluas pengetahuan kami, selama masa bertahun-tahun, kami memperoleh kesimpulan, mengenai keadaan para : psychoterapist, yang kurang menggembirakan, yaitu bahwa mereka hingga sekarang belum dapat menyepakati konsensus bersama, mengenai issue-issue vital tertentu.
Selanjutnya, dia meneruskan mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan bahwa permasalahan tehnik-tehnik dan methode-methode psychotherapy itu benar-benar berkeadaan seperti hutan, dimana tumbuh-tumbuhan yang dapat menjadi obat, dan yang menyehatkan, tumbuh berdampingan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak mendatangkan manfaat, atau bahkan kadang-kadang disitu juga terdapat rumput-rumput yang beracun. Orang menjadi berada didalam keragu-raguan, atau menghadapi dilema, ketika menghadapi kumpulan berbagai pendekatan atau cara penyembuhan, yang nampaknya mengesankan, dari para ahli ilmu jiwa dan psychiatry, sebagai misalnya para penganut Freud, para Neo-Freudian, para pengikut Jung, Adler, sampai ke pengikut aliran psychotherapy yang mempergunakan methode penyembuhan yang dinamai latihan sensitivitas, penyembuhan dalam kelompok, dan methode-methode penyembuhan lainnya lagi. Sistem-sistem penyembuhan tersebut telah memperkembangkan bahasa dan perbendaharaan kata-katanya sendiri, yang dicirikan oleh ambiguitas, cliche-cliche dan abscurantisme. Nampaknya, para ahli psychotherapy itu, berbicara secara tidak jelas, hanya ditujukan kepada dirinya sendiri saja, dan kurang komunikatif.
Kebanyakan dari apa yang telah mereka lakukan didalam psychotherapy, adalah merupakan suatu aktivitas yang steril, yang cenderung memberikan suatu aura, suatu suasana, agar dihormati orang sebagai bersifat ilmiah. Hal-hal yang demikian itu, yang mengganggu semangat ilmiah, cenderung memberikan penampakan bahwa tujuan dari psychotherapy modern itu jelas dan definitif. Pada hal kenyataannya, adalah sebaliknya, yaitu bersifat segmental, berkeadaan terpotong-potong, singkat-singkat keterangannya, dan dangkal, yaitu hanya berdasarkan suatu konsep yang hampir berkeadaan kacau, mengenai tujuan-tujuan dan kehidupan manusia.
Sekalipun demikian, pernyataan yang dilebih-lebihkan dan nampaknya populer dari psychotherapy menurut Dunia Barat itu, apabila kita perhatikan, yang terjadi di Dunia Barat, adalah adanya pertumbuhan ketidakpuasan dan menurunnya semangat, dengan disertai permasalahan-permasalahan dan hasil-hasil yang kurang memuaskan.
Kiranya tidaklah begitu mengherankan, apabila kita dapati begitu banyak orang-orang Barat yang berpaling ke Filsafat-Filsafat, Agama-Agama, dan praktek-praktek Meditasi, yang ada di Dunia Timur. Mereka mendapati fakta bahwa didalam Agama Buddha itu terdapat beberapa kekuatan pendorong kehidupan, dan sifatnya relevant dengan ilmu psychotherapy modern. Mereka melihat bahwa didalam Agama Buddha terdapat suatu Jalan yang aseli, untuk dapat terbebas dari cobaan-cobaan dan pahit getir kehidupan. Sang Buddha mengajarkan cara-cara penyembuhan terhadap penderitaan manusia, yang beliau cantumkan didalam Ilmu-Jiwa Buddhis, yang sifatnya unique, yang berisi uraian mengenai pemahaman terhadap fikiran, hati, dan kemauan pada diri manusia. Sang Buddha juga telah mengajarkan Jalan yang membawa kesembuhan. Jalan, cara kehidupan, tehnik kehidupan, itu dikenal dengan nama Jalan Tengah (= The Middle Way). Sang Buddha telah menunjukkan kepada kita, Jalan tersebut, yang berguna bagi kehidupan banyak orang, yang dapat memberikan kebahagiaan kepada banyak orang, serta yang ajarannya berdasarkan Cinta-Kasih Universal, untuk pencapaian kesejahteraan, dan kemajuan Dunia.
Sang Buddha, didalam khotbah beliau yang pertama, telah menerangkan tentang ajaran beliau yang dinamai Jalan Tengah itu, sebagai berikut ini :
"O, Para Pendeta! Dua hal yang ekstrim ini, hendaklah jangan diikuti oleh orang yang telah berniat untuk menjadi Pengembara (= Pendeta)! Apa yang dua itu!?!. (Yang satu), adalah kehidupan yang mengejar kenikmatan keinderaan, suatu praktek kehidupan yang rendah, yang tidak berharga, yang tidak menguntungkan; (dan yang satunya lagi), adalah kehidupan yang mementingkan penyiksaan tubuh, yang membiarkan tubuh merasa sakit, suatu praktek kehidupan yang tidak berharga, yang tidak menguntungkan.
Dengan jalan menghindari kedua ekstrim tersebut, Sang Tathagata, telah dapat mencapai Jalan-Tengah, yang dapat memberikan vision (Pandangan) yang agung, pengetahuan yang tinggi, ketenteraman, pengetahuan khusus, Penerangan Sempurna, atau Kesadaran Nibbana.
Ajaran Jalan Tengah itu merupakan prinsip yang paling fundamental didalam Agama Buddha. Itu adalah Jalan yang dapat membimbing orang ke pencapaian Tujuan Kehidupan Yang Tertinggi, - yaitu Pencapaian Kesadaran Nirvana. Diagnostic dan therapy-nya Sang Buddha, yang berdasarkan Pandangan-Terang (= Insights) itu nampak dengan jelas didalam ajaran beliau, yang dinamai Empat Kasunyataan Mulia (= The Four Noble Truths), yang terdiri dari :
Kasunyataan Mulia mengenai Penderitaan;
Kasunyataan Mulia mengenai Asal Penderitaan;
Kasunyataan Mulia mengenai Berhentinya atau Lenyapnya Penderitaan; dan
Kasunyataan Mulia mengenai Jalan untuk menghentikan atau melenyapkan Penderitaan.
Prinsip Ke-Empat dari Buddhism, adalah merupakan sarana dengan mana Prinsip Yang Pertama - Duhkha-satya - dikenal dan direalisir; Prinsip Ke-Dua - Samudaya-satya - dikenal dan difahami, dan Prinsip Ke-Tiga Nirodha-satya - diaktualisasikan, dan dengan demikian lalu Nirvana tercapai. Oleh karena itu, ajaran tersebut dinamai Jalan, atau Jalan Mulia : Magga atau Ariya-magga didalam Bahasa Pali-nya, dan Marga atau Arya-marga didalam Bahasa Sanskritnya (Gard, 1961).
Kasunyataan Mulia yang merupakan Jalan yang dapat membimbing orang ke berhentinya atau lenyapnya penderitaan itu, kita temui secara sederhana, tercantum didalam ajaran yang dinamai Jalan Utama Yang Ber-Ruas Delapan (= The Noble Eightfod Path). Jalan Utama Yang Ber-Ruas Delapan ini, dapat kita terapkan didalam kondisi-kondisi kehidupan masa sekarang, dan adalah ajaran yang meyakinkan untuk dapat mencapai kehidupan yang bahagia dan untuk mengadakan penyesuaian-diri secara baik. Ajaran Jalan Utama yang Ber-Ruas Delapan itu, membentuk tiga dasar dari kehidupan dengan mental yang sehat, dan bermanfaat, tidak hanya bagi umat Buddha saja, tetapi juga bagi siapa pun.
(Ajaran Jalan Utama yang Ber-Ruas Delapan, itu dapat dibagi menjadi tiga kelompok, sebagai berikut ini :)
1. TINGKAH LAKU ETHIS.
1. Ber-Bicara Yang Benar.
2. Ber-Aksi Yang Benar.
3. Ber-Mata Pencaharian Yang Benar.
2. DISIPLIN MENTAL.
1. Ber-Usaha Yang Benar.
2. Ber-Perhatian Yang Benar.
3. Ber-Konsentrasi (= Dhyana) - Keinginan-keinginan yang berisi hawa-nafsu lenyap - Aktivitas Intelektual ditekan dan ketenteraman diperkembangkan;- Kegembiraan, - suatu sensasi-, lenyap-, semua sensasi lenyap.
3. KEBIJAKSANAAN (= WISDOM).
1. Ber-Fikir Yang Benar.
2. Ber-Pengertian Yang Benar.
Jalan ini, adalah Jalan Kehidupan, yang sangat bermanfaat untuk diikuti, dipraktekkan, dan diperkembangkan oleh setiap orang. Ajaran ini adalah merupakan Disiplin-Diri; atau, kalau saya boleh menamainya ajaran ini adalah merupakan Therapy-Diri, terhadap: badan, kata-kata, dan fikiran. Ajaran ini merupakan latihan pengembangan-diri yang menyentuh segi-segi dari yang harus kita perkembangkan. Ajaran ini dapat mencegah orang untuk tidak mengalami penyakit-penyakit yang sifatnya kronis, didalam kehidupan. Anda boleh mempercayainya, atau boleh tidak mempercayainya. Anda mungkin tergolong orang yang rajin melaksanakan persembayangan setiap harinya, atau tergolong yang kurang rajin dalam bersembahyang. Anda mungkin tergolong orang yang rajin memuja Tuhan Yang Maha Esa, atau tergolong yang kurang rajin dalam memuja Tuhan Yang Maha Esa. Demikian juga anda mungkin tergolong orang yang rajin dalam mengikuti ceremoni-ceremoni keagamaan, atau tergolong yang kurang rajin dalam mengikuti ceremoni-ceremoni keagamaan.
Jalan ini adalah Jalan Kehidupan yang berisi suatu Pandangan Hidup Yang Benar. Ajaran ini tidak menyarankan agar kita meninggalkan kehidupan duniawi. Yang disarankan adalah agar kita mau memodifikasi pendekatan kita, dan mau memiliki perangkat sikap mental yang baik, terhadap kehidupan dan terhadap lingkungan sekitar kita. Demikianlah, melalui melaksanakan disiplin-disiplin-diri, yang keras, kita telah melangkah di Jalan yang membawa kita ke Realisasi-Diri, atau ke Pencapaian Kesadaran Nirvana.
Suatu Therapy (= Penyembuhan"), itu "kita katakan berhasil, sejauh penyembuhan itu dapat mengurangi keragu-raguan yang terdapat didalam diri pasien, dan dapat memberi keyakinan makin sehatnya tubuhnya, mengurangi penderitaannya yang berupa perasaan kurang-aman-diri-nya didalam bergaul dengan orang-orang lain, serta dapat mendukung kemantapannya didalam menghayati kepercayaan-kepercayaannya, yang bersifat Theo-Philosophis". (Masserman, 1971).
Bibliography
Chessick, Richard D. "How Psychotherapy Helas - The Process of Intensive
Psychotherapy, New York, Science House, 1969
Coster, Geralidine "Yoga and Western Psychology" : A Comparison, London, Oxford
University Press, 1934
Gard, Richard A. (Ed). "Buddhism", New York, George Braziller, 1961.
Masserman, Jules H. "Techniques of Therapy", Science & Psychoanalysis, Vol.
XVIII, New York, Grune & Stratton, 1971
Whitaker, C.& Malone T. "The Roots of Psychotherapy", Philadelphia:
Blakiston 1953.
Wolberg "The Technique of Psychotherapy", New York, Grune &
Stratton, 1954 Read more...
Tujuan psychotherapy, - atau Ilmu Penyembuhan secara kejiwaan terhadap penderita penyakit jiwa -, yang modern, adalah : menyembuhkan, mengurangi sakit, dan membebaskan penderitaan, karena terkena akibat-akibat dari problema-problema kehidupan, yang dialami oleh orang-orang yang didiagnosa sebagai orang yang menderita penyakit jiwa. Didalam masalah ini, adalah merupakan suatu hal yang bermanfaat, kalau saya kemukakan pertanyaan-pertanyaan, yang memerlukan jawaban-jawaban dari para ahli psychotherapy, yang bunyinya sebagai berikut ini : Apakah psychotherapy itu?. Apakah penyakit jiwa itu?. Apa tehnik-tehnik yang dipergunakan dalam psychotherapy itu?. Apakah tujuan-tujuan dari psychotherapy itu?. Bagaimana cara penyembuhannya?. Sampai sejauh mana keeffektifan penyembuhannya itu?. Dengan kata lain, dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, berarti kita menanyakan masalah keadaan status dari sistem psychotherapy, di Dunia Barat, pada masa sekarang ini.
Suatu peninjauan kembali mengenai definisi-definisi psychotherapy, yang berkembang akhir-akhir ini, nampaknya dikarenakan adanya kebingungan di kalangan para ahli psychotherapy, yang sedang bertugas menelaah masalah-masalah psychotherapy. Semua definisi yang ada, itu mempunyai kesamaan dalam satu hal, yaitu bahwa psychotherapy adalah ilmu yang membicarakan mengenai beberapa jenis cara pemecahan terhadap problema-problema gangguan emosional dan gangguan tingkah-laku. Terdapat perbedaan yang besar mengenai pendapat-pendapat sehubungan dengan masalah tehnik-tehnik dan proses-prosesnya, tujuan-tujuannya dan hasil-hasilnya. Menurut Whitaker dan Malone (1953), psychotherapy itu adalah:
Suatu kegiatan operasional yang bersifat interpersonal, didalam mana adaptasi organismic yang bersifat total dari individu, di-katalisasi-kan, oleh individu lainnya, secara sedemikian rupa, sehingga tingkatan kemampuan meng-adaptasi si pasien mengalami peningkatan.
Definisi dari Wolberg (1954) berkeadaan lebih bersifat deskriptif, dan rumusannya adalah sebagai berikut ini :
Psychotherapy adalah suatu bentuk penanganan terhadap problema-problema yang sifatnya emosional, didalam mana seorang yang telah terlatih secara baik, berusaha untuk membentuk hubungan yang professional dengan pasien, dengan tujuan untuk : melenyapkan, memodifikasi, atau menghambat munculnya symptom-symptom, ikut campur tangan terhadap pola-pola tingkah-laku yang terganggu, dan berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, yang positif, dari pasiennya itu.
Definisi-definisi yang demikian itu, walaupun bersifat komprehensif dan disusun oleh para cendekiawan di bidang psychotherapy, namun tidak dapat menolong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang telah kami kemukakan dimuka tadi. Definisi-definisi yang mereka susun itu lebih banyak mengundang pertanyaan-pertanyaan, dari pada menjawab masalah-masalah. Definisi-nya Wolberg mengatakan bahwa seseorang yang telah terlatih secara profesional di bidang ilmu psychotherapi itu dapat membentuk hubungan dengan orang yang menderita penyakit jiwa: tetapi sama sekali mengenyampingkan pertanyaan-pertanyaan, sebagai misalnya : Apa bentuk penanganan atau penyembuhannya?. Bagaimana corak hubungannya itu?. Dan mengapa hubungan yang telah diadakan itu mampu mengubah tingkah-laku atau mampu melenyapkan penyakitnya?. Bagaimana cara memodifikasi tingkah-laku pasiennya?. Dan bagaimana caranya menghambat munculnya symptom-symptom yang menyakitkan itu?. Pada tahun 1934, setelah mengemukakan pertanyaan-pertanyaan serupa mengenai masalah psychotherapy, Geraldine Coster, mengambil kesimpulan sebagai berikut ini : "Kita heran, mengapa hingga sekarang ini, belum ada seorang pun, yang nampaknya telah mengetahui setepatnya, mengapa suatu penganalisaan di bidang psychotherapy itu dapat dianggap sebagai suatu penyembuhan?". Dan setelah 35 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1969 -, seorang psychiatrist yang bernama Richard Chessick, mengeluh mengenai keadaan psychotherapy pada waktu itu, dengan mengungkapkan pendapatnya itu dengan kata-kata sebagai berikut ini:
Setelah kami kumpulkan banyak pengalaman klinik, dan sesudah kami perdalam dan perluas pengetahuan kami, selama masa bertahun-tahun, kami memperoleh kesimpulan, mengenai keadaan para : psychoterapist, yang kurang menggembirakan, yaitu bahwa mereka hingga sekarang belum dapat menyepakati konsensus bersama, mengenai issue-issue vital tertentu.
Selanjutnya, dia meneruskan mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan bahwa permasalahan tehnik-tehnik dan methode-methode psychotherapy itu benar-benar berkeadaan seperti hutan, dimana tumbuh-tumbuhan yang dapat menjadi obat, dan yang menyehatkan, tumbuh berdampingan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak mendatangkan manfaat, atau bahkan kadang-kadang disitu juga terdapat rumput-rumput yang beracun. Orang menjadi berada didalam keragu-raguan, atau menghadapi dilema, ketika menghadapi kumpulan berbagai pendekatan atau cara penyembuhan, yang nampaknya mengesankan, dari para ahli ilmu jiwa dan psychiatry, sebagai misalnya para penganut Freud, para Neo-Freudian, para pengikut Jung, Adler, sampai ke pengikut aliran psychotherapy yang mempergunakan methode penyembuhan yang dinamai latihan sensitivitas, penyembuhan dalam kelompok, dan methode-methode penyembuhan lainnya lagi. Sistem-sistem penyembuhan tersebut telah memperkembangkan bahasa dan perbendaharaan kata-katanya sendiri, yang dicirikan oleh ambiguitas, cliche-cliche dan abscurantisme. Nampaknya, para ahli psychotherapy itu, berbicara secara tidak jelas, hanya ditujukan kepada dirinya sendiri saja, dan kurang komunikatif.
Kebanyakan dari apa yang telah mereka lakukan didalam psychotherapy, adalah merupakan suatu aktivitas yang steril, yang cenderung memberikan suatu aura, suatu suasana, agar dihormati orang sebagai bersifat ilmiah. Hal-hal yang demikian itu, yang mengganggu semangat ilmiah, cenderung memberikan penampakan bahwa tujuan dari psychotherapy modern itu jelas dan definitif. Pada hal kenyataannya, adalah sebaliknya, yaitu bersifat segmental, berkeadaan terpotong-potong, singkat-singkat keterangannya, dan dangkal, yaitu hanya berdasarkan suatu konsep yang hampir berkeadaan kacau, mengenai tujuan-tujuan dan kehidupan manusia.
Sekalipun demikian, pernyataan yang dilebih-lebihkan dan nampaknya populer dari psychotherapy menurut Dunia Barat itu, apabila kita perhatikan, yang terjadi di Dunia Barat, adalah adanya pertumbuhan ketidakpuasan dan menurunnya semangat, dengan disertai permasalahan-permasalahan dan hasil-hasil yang kurang memuaskan.
Kiranya tidaklah begitu mengherankan, apabila kita dapati begitu banyak orang-orang Barat yang berpaling ke Filsafat-Filsafat, Agama-Agama, dan praktek-praktek Meditasi, yang ada di Dunia Timur. Mereka mendapati fakta bahwa didalam Agama Buddha itu terdapat beberapa kekuatan pendorong kehidupan, dan sifatnya relevant dengan ilmu psychotherapy modern. Mereka melihat bahwa didalam Agama Buddha terdapat suatu Jalan yang aseli, untuk dapat terbebas dari cobaan-cobaan dan pahit getir kehidupan. Sang Buddha mengajarkan cara-cara penyembuhan terhadap penderitaan manusia, yang beliau cantumkan didalam Ilmu-Jiwa Buddhis, yang sifatnya unique, yang berisi uraian mengenai pemahaman terhadap fikiran, hati, dan kemauan pada diri manusia. Sang Buddha juga telah mengajarkan Jalan yang membawa kesembuhan. Jalan, cara kehidupan, tehnik kehidupan, itu dikenal dengan nama Jalan Tengah (= The Middle Way). Sang Buddha telah menunjukkan kepada kita, Jalan tersebut, yang berguna bagi kehidupan banyak orang, yang dapat memberikan kebahagiaan kepada banyak orang, serta yang ajarannya berdasarkan Cinta-Kasih Universal, untuk pencapaian kesejahteraan, dan kemajuan Dunia.
Sang Buddha, didalam khotbah beliau yang pertama, telah menerangkan tentang ajaran beliau yang dinamai Jalan Tengah itu, sebagai berikut ini :
"O, Para Pendeta! Dua hal yang ekstrim ini, hendaklah jangan diikuti oleh orang yang telah berniat untuk menjadi Pengembara (= Pendeta)! Apa yang dua itu!?!. (Yang satu), adalah kehidupan yang mengejar kenikmatan keinderaan, suatu praktek kehidupan yang rendah, yang tidak berharga, yang tidak menguntungkan; (dan yang satunya lagi), adalah kehidupan yang mementingkan penyiksaan tubuh, yang membiarkan tubuh merasa sakit, suatu praktek kehidupan yang tidak berharga, yang tidak menguntungkan.
Dengan jalan menghindari kedua ekstrim tersebut, Sang Tathagata, telah dapat mencapai Jalan-Tengah, yang dapat memberikan vision (Pandangan) yang agung, pengetahuan yang tinggi, ketenteraman, pengetahuan khusus, Penerangan Sempurna, atau Kesadaran Nibbana.
Ajaran Jalan Tengah itu merupakan prinsip yang paling fundamental didalam Agama Buddha. Itu adalah Jalan yang dapat membimbing orang ke pencapaian Tujuan Kehidupan Yang Tertinggi, - yaitu Pencapaian Kesadaran Nirvana. Diagnostic dan therapy-nya Sang Buddha, yang berdasarkan Pandangan-Terang (= Insights) itu nampak dengan jelas didalam ajaran beliau, yang dinamai Empat Kasunyataan Mulia (= The Four Noble Truths), yang terdiri dari :
Kasunyataan Mulia mengenai Penderitaan;
Kasunyataan Mulia mengenai Asal Penderitaan;
Kasunyataan Mulia mengenai Berhentinya atau Lenyapnya Penderitaan; dan
Kasunyataan Mulia mengenai Jalan untuk menghentikan atau melenyapkan Penderitaan.
Prinsip Ke-Empat dari Buddhism, adalah merupakan sarana dengan mana Prinsip Yang Pertama - Duhkha-satya - dikenal dan direalisir; Prinsip Ke-Dua - Samudaya-satya - dikenal dan difahami, dan Prinsip Ke-Tiga Nirodha-satya - diaktualisasikan, dan dengan demikian lalu Nirvana tercapai. Oleh karena itu, ajaran tersebut dinamai Jalan, atau Jalan Mulia : Magga atau Ariya-magga didalam Bahasa Pali-nya, dan Marga atau Arya-marga didalam Bahasa Sanskritnya (Gard, 1961).
Kasunyataan Mulia yang merupakan Jalan yang dapat membimbing orang ke berhentinya atau lenyapnya penderitaan itu, kita temui secara sederhana, tercantum didalam ajaran yang dinamai Jalan Utama Yang Ber-Ruas Delapan (= The Noble Eightfod Path). Jalan Utama Yang Ber-Ruas Delapan ini, dapat kita terapkan didalam kondisi-kondisi kehidupan masa sekarang, dan adalah ajaran yang meyakinkan untuk dapat mencapai kehidupan yang bahagia dan untuk mengadakan penyesuaian-diri secara baik. Ajaran Jalan Utama yang Ber-Ruas Delapan itu, membentuk tiga dasar dari kehidupan dengan mental yang sehat, dan bermanfaat, tidak hanya bagi umat Buddha saja, tetapi juga bagi siapa pun.
(Ajaran Jalan Utama yang Ber-Ruas Delapan, itu dapat dibagi menjadi tiga kelompok, sebagai berikut ini :)
1. TINGKAH LAKU ETHIS.
1. Ber-Bicara Yang Benar.
2. Ber-Aksi Yang Benar.
3. Ber-Mata Pencaharian Yang Benar.
2. DISIPLIN MENTAL.
1. Ber-Usaha Yang Benar.
2. Ber-Perhatian Yang Benar.
3. Ber-Konsentrasi (= Dhyana) - Keinginan-keinginan yang berisi hawa-nafsu lenyap - Aktivitas Intelektual ditekan dan ketenteraman diperkembangkan;- Kegembiraan, - suatu sensasi-, lenyap-, semua sensasi lenyap.
3. KEBIJAKSANAAN (= WISDOM).
1. Ber-Fikir Yang Benar.
2. Ber-Pengertian Yang Benar.
Jalan ini, adalah Jalan Kehidupan, yang sangat bermanfaat untuk diikuti, dipraktekkan, dan diperkembangkan oleh setiap orang. Ajaran ini adalah merupakan Disiplin-Diri; atau, kalau saya boleh menamainya ajaran ini adalah merupakan Therapy-Diri, terhadap: badan, kata-kata, dan fikiran. Ajaran ini merupakan latihan pengembangan-diri yang menyentuh segi-segi dari yang harus kita perkembangkan. Ajaran ini dapat mencegah orang untuk tidak mengalami penyakit-penyakit yang sifatnya kronis, didalam kehidupan. Anda boleh mempercayainya, atau boleh tidak mempercayainya. Anda mungkin tergolong orang yang rajin melaksanakan persembayangan setiap harinya, atau tergolong yang kurang rajin dalam bersembahyang. Anda mungkin tergolong orang yang rajin memuja Tuhan Yang Maha Esa, atau tergolong yang kurang rajin dalam memuja Tuhan Yang Maha Esa. Demikian juga anda mungkin tergolong orang yang rajin dalam mengikuti ceremoni-ceremoni keagamaan, atau tergolong yang kurang rajin dalam mengikuti ceremoni-ceremoni keagamaan.
Jalan ini adalah Jalan Kehidupan yang berisi suatu Pandangan Hidup Yang Benar. Ajaran ini tidak menyarankan agar kita meninggalkan kehidupan duniawi. Yang disarankan adalah agar kita mau memodifikasi pendekatan kita, dan mau memiliki perangkat sikap mental yang baik, terhadap kehidupan dan terhadap lingkungan sekitar kita. Demikianlah, melalui melaksanakan disiplin-disiplin-diri, yang keras, kita telah melangkah di Jalan yang membawa kita ke Realisasi-Diri, atau ke Pencapaian Kesadaran Nirvana.
Suatu Therapy (= Penyembuhan"), itu "kita katakan berhasil, sejauh penyembuhan itu dapat mengurangi keragu-raguan yang terdapat didalam diri pasien, dan dapat memberi keyakinan makin sehatnya tubuhnya, mengurangi penderitaannya yang berupa perasaan kurang-aman-diri-nya didalam bergaul dengan orang-orang lain, serta dapat mendukung kemantapannya didalam menghayati kepercayaan-kepercayaannya, yang bersifat Theo-Philosophis". (Masserman, 1971).
Bibliography
Chessick, Richard D. "How Psychotherapy Helas - The Process of Intensive
Psychotherapy, New York, Science House, 1969
Coster, Geralidine "Yoga and Western Psychology" : A Comparison, London, Oxford
University Press, 1934
Gard, Richard A. (Ed). "Buddhism", New York, George Braziller, 1961.
Masserman, Jules H. "Techniques of Therapy", Science & Psychoanalysis, Vol.
XVIII, New York, Grune & Stratton, 1971
Whitaker, C.& Malone T. "The Roots of Psychotherapy", Philadelphia:
Blakiston 1953.
Wolberg "The Technique of Psychotherapy", New York, Grune &
Stratton, 1954 Read more...
ANICCAM - THEORI BUDDHIS TENTANG KETIDAK-KEKALAN DARI SEGALA SESUATU
Suatu Pendekatan Dari Sudut Ilmu Pengetahuan Modern
dan Ilmu Filsafat
By:BHIKKU NANAJIVAKO
*Apakah mata ... (sebuah indria untuk melihat bentuk) dari sesuatu ... kesadaran penglihatan, itu bersifat permanent?
oBersifat Tidak Permanent, Tuanku.
*Tetapi yang bersifat Tidak Permanent itu, berkeadaan sangat menyedihkan,ataukah membahagiakan?
o Bersifat sangat menyedihkan, Tuanku.
*Apakah benar anggapan yang mengatakan bahwa sesuatu yang tidak permanent, yang bersifat sangat menyedihkan, yang bersifat mengalami perubahan-perubahan, itu jika kita terapkan pada (apa yang dinamai "Roh") yang menyebabkan ada ungkapan-ungkapan : "Ini kepunyaan saya!" "Inilah saya!" "Ini saya sendiri yang mengerjakan"! adalah anggapan yang benar?
o Tidak benar, Tuanku.
Pandangan-Terang dan Sempurna, serta penemuan-penemuan sifat-sifat yang sebenarnya dari jiwa manusia, yang terjadi kira-kira 2500 tahun yang lampau, pada zamannya Sang Buddha (atau bahkan mungkin beberapa abad sebelumnya) itu mungkin telah menyebabkan adanya pengaruh yang revolusioner dan mendalam terhadap evolusi pandangan-pandangan-dunia, yang tidak kurang pentingnya dari pada penemuan Galileo dan Copernicus, yang telah menggoncangkan pandangan-dunia dari peradaban Kristen di Zaman Abad Pertengahan. Penemuan yang belakangan, yang menandakan mulai tibanya peradaban modern, telah menjadi bagian yang utama dari pemikiran umum, atau informasi umum, yang telah dapat diajarkan kepada anak-anak di kelas terendah di Sekolah Dasar, dan telah secara normal diserap oleh mereka, tanpa mengalami kesukaran.
Idea mengenai ketidak-kekalan (= impermanence) dari perubahan yang tidak henti-hentinya, yang disebabkan karena "mata-rantai" yang tidak berhenti, dari sebab-akibat, (suatu pokok pembicaraan yang kita usahakan mendekatinya didalam versi-nya Agama Buddha, dengan istilah "Aniccam") itu didalam arti luasnya, telah menjadi salah satu dari ajaran yang telah disederhanakan dan telah menjadi pandangan semua umat Buddha, baik didalam arti formalnya, maupun didalam arti substantialnya, yang telah merupakan arti-kata yang konvensional, serta yang sifatnya masih belum dikembangkan. Didalam keadaan yang demikian itu, ajaran tersebut masih dapat diajarkan di tingkatan Taman Kanak-Kanak, dan juga di beberapa Sekolah jenis tertentu, didalam mata pelajaran Sejarah Kesusasteraan. (Apabila saya boleh memilihkan cuplikannya, yang mempunyai dasar yang cukup mendalam, pada mata pelajaran ilmu filsafat yang lebih rumit sifatnya, yang berbentuk syair modern, yang berhubungan dengan intuisi atau ilham, saya dengan tidak ragu-ragu mengambil baris-baris dari syairnya T.S. Eliot, yang berbentuk quartet, sebagai berikut ini :
* Debu-debu beterbangan, ada yang melekat pada bajunya orang laki-laki tua.
* Ada yang beterbangan, dan melekat pada daun-daun pohon bunga mawar yang membuat layu bunganya.
* Air dan Api muncul saling berganti.
* Di kota, di rerumputan, dan disemak-semak yang liar
Kita dapat mengharap untuk dapat menemukan kembali arti aselinya dan arti sebenarnya, sesuai dengan sejarahnya, dari ajaran tersebut diatas, hanya apabila kita mau meninjaunya dengan tujuan yang mantap, yang dibimbing oleh beberapa kesan-kesan individual yang impressive, atau berdasarkan kasus-kasus khusus, dan oleh konsekwensi-konsekwensi applikasinya yang kongkrit, didalam theori-theori philosophis, dan ilmiah, yang benar-benar terjadi didalam kehidupan yang nyata. Berikut ini saya akan mencoba mengemukakan contohnya beberapa buah, untuk menolong memberikan gambaran tentang yang saya maksudkan.
Satu : Ketika saya masih menjadi guru-muda, sewaktu saya pertama kalinya mencoba menerangkan kepada anak-anak yang umurnya kira-kira dua belas tahun, mengenai proses biologis dari tanaman kobis (= cobbage) dan kentang, titik tekanan saya pada pentingnya tahi-sapi (saya tidak mempergunakan istilah tehnisnya "rabuk"), ternyata apa yang saya ajarkan itu sangat berkesan, sehingga keesokan harinya, saya kedatangan ibu dari siswa saya, yang mengeluh atas "methode-langsung" dan "naturalisme yang drastic" didalam cara mengajar saya secara visual itu. Diceriterakan oleh ibu tersebut bahwa anaknya begitu sangat terpengaruhi dari ceritera saya, sehingga dia sangat muak memakan sayur kobis dan kentang. Demikianlah, saya begitu terkesan bagaimana mudahnya kenyataan yang dianggap oleh umum sebagai suatu kebenaran tentang hukum alam - yang penemuannya, pada suatu ketika, dapat diberlakukan (atau bahkan dapat dinyatakan dengan tegas) sebagai bersifat revolusioner, oleh instruksi-instruksi sosial yang authoritative dan dihargai tinggi, - masih tetap dapat mengungkapkannya secara tak terduga didalam kekuatannya yang pernah didalam diri jiwa generasi-generasi muda yang masih murni dan segar.
Kedua : Didalam kehidupan diri saya sendiri, semasa umur belasan tahun, semasa antara Perang Dunia Ke-Satu dan Perang Dunia Ke-Dua, terdapat deadlock antara ilmu pengetahuan dan Agama yang begitu tajam, sehingga kurikulum sekolah pada Sekolah Menengah telah mengikat jiwa para Guru untuk berkewajiban menghindari krisis hati-nurani. Para Guru, secara keseluruhan mengikut sertakan dirinya pada perjuangan keyakinan keagamaan, yang secara tajam berusaha memenangkan satu fihak dan mengalahkan fihak yang satunya lagi. (Di Eroupa ketika itu), perjuangan dari fihak yang mengagungkan ilmu pengetahuan dan mengalahkan Agama, secara normal, lebih kuat dari fihak lawannya. Sejak saat itu, Agama dikalahkan (oleh pengaruh ilmu pengetahuan) di Eroupa, yang mengakibatkan makin banyak hasil-hasil larangan-larangan (untuk menentang Agama), menjadikan makin tertariknya para remaja didalam mempelajari ilmu pengetahuan. Keadaan yang demikian itu tidak hanya terdapat di Eroupa Timur saja, tetapi ilmu pengetahuan itu memanglah tidak hanya menjadi haknya negara-negara komunis saja. Kecenderungan anti-ilmu pengetahuan dari fihak Filsafat dari ("Kontinental") Eroupa, muncul, dan mengkhawatirkan adanya bencana yang mengancam moral yang masih menguasai fikiran para generasi muda, lebih dari pada hanya merupakan suatu problema tentang "posisi manusia didalam alam semesta".
Issue centralnya didalam mana konflik-konflik antara ilmu pengetahuan dan Agama ini, akhirnya, di kalangan orang-orang muda pada waktu itu, menimbulkan prasangka, tentu saja, terhadap problema Anatta ("Ajaran" No-Soul, "yang merupakan ekspressi kita atas istilah Buddhis, yang maksudnya" bahwa pada diri kita, tidak terdapat Roh, atau Jiwa, yang sifatnya memiliki Inti-Ke-Aku-an). Hukum-hukum yang menguasai Proses-Proses sebab dan akibat, dapatlah diterangkan secara ilmiah - atau paling sedikitnya dapat difahami oleh fikiran yang belum begitu masak, menimbulkan kesan adanya pertengkaran secara terbuka antara ilmu pengetahuan dan Religi (didalam hal ini Agama Non-Buddhis). Mengenai ajaran anicca-vada (= theori ketidak-tetapan) yang murni, yang berisi keterangan mengenai penyangkalan substantialitas material yang mendasari dunia, keterangan-keterangannya belum disusun secara mantap, yang mempunyai kesamaan dengan istilah-istilah dalam ilmu pengetahuan. Sebagai ganti dari yang tersebut diatas itu, keterangan yang diberikan kepada kita pada waktu itu, masih diikuti pola materialisme mechanistic dari Yunani Klassik, atau atomisme yang static, yang pandangannya dekat dengan pemahaman Buddhisme tentang uccheda-vado (= theori perusakan atau penghancuran), yang orang-orang yang mempercayainya, dideskripsikan didalam teks Bahasa Pali, sebagai berikut ini :
................. Lalu dia mendengar Sang Guru Yang Maha Sempurna itu pada suatu ketika mengemukakan ajaran beliau untuk melenyapkan semua dasar "pandangan-pandangan hidup", yang semua berisi prasangka-prasangka, obsessi-obsessi, dogma-dogma dan buruk-sangka buruk-sangka, untuk menenangkan semua proses, untuk melenyapkan semua substrata dari eksistensi, untuk melenyapkan keinginan-keinginan untuk melenyapkan hawa-nafsu hawa-nafsu, untuk menghentikan atau melenyapkan sifat-sifat negatif. Kemudian dia berfikir : "Saya akan dilenyapkan, saya akan dihancurkan! Eksistensi saya akan tidak lama lagi". Oleh karena itu, dia merasa sangat sedih, sangat susah, dan berhati muram: dengan memukul-mukul dada, dia menangis, dan terjatuh karena hantaman rasa sedihnya. Demikianlah, para Bhikkhu, terdapat kecemasan didalam realitas kehidupan ini. (M.22).
Terhadap hal yang demikian itu, satu-satunva jawabannya yang authentic, berbunyi sebagai berikut ini :
Karena didalam kehidupan yang nyata ini, seorang tathagata (didalam hal ini, secara umum yang dimaksudkan adalah seorang manusia dalam arti yang luas), tidaklah dianggap sebagai eksistensi didalam kenyataan, didalam realitasnya, itu layak bagi anda untuk menyatakan pendapat anda sebagai berikut ini "Seperti saya telah memahami ajaran yang diberikan oleh Yang Maha Mulia, sejauh seorang Bhikkhu telah menghancurkan asava-asava (= kemabukan atau hawa nafsu untuk dapat "hidup"), dia (= kepribadian dirinya) pecah dan lenyap, sewaktu badan jasmaninya hancur namun : apakah sesungguhnya keberadaannya, setelah dia meninggal dunia itu lenyap?". (S.XXII, 85, 33).
Kemungkinan logisnya dari jawaban yang demikian itu, tersingkirlah, terkeluarkan, oleh premis-nya sendiri. Premis yang sama, yang menyingkirkan, yang mengeluarkan, yang menjadi lawannya, adalah kemungkinan affirmative-nya. (Kami akan kembali membicarakan problema ini, sebagai yang difahami oleh filsafat kontemporer didalam Seksi Lima!).
Adalah penting untuk menggaris bawahi disini, bahwa premis yang sama, uccheda-vado, atau secara sederhananya kepercayaan materialistic, didalam suatu "perusakan atau penghancuran" yang sifatnya substansial, dari sesuatu wujud dari makhluk, atau benda, itu berkeadaan bertentangan secara ekstrim dengan suatu nihilisme yang authentic didalam ontology dan epistemology (theori tentang "ada", dan theori tentang "pengetahuan"). Hanya suatu filsafat yang idealistic, secara eksplisit, yaitu "yang memandang dunia sebagai suatu gelembung sabun, atau khayalan belaka" (Dph 170), yang dapat bersifat nihilistic didalam beberapa hal, sedang uccheda-vado sebagai suatu "theori perusakan atau penghancuran" sangat membutuhkan adanya kepercayaan yang berakar secara eksistensialis, didalam substansi material".
Itu sama keadaannya dengan perasaan yang beranggapan bahwa ditengah-tengah arena pertempuran antara ilmu pengetahuan dan Agama, dan menjelang tibanya Perang Dunia, teryata anak-anak manusia yang hidup pada pertengahan pertama dari Abad Ke-Dua Puluh, telah menghadapi fatalitas-nya perusakan atau penghancuran physik dan moral, yang secara ilmiah, dan diyakini tidak mengalami kesalahan perhitungan, masih menantikan bukti nyatanya, di bidang pengalaman manusia. Tetapi di sebelah sananya dari garis cakrawalanya intelektual, waktu fajarnya telah menampak, karena ilmu pengetahuan itu, paling sedikitnya, telah mencapai posisi yang sama sekali berbeda, dan telah vis a vis, menghadapi problema tentang ketidak-kekalan (= impermanence) dan relativitas, sebagai yang mempengaruhi struktur subatomic yang paling dalam dari dunia - suatu posisi yang dianggap dekat dengan idea Buddhis mengenai ajarannya yang dinamai "aniccam".
Tiga : Sejak tahun 1927, bukunya Bertrand Russel, yang berjudul : "An Outlines of Philosophy" (= Garis Besar Ilmu Filsafat), telah diakui secara luas sebagai salah satu penyajian populer, yang paling baik, mengenai perubahan-perubaban radikal didalam pandangan-jagad, yang ilmiah, yang berakar dari theori relativitas-nya Einstein, dan hasil perkembangan dari physika nuklir. Saya akan mencoba mengemukakan secara garis besarnya, pernyataan-pernyataan Russel, sejauh ada hubungannya dengan garis besar dari pokok-pokok uraian saya, yang berkaitan dengan problema essensial kita, yaitu mengenai penolakan pandangan mengenai substansi (= substance - view) oleh ilmu pengetahuan modern, karena penolakan inilah yang membentuk inti anicca-vado-nya Buddha, sebagai suatu fondasi (paling sedikitnya didalam skema ajaran tilakkhanam), yaitu mengenai ajaran dukkham dan anatta-nya.
Marilah kita memulai pembahasan kita, dengan mengdefinisikan idea "substansi" physical, yang dengan istilah ini kita maksudkan adalah deskripsi pokoknya dan implikasi philosophis-nya, sebagai yang dinyatakan didalam sumber-sumber dari Sutta-pitakam. Problema mengenai substansi ini, sebagai yang didefinisikan oleh theori-theori ilmiah (atau dari aliran lokayatam) yang ada dizamannya Sang Buddha, mendapatkan formulasinya yang klassik, dan pembatasannya yang imperative dan pemecahannya didalam bentuk istilah-istilah yang pendek didalam jawaban yang bersifat yang mengandung kesimpulan-kesimpulan, sebagai jawaban terhadap Kevaddoho (D. 11.) :
* Dimanakah beradanya tempat yang menjadi dasar berpijaknya : tanah, air, api, dan angin; benda-benda yang panjang dan yang pendek, yang halus dan yang kasar; yang murni dan yang tidak murni; karena sukar kami ikuti jejaknya?. Dimanakah perginya dari apa yang dinamai "nama" dan "bentuk" itu jika lenyap, karena tidak meninggalkan sesuatu jejak?.
* Apabila intelleksi (= vinnanam = intellection) itu berhenti, maka semuanya menjadi berhenti pula.
Mengenai uraian tentang hubungan yang sifatnya kategoris dari "jiwa" dan "bentuk" (atau "nama" dan "bentuk", "nama-rupam", sebagai yang terimplikasikan, atau tersimpulkan, didalam formulasi yang akan dikemukakan nanti), pernyataan berikut ini, dari Sang Buddha, adalah merupakan yang paling adekwat dan juga merupakan yang paling bersesuaian dengan pokok pembahasan kita. Dan Sabda Sang Buddha itu adalah sebagai berikut ini :
Adalah lebih baik, kiranya, o, para bhikkhu, bagi orang-orang yang tidak begitu mahir mengatasi gangguan-gangguan keduniawian, untuk menganggap tubuh ini, yang terbentuk dari ke-empat elemen, sebagai "self"-nya, yang agak kurang tepat jika itu dianggap sebagai jiwa-nya. Karena terbukti bahwa badan ini mungkin dapat dipakai selama setahun, atau mungkin dua tahun, atau tiga tahun, atau empat tahun, atau sepuluh tahun ... atau bahkan hingga seratus tahun, atau lebih. Tetapi sesuatu yang dinamai fikiran (= thought) atau jiwa (= mind), atau kesadaran (= consciousness), (itu, kegiatannya) berlanjut terus, selama waktu siang hari dan malam hari, yang gambaran-gambaran di alam fikiran itu selalu muncul, lalu lenyap, gambaran fikiran yang satu berganti dengan yang lainnya, itu adalah berbeda sifatnya dengan badan (yang nampak ini). (S.12,62).
Sekarang, marilah kita renungi beberapa kutipan dari keterangannya Bertrand Russel 2, sebagai berikut ini : Pertama-tama, marilah kita bicarakan tentang substansi-zat, dia berkata demikian ini :
Dimasa-masa yang lampau, anda mungkin mempercayainya, atas dasar suatu philosophi tertentu bahwa roh (= soul) itu adalah merupakan suatu substansi (= substance) dan bahwa semua substansi itu adalah tidak dapat dihancurkan... tetapi pengertian substansi itu, didalam arti suatu entity yang sifatnya "permanent", namun dengan keadaan-keadaannya yang selalu mengalami perubahan-perubahan; pandangan yang demikian itu tidak lagi dapat diapplikasikan terhadap alam dunia.
Suatu gelombang di laut dapat bertahan lama atau sebentar saja; gelombang-gelombang atau ombak-ombak yang dapat saya lihat memecah menjadi gelombang-gelombang kecil, yang terdapat di pantai Cornish, itu mungkin semuanya berasal dari Brasil, tetapi itu tidak berarti bahwa sesuatu "benda" telah mengadakan perjalanan jauh melintasi Samudera Atlantic; itu hanya berarti bahwa suatu proses perubahan tertentu telah terjadi dan terdapat di sepanjang "garis wilayah" di Samudera.
(Theori relativitas-nya Einstein) itu mempunyai konsekwensi-konsekwensi philosophis, yang apabila mungkin, bahkan bersifat lebih penting. Substitusi mengenai ruang-waktu untuk ruang dan waktu, telah menyebabkan kategori substansi bersifat kurang applikatif dari pada masa-masa sebelumnya, karena essensi substansi itu bertahan melalui waktu, dan sekarang tidak ada lagi yang namanya waktu kosmos, yang konsepsinva dapat dipertahankan.
Kita dapati bahwa zat (= matter), didalam ilmu pengetahuan modern, telah kehilangan soliditas-nya dan substantialitas-nya; itu menjadi hanya merupakan gambaran fata-morgana mengenai keagungan masa lampaunya saja.... Pengertian tentang zat didalam ilmu physika modern, telah menjadi terserap kedalam pengertian energi.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa "zat itu menjadi penyebab bekerjanya sensasi-sensasi kita" ....Dengan kata lain "zat" telah mengalami perubahan, tidak lebih hanyalah merupakan tulisan tangan singkat yang konvensional, untuk menyatakan bahwa hukum-hukum sebab-akibat itu bekerja pada peristiwa-peristiwa.
Jadi, kita ini telah terikat pada persebaban (atau hukum sebab dan akibat) sebagai suatu kepercayaan yang sifatnya apriori, tanpa mana kita menjadi tidak memiliki alasan untuk mendukung pengertian, misalnya bahwa suatu "kursi" (atau sesuatu benda lainnya) itu ada.
Selanjutnya, mengenai teori peristiwa-peristiwa (= theory of events), kita mencatat bahwa idea tentang elemen-elemen yang sifatnya static dan mantap, dari "zat" (= matter), itu telah terganti oleh pengertian "peristiwa-peristiwa yang tidak ditentukan terlebih dahulu, yang sama keadaannya dengan theori lapangan electrodinamika quantum didalam ilmu physika nuklir, yang ternyata menjadi sangat erat hubungannya dengan konsepsi idea phenomenologis yang murni, tetapi tidak bersifat physis, dari dhamma, yang tersirat didalam makna primitive-nya dari khanika-vado, yaitu suatu theori mengenai keadaan yang bersifat sementara saja dari sesuatu (= momentariness), dari Abhidhamma-pitakam (Aspek yang disebutkan terakhir ini, uraiannya secara philosophis dan secara implisit, akan disampaikan secara garis besarnya, didalam Seksi Lima, di bagian belakang dari artikel ini!). Mengenai hal yang kami sebutkan itu Russel menulis sebagai berikut:
Segala sesuatu yang terdapat di dunia ini, tersusun dari "peristiwa-peristiwa" .... Suatu "peristiwa" adalah beberapa hal yang berada didalam sejumlah kecil dan terbatas, dari ruang-waktu.... Peristiwa-peristiwa itu dapat ditembus, keadaannya tidak seperti anggapan bahwa zat itu bersifat demikian; sebaliknya, setiap peristiwa didalam ruang dan waktu itu saling tumpang-tindih, dengan peristiwa yang lainnya.
Saya ber-assumsi bahwa setiap peristiwa itu bersifat kontemporer, namun bergabung dengan peristiwa-peristiwa yang tidak bersifat kontemporer, yang satu berhubungan dengan yang lainnya; inilah yang saya maksudkan dengan kalimat saya yang berbunyi bahwa setiap peristiwa itu hanya berlangsung dalam waktu yang terbatas.... Waktu itu secara keseluruhan berhubungan dengan satu dengan yang lainnya.
Susunan waktu-ruang, sama seperti titik-titik dari waktu-ruang itu, menghasilkan hubungan antara peristiwa-peristiwa.
Cobalah anda bandingkan uraian yang disebutkan terakhir itu, dengan uraian berikutnya, yang merupakan ungkapan yang dikemukakan oleh Buddhaghosa didalam Atthasalini, yang bunyinya sebagai berikut ini : "Dengan sarana waktu-lah, orang-orang suci menggambarkan sifat-sifat dari fikiran atau jiwa (= mind), dan dengan sarana fikiran atau jiwa-lah orang-orang suci menggambarkan sifat-sifat dari sang waktu".
Suatu kelompok peristiwa-peristiwa, yang penting, yaitu kegiatan-kegiatan mempersepsi, barangkali dapat kita namai mental".
Mentalitas itu adalah suatu peristiwa dari hukum-hukum persebaban (hukum sebab dan akibat), tidak merupakan suatu kwalitas dari peristiwa-peristiwa, yang tunggal, dan juga, mentalis itu sebenarnya adalah suatu masalah tingkatan-tingkatan.
Apakah fikiran atau jiwa itu? Fikiran atau jiwa, itu haruslah merupakan suatu kelompok peristiwa-peristiwa mental, karena kita menolak pandangan yang mengatakan bahwa suatu entity yang tunggal, sebagai misalnya pandangan lama mengenai "ego" (itu tidak tepat).... Konstitusinya, atau keadaannya, adalah sama dengan "kesatuan dari 'pengalaman'.".
Sebagai hasil dari pemikiran-pemikiran yang demikian itu, Russel mengambil kesimpulan, dengan berkata sebagai berikut : "Pertama-tama yang paling penting dari semuanya, hendaklah anda melenyapkan perkataan "aku", karena : jika anda hanya mempercayai pendapat orang lain, itu berarti anda tidak menarik kesimpulan secara langsung, dan itu bukan merupakan bagian yang anda ketahui dengan mata kepala anda sendiri."
Akhirnya, kemungkinan yang logis dari suatu pandangan yang dinamai uccheda-vado (= theori perusakan atau penghancuran), itu mengandung arti bahwa dengan pemikiran yang demikian itu, telah melenyapkan secara eksplisit, atau bahkan hanya berdasarkan pemikiran ilmiah (yang tidak sempurna), seperti yang diungkapkan dalam kalimat : "Apakah fikiran, atau jiwa, itu merupakan suatu stuktur dari unit-unit material?"; menurut hemat saya itu adalah merupakan hal yang negatif, adalah sebaliknya dari kebenarannya.
Kita dapat menarik kesimpulan dari survey ini, dengan menerima tanpa perlu mengemukakan alasan-alasan lainnya lebih lanjut, dari pendapatnya Russel, yang bunyinya sebagai berikut ini : "Problema-problema yang telah kita kemukakan itu, bukan merupakan problema yang baru, tetapi cukup dapat menunjukkan bahwa pandangan dunia kita, yang berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari, dan hubungan kita dengan hal tersebut, adalah bersifat tidak memuaskan."
Empat : Akhir-akhir ini, theori lapangan (= field theory), sebagai ganti dari theori substansi didalam ilmu physika, yang telah ditinggalkan, applikasinya makin berkembang, - paling sedikitnya sebagai suatu analogi hypothetis, pada bidang-bidang pemikiran ilmiah, yang lainnya, dan bahkan lebih-lebih pada spekulasi-spekulasi philosophis ke keterbatasan pada suatu kemungkinan (dan kadang-kadang ke ketidak-mungkinan), perluasannya pada "ilmu-ilmu pengetahuan khusus, itu merupakan perluasan dari masalah fikiran atau jiwa. Applikasinya ke para-psychology adalah merupakan suatu perhatian yang istimewa, di luar alam physik, dan menjangkau ke keberadaan dari sesuatu yang ada di luar yang terbatas".
Sejauh saya tahu, Gardner Murphy-lah yang telah memberikan kepada kita tentang suatu analogi para-psychologis, mengenai theori lapangan, yang paling logis, dan yang uraiannya bersifat eksklusif. Suatu rekapitulasi yang singkat dari thesis-nya, adalah sebagai berikut ini :
Aksinya zat yang dinamai kehidupan (= living matter) terhadap zat yang dihuni kehidupan, yang lainnya, itu tidak pernah merupakan kasusnya cell tunggal terhadap cell tunggal yang lainnya. Pada peristiwa tersebut menyangkut keseluruhan struktural atau suatu lapangan (dari energi). Prinsip lapangan (dari energi) itu dapat bekerja pada bidang psychis (= kejiwaan), dan juga pada bidang physis (= kejasmanian), dan lapangan psychis mungkin meluas ke belakang atau ke muka, didalam arena waktu, dan juga didalam arena ruang. Pertanyaan yang berbunyi : "Apakah personality (= kepribadian) itu tetap hidup secara abadi?" itu bagi pandangan Murphy, merupakan pertanyaan yang tidak lagi perlu dikemukakan.
Apabila sesuatu aktivitas psychis itu tetap hidup terus, atau bersifat abadi, itu akan menjadi aspek dari lapangan-lapangan yang berbeda-beda, dan dengan demikian lalu akan mengambil kwalitas-kwalitas yang baru, serta akan memiliki hubungan-hubungan struktural yang baru pula. Maka lalu adalah jelas bahwa bagi dia, "semua aktivitas personal itu secara tetap konteknya mengalami perubahan-perubahan dan saling berinteraksi, yang satu dengan yang lainnya, dan barangkali lalu satu dengan yang lainnya menjadi bagian dari proses kosmos" 3.
Ahli ilmu-jiwa yang lainnya lagi, didalam lapangan parapsychology, yang bernama C.D. Broad, telah mengadakan penyelidikan mengenai masalah "Fikiran atau Jiwa, Letaknya Didalam Alam" (= The Mind and Its Place in Nature"), dari sudut pandangan suatu kemungkinannya mengalami "survival"-nya dari "komponen-komponen psi", yang lalu menarik kesimpulan dari basis analogy-nya yang sama, dengan ilmu pengetahuan physika, bahwa : "Kita tidak perlu lagi beranggapan bahwa, walaupun komponen psi yang berkeadaan "survive" itu mungkin sifatnya tidak memiliki atau tidak bersifat jasmaniah (bodiless), itu perlu memiliki sifat tidak meluas dan tidak menempati suatu lokal tertentu: karena, sekarang ini, kita telah sangat memahami akan phenomena-phenomena yang demikian itu, sebagai misalnya lapangan electro-magnetis, yang tidak dapat kita katakan memiliki badan-badan, didalam arti yang biasa, tetapi tetap memiliki struktur dan sifat-sifat serta disposisi-disposisi, yang tertentu. Haruslah kita tidak berfikir bahwa itu (yaitu komponen psi yang berkeadaan "survive") itu sebagai sesuatu yang atas mana suatu pengalaman dikesankan, sebagai suatu cap yang disentuhkan pada suatu bola lilin. Sebaliknya, theori yang tidak mengakui adalah substansi itu, mengandung kesimpulan adanya suatu survival, yang tingkatannya lebih tinggi, dari pada hanya suatu komponen psi yang tidak aktif, yang keberadaannya hanya sebentar saja." 4.
Eksponen-eksponen dari theori parapsychologi yang sama, juga mempertahankan pendapat mereka bahwa hypothesis mereka mungkin dapat memberikan suatu keterangan yang lebih adekwat untuk menambah informasi-informasi mengenai phenomena ketidak-sadaran dari jiwa, yang diselidiki oleh para ahli pysychoanalisa, khususnya yang menyangkut theori archetype-archetype-nya Yung, yang lebih baik dari usahanya yang pertama kali, dari Freud, yang telah dicap sejak pertama kalinya dikemukakan, sebagai tidak dapat dipertahankan secara ilmiah, karena ada analogi dengan ajaran Plato, yang berhubungan dengan struktur basis dari roh (= soul).
Semua yang disebutkan diatas tadi, banyak sedikitnya merupakan analogi adhoc, dengan theori lapangan didalam ilmu physika, dan dapat dihubungkan pula, dengan hypothesa metaphysis yang awal, yang diformulasikan dalam suatu basis philosophis yang lebih luas oleh William James, didalam bukunya yang berjudul "Pluralistic Universe" (= "Alam Semesta yang Pluralistas") 5.
Berbicara mengenai struktur dari "kehidupan batin kita", James berkata sebagai berikut ini :
Setiap bagian yang paling kecil dari diri kita, setiap saat, merupakan bagian yang tak terpisahkan, dari suatu diri yang lebih luas (= wider self) .... Apakah ini tidak berarti bahwa diri saya dan diri anda itu akan bertemu didalam suatu titik kesadaran yang lebih tinggi tingkatannya, dan disana keadaannya tidak diam, tetapi aktif, walaupun sekarang kita belum dapat mengetahuinya? ... Itu ber-analogi dengan.... fakta-fakta yang ditemui didalam apa yang dinamai "penyelidikan psychis" (= psychical research), dan dengan pengalaman-pengalaman religious, yang membentuk... suatu kemungkinan yang luar biasa pentingnya, yang sifatnya menentukan, yang memberi perkuatan (terhadap hypothesis yang sifatnya pluralistic, yang dikemukakan kemudian, yang berisi ungkapan-ungkapan kalimat sebagai berikut :)
Mengapa kita harus menutupi "yang banyak" itu dengan "yang tunggal", yang didalam penelacakannya mendatangkan begitu banyak hal-hal yang agak mengarah ke terdapatnya suasana "yang berracun" .... (kecuali jika kita menerimanya) sepanjang itu menyangkut kesadaran supermanusia, yang pengertiannya tidak meliputi segala hal; dengan kata lain, terdapat Tuhan, tetapi yang sifatnya terbatas, baik didalam bidang kekuasaannya, maupun di bidang pengetahuannya, atau didalam kedua bidang tersebut, secara sekaligus.
Ini secara tepat, berkeadaan berbeda antara konsepsinya Vedanta, dan Buddha, mengenai Tuhan, atau deva-deva, yang juga mengandung makna atau keterangan mengapa James beralasan, didalam beberapa bidang, yang agak menyetujui konsep polytheistic, sebagai suatu : "hasil dari criticisme terhadap yang absolut", didalam kontek yang sama.
Lima : Adaptasi dari hypothesa-hypothesa yang dipinjam secara ad hoc. dari lapangan-lapangan yang heterogeen, dari ilmu pengetahuan, itu dapat dan harus memang dapat meng-verifikasi-kan dan menerangkannya hanya dengan penyelidikan philosophis yang layak, dengan mempergunakan methode-methode yang autonoom, dan yang telah membentuknya berdasarkan usahanya sendiri, suatu dasar anthropologis yang murni. Sejak permulaan abad ke-dua puluh, hal yang demikian itu telah dilakukan orang, dan selalu berkeadaan makin jelas dan makin eksplisit. Hasil-haslinya luar biasa hebatnya, paling sedikitnya sejauh menyangkut problema kita yang primodial, yaitu mengenai nilai kemanusiaan dari ajaran aniccam, dan arti fundamentalnya yang berhubungan dengan ajaran dukkam dan ajaran anatta.
Sikap philosophis yang layak telah didefinisikan, tidak berhubungan atau menyangkut masalah physik, tetapi agak mengarah, atau cenderung, ke pandangan jagad yang bersifat historical (= historical world view), se awal pada akhir pada ke-sembilan belas, oleh Wilhelm Dilthey, pendiri philosophi modern tentang kultur. (Beliau berkata sebagai berikut ini :)
Ungkapan pernyataan, atau keterangan, yang final, mengenai pandangan historical, adalah bahwa perubahan-perubahan mengenai kemanusiaan, pada setiap jenis tinjauan, itu bersifat relative, yaitu bahwa segala sesuatu itu merupakan pergerakan didalam proses tidak ada kestabilan.
Dan, tetapi, orientasi yang historical ini tidak dapat mempertahankan posisinya yang predominant pada abad ke-dua puluh, di lingkungan philosophi di Eroupa. Filsuf kebudayaan, atau kultur (= philosopher of culture) yang paling penting didalam pertengahan abad sekarang ini, adalah Karl Jaspers, yang telah mendiskusikan masalah prioritas-nya dari pertanyaan : "Apakah manusia itu? (= "What is man?) (sebagai yang diformulasikan oleh Kant), dengan menunjukkan bahwa prioritas-nya itu "tidak berarti bahwa pengetahuan mengenai keberadaan dari segala sesuatu" itu lalu diganti tempatnya oleh pengetahuan tentang manusia. Karena masih tetap berkeadaan essensial, maka manusia tidak dapat didekatinya hanya melalui eksistensi-nya sebagai manusia", yaitu melalui historical-nya "6.
Kalau kita teruskan pembicaraan kita mengenai Edmund Husserl, yang telah mendirikan dasar epistemologis dan logis, yang telah diterima secara paling luas, di Eroupa atau di bidang Filsafat Kontinental, pada abad sekarang ini, kita ketahui bahwa ternyata problema mengenai "keberadaan dari segala sesuatu" (= "beings"), itu telah memegang peranan yang central, dan penting, serta dapat mempertahankan pandangannya dengan cukup kuat, dan bertahan lama. Adalah penting, terutama kalau kita memandangnya dari sudut pandangan Buddhis, bahwa postulat-nya yang pokok, dari Husserl yang berbunyi : "Kembali ke benda itu sendiri" (= "Back to the things themselves!), itu tidak, dan dalam sesuatu cara apapun, mengandung kesimpulan bahwa arti "benda" menurut pandangan golongan penganut faham substansialist, didalam arti klassiknya, yaitu ontologi yang orientasinya physik, atau theori tentang "keberadaan segala sesuatu", yang telah ditolak oleh ilmu physika modern. Arti "keberadaan dari segala sesuatu" itu secara radikal telah mengalami perubahan, dengan telah dicapainya pandangan yang menyeluruh dan mendalam, baik mengenai struktur physik maupun struktur historical-nya. Hal ini diungkapkan paling jelas didalam analisa-nya mengenai "keberadaan dari segala sesuatu", oleh Nicolai Hartmann, yang lebih mendalam dari pada Husserl, dan para penganutnya yang dekat dengan dia, mengkonsentrasikan perhatiannya pada implikasi mengenai problema ontologis didalam ilmu pengetahuan alam.
Didalam hal ini, sudut pandangan dari A.N.Whitehead didalam Filsafat Anglo-American, berkeadaan sangat dekat kepada N.Hartmann. Theori-nya Husserl tentang "peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam ruang-dan-waktu" yang tidak terbatas itu, tidaklah lebih dari pada usaha untuk meredusir dan mengaburkan skema, atau konsep metaphysisical-nya Whitehead, mengenai "peristiwa-peristiwa yang aktual", aktualitas-aktualitas yang muncul dengan cepat dan diwarnai perasaan-perasaan, yang diberi makna sebagai "pusat-pusat pengalaman", yang "butir-butir karya" nya, atau "hasil-hasil ciptaannya selaku makhluk hidup" dibimbing oleh teleologi yang sifatnya internal, yang berada didalam "elemen-elemen yang membentuk dirinya" (yang analog dengan yang didalam Agama Buddha dinamai Sankhara pada pembentukan-pembentukan karma), yang bergabung dengan "aliran daya hidup yang terdapat pada segala sesuatu yang ada", (= bhavanga-soto) (= the "stream of existence"),
Inti dari konsepsi-nya abhidhammo mengenai "aliran daya hidup yang terdapat pada segala sesuatu yang ada" itu terdiri dari, dan terdapat pada, "theori peristiwa yang berlangsung sementara", yang dinamai "khanikavado", (= theory of momentariness). Analogi modern-nya kita dapati pada formulasinya yang pertama kali, dan yang paling baik, karena diterangkan secara mudah dimengerti, dengan peristilahan yang sederhana, didalam philosophi-nya William James, khusus yang dikemukakan pada essay-nya yang berjudul : "Does Conscious-ness Exist?" (= "Apakah Kesadaran Itu ada?"), dimana diterangkan oleh William James bahwa "aliran kesadaran" atau "aliran proses berfikir" (yang apabila kita pelajari secara teliti, terungkap, dan dapat kita rasakan kebenaran theorinya, misalnya apabila kita mau merasakan aliran masuk dan keluarnya napas melalui hidung kita, selagi kita bernapas!), berasal dari theori pokoknya dari yang dinamai "pengalaman yang murni" (= "pure consciousness"), yang didefinisikannya sebagai "lapangan kesadaran yang berisi kehadiran secara berganti-ganti (dari merasakan kekosongan,- kosongnya tubuh kita dari udara yang kita hirup-, dan merasakan berisinya secara penuh, - penuhnya paru-paru kita dengan udara yang kita hirup ... pengalaman berganti-gantinya "kekosongan" dan "keadaan penuh berisi" ini peristiwanya terjadi "didalam pusat-pusat, yang sangat kecil" yang terdapat didalam tubuh kita, atau didalam diri kita, yang didalam kenyataannya ini merupakan "suatu essensi dari phenomenon" (= the essence of the phenomenon). Didalam koneksi yang sama, itu keadaannya sama dengan "suatu hasil dari criticisme kita terhadap konsepsi yang absolut", suatu idea yang sifatnya metaphysical dan metapsychical, tentang "diri yang bersifat sentral" (= The "central self"), yang diredusir oleh James menjadi "kesadaran diri kita terhadap peristiwa yang hanya berlangsung dalam waktu yang sekejap saja (= The conscious self of the moment"). 7 Thesis dari Agama Buddha yang sangat terkenal, yang dinamai "ajaran tentang ketidak-ada-an inti-aku" (= anatta) (= "no-self"), atau ilmu jiwa yang tak membicarakan roh (= soul-less psychology), itu berdasarkan keterangan yang sama dengan "theori bahwa semua peristiwa itu merupakan kejadian yang hanya berlangsung dalam waktu sekejap saja", atau "theori tentang keadaan yang bersifat sementara" (= theory of momentariness).
Berikut ini juga adalah merupakan butir uraian - dan menjadi uraiannya yang paling berarti - atas dasar mana konsepsi philosophisnya James muncul secara bersamaan waktunya dengan konsepsi-nya Bergson. Paling sedikitnya secara terminologis, kerangka berfikirnya Bergson, yang sama dengan konsepsi-nya James, mengenai "aliran daya hidup yang terdapat pada segala sesuatu yang ada", yang beliau namai sebagai "flux du vecu" (perkataan "vecu" ini berarti "yang dihidupi" atau "lived"), nampaknya sangat dekat dengan pengertian didalam Agama Buddha, yang diistilahkan dengan bahasa Pali "bhavango", yang artinya "tenunan pengalaman-kehidupan, yang sifatnya "di-artikulasi-kan" "articulated") (= - ango).
Didalam interpretasinya Husserl, yang dinamai "benda-benda" (= "things") itu hanyalah diartikan sebagai "apa yang diberikan" (= "Whatever is given"), yaitu dengan mana kita "melihat" (= "see") didalam kesadaran kita, "dan" yang diberikan "itu dinamai bersifat phenomenal didalam arti bahwa itu "muncul" = "appear") didalam kesadaran kita. Perkataan bahasa Yunani "phenomenon" itu tidak perlu harus berarti menunjukkan bahwa disana ada sesuatu benda yang tidak dikenal, yang ada dibelakang phenomena (sama seperti yang konsepsinya terdapat juga didalam Filsafatnya Kant atau didalam Filsafat India yang dinamai Vedanta), atau merupakan sesuatu yang ada (= "being") yang terdapat di "panggung-belakang" (= "back-stage"), sama seperti yang telah dikemukakan secara ironis oleh Nietzsche. Dari sudut pandangan kita, adalah sangat penting untuk menggaris-bawahi methode phenomenologi-nya Husserl, yang sifatnya tidak deductive dan juga tidak empirical, tetapi terdiri, dan didalam" "menunjukkan sesuatu" (= pointing) kepada apa yang diberikan dan diterangkan-nya (= elucidating). " 8.
Analisa terhadap arti aselinya dari Bahasa Yunani "phenomenon" telah dikemukakan secara mahir oleh Martin Heidegger. 9, Perkataan phenomenon (berasal dari kata kerja phainesthal), yang artinya "marilah kita lihat" ("let see"), yang sama artinya dengan yang didalam Agama Buddha di-istilahkan dengan bahasa Pali : "ehi passiko"), itu mempunyai dua arti yang relevant bagi philosophi. Yang pertama adalah dalam arti 'menunjukkan dirinya sendiri" (= "to show itself"), dan yang kedua dalam arti "itu tampaknya seperti" (= "to seem as"). Philosophi phenomenologi yang kontemporer mengungkapkannya didalam arti yang pertama, yaitu hanya sebagai "biarlah sesuatu itu terlihat, dan biarlah entity-entity itu dapat kita persepsi (= "letting something be seen, letting entities be perceived"). Arti yang kedua, menunjukkan beberapa hal yang tampak berkeadaan "tetap tersembunyi, atau telah hilang didalam waktu, atau yang dapat muncul kembali, atau menunjukkan dirinya hanya "didalam bentuk terselubung, atau dalam samaran" (= remain hidden, or which relapses or gets covered again, or shows itself only "in disguise"), menunjukkan kepada proses historical-nya dari theori-theori konstruktif dan "pandangan-pandangan" (Bahasa Yunani-nya doxa, Bahasa Sansekerta-nya drsti, dan Bahasa Pali-nya ditthi), dengan mana phenomena itu lebih berkeadaan "tidak tertutup", secara primordial, dari pada tertutup, atau didalam keadaan tersamar.
Idea pokok yang sama, telah dikemukakan pula oleh Nicolai Hartmann. Idea tersebut tersirat dalam kalimat sebagai berikut ini : "Sesuatu yang ada" itu sebenarnya berkeadaan "ada dengan sendirinya:" (being is in itself"); kalimat ini berarti bahwa itu sama dengan apabila kita katakan bahwa sesuatu yang ada itu ada secara aktual dan tidak hanya untuk kita saja.... Pengertian "ada dengan sendirinya" itu tidak perlu kita buktikan, karena yang menyebabkan itu berkeadaan demikian memang karena alam itu sendiri telah memberikan sifat atau keadaan yang demikian. 10. Sumbangan yang paling benilai dari Hartmann, adalah diberikannya kepada kita tentang analisa-nya yang sangat mendalam mengenai apa yang dinamai "sesuatu yang berada diatas pengertian philosophis dari kedua istilah phenomenon". Analisa-nya Hartmann memperbedakan antara pengertian "alam-alam" (= spheres"), dan pengertian "tingkat-tingkatan" (= levels"), dari sesuatu yang ada. Pemahaman mengenai hal ini, secara luas dapat diterangkan bahwa ada dua alam yang primer, yang diartikannya sebagai sesuatu "yang riil" (= real), dan "sesuatu yang ideal" (= ideal being). Didalam alam yang riil, terdapat dan diperbedakan adanya empat tingkatan struktural, yaitu : zat (= matter), kehidupan (= life), kesadaran (= consciousness), dan fikiran atau jiwa (= mind).
Didalam hubungannya dengan penyampaian dan pemberian penjelasan atas pernyataan-pernyataannya yang demikian, hal itu menjadikan menampak makin jelas bahwa dari sudut pandangan Agama Buddha, betapa sangat dekatnya pengertian istilah phenomenon, yang dipergunakan oleh philosophi kontemporer, dengan pendekatan dari Agama Buddha, mengenai arti pokok-nya dari istilah dhamma, yang terdapat didalam theori Abhidhamma (Kutipan kita yang belakangan dari uraiannya Hartmann, bahkan mengingatkan kita secara lebih khusus, kepada pengertian struktur-struktur dari khanda).
Diluar kemungkinan perluasan analogi phenomenon, seperti yang diterangkan dengan kalimat "ada dengan sendirinya" (= being-in-itself), yang difahami sebagai suatu proses, yang dirasakan terutama oleh beberapa ahli ilmu filsafat Eroupa yang kontemporer (yang sama keadaannya dengan yang terdapat didalam Agama Buddha yang memegang teguh ajaran-ajaran aselinya), itu merupakan tujuan ontologisnya dari sesuatu; jadi, difahami, bahwa suatu phenomenon, atau yang didalam Agama Buddha dinamai "dhamma" itu haruslah masih dibatasi oleh prinsip yang bersifat kritis mengenai arti yang lebih mendalam dan lebih essensial. Prinsip yang demikian itu terdapat, pertama, pada, - dan sampai sekarang kejelasannya makin menampak -, pada formulasi logis-nya didalam aturan berfikir philosophis Agama Buddha yang dinamai catu-kotikam (= tetralemna), seperti yang secara teratur di-applikasi-kan pada avyaktani atau problema-problema "yang tidak-dimaksudkan untuk sesuatu pemakaian tertentu" atau "antinomi-antinomi yang dialectical" (= "dialectical antinomies") 11 dari pemikiran-pemikiran yang spekulatif, yaitu yang rumusannya sebagai berikut ini : "Bukan" ada (= "being"), dan bukan "tidak-ada" (= "Non-Being"), tetapi juga bukan keduanya digabung, bukan : "ada-dan-tidak-ada" (= "being-and-non-being"), pula bukan tidak "ada" dan tidak "tidak-ada" (= "neither-being-nor-non-being") (atau kalimat dalam bahasa Inggris seutuhnya adalah : "Neither being, nor non-being, nor both being-and-non-being, nor neither-being-nor-non-being" itu pun tidak mampu meng-eks-pressi-kan, mengungkapkan, makna, atau maksud yang existensial dan isi dari realitas ke-manusia-an. Perkataan "ada" (= being), atau sesuatu yang lainnya lagi yang berasal dari kata kerja "menjadi ada" (= "to be"), itu tidak mampu mengekspressikan secara adekwat, intuisi (= vipassana) dari eksistensi, atau essensi dari aktualitas (seperti yang diistilahkan dengan : paramattho).
Kekurang-mampuan, atau kekurang-cukupan, dari istilah ontologis yang pokok, mengenai pengertian "ada" (= being) ini telah dipelajari dan dianalisa secara tajam dan halus oleh Heidegger, didalam bukunya yang berjudul "Pengantar Ke Metaphysika" (= "Introduction To Metaphysics"). Tetapi, di tangan Heidegger, filsafat eksistensi (atau filsafat aktualitas-nya manusia) ini telah memperoleh pengarahan ontologis yang utama (sebagai suatu analisa phenomenologis mengenai sesuatu yang ada). Itu lalu menjadi filsafat mengenai keberadaan-manusia-di-dunia ini, dan sebagai akibatnya, maka kemudian menjadi filsafat "kehidupan yang terwarnai oleh penderitaan atau kesedihan yang sangat (= anguish) "atau yang menurut istilah Agama Buddhanya : dukkham, - bahkan walaupun itu segera dirasakan bahwa titik-balik pemikiran ontologi-nya, itu tidak, dan memang tidak mampu, memberikan refleksi secara adekwat, baik terhadap motive-motive yang primordial, maupun terhadap scope pemikiran eksistensial yang hakiki. Tanpa memasuki pemikiran latar belakang historical dari pemisahan-pemisahan batiniah yang demikian itu, didalam filsafat kontemporer, saya lebih cenderung menunjukkan sedikit penolakan yang bersifat symptomatic, yang dapat diperbandingkan didalam sikap anti-ontologis mereka, yang secara radikal, dengan prinsip Agama Buddha yang formulasinya telah saya kemukakan dimuka tadi.
Menurut Sang Buddha, pribadi yang akan menuai buah dari perbuatan-perbuatannya yang baik atau yang buruk (yang akan diterima pada kehidupannya yang akan datang), adalah bukan pribadi, yang sama, tetapi juga bukan tidak sama, dengan pribadi yang melakukan perbuatan-perbuatan, yang menghasilkan buah perbuatan itu. Prinsip yang sama di-applikasi-kan juga terhadap identifikasi struktural dari pribadi, didalam sesuatu bidang lainnya, atau terhadap sesuatu lingkungan sekitar lainnya, didalam hubungannya dengan aliran saya kehidupan, yang ada pada kehidupan physik, yang tunggal.
Seorang ahli ilmu filsafat bangsa Perancis, yang bernama Gabriel Marcel, telah mendiskusikan problema-problema mengenai kesatuan struktural dari kepribadian manusia (= human personality) (paling sedikitnya pada tingkat dasar), dan tiba pada kesimpulan bahwa "hubungan antara badan saya (= my body), dengan "diri saya sendiri" (= myself), itu tidak dapat dideskripsikan, baik sebagai "sesuatu yang ada" (= being), maupun sebagai "sesuatu yang dimiliki" (= having), yang tersirat dalam kalimat yang berbunyi : "Saya adalah badan saya ini, namun saya tidak dapat meng-identik-kan diri saya dengan badan saya ini (= "I am my body and yet I cannot identify myself with it." 12. "Berkehidupan atau menjadi sesuatu yang ada" (= Existing) tidaklah berarti menjadi suatu objek. Berdasarkan cara pemikiran yang demikian itu, Marcel memperkembangkan analisa kritis-nya, yang terdiri dari dua istilah, yang ke-ekstriman-nya tidak adekwat, mengenai eksistensi, didalam karyanya yang utama, yang berjudul "Being and Having" (= Menjadi sesuatu Yang Ada, dan Keadaan Memiliki Sesuatu").
Perwakilan lainnya dari aliran fikiran, yang sama, didalam Filsafat Perancis, adalah dari Jean Wahl, yang tampaknya pendekatannya lebih akrab ke arti aktualnya dari avyaktani-nya Agama Buddha (seperti yang telah kita utarakan di bagian depan dari artikel ini), tidak dari logika formal, atau bahkan dari pemikiran-pemikiran linguistic, tetapi agak merupakan dari pemahaman yang secara essensial, bersifat congenial, mengenai problema yang lebih dalam maknanya, seperti yang tersirat didalam kalimat sebagai berikut ini : "Kita tidak membicarakan pertanyaan-pertanyaan biasa, tetapi secara yakin, dapat saya tandaskan, bahwa kegiatan yang sedang kita lakukan, adalah ber-meditasi secara tekun, dan yang tidak dapat menjadi pokok pembicaraan yang dapat diuraikan secara jelas." 13
Nicolas Berdyaev, seorang filsuf yang bersifat religious, dan yang uraiannya bersifat eksplisit, yang dekat dengan kelompok aliran yang sama, seperti yang diuraikan diatas tadi, telah memberikan salah satu dari formulasi-nya, secara jelas, mengenai butir pokok permasalahan yang sedang kita bicarakan, yang uraiannya adalah sebagai berikut ini :
"Problema yang kita hadapi adalah : Apakah" sesuatu yang ada, atau sesuatu yang mengalami perubahan menjadi sesuatu keadaan yang lain" (= being) itu merupakan suatu hasil (= product) dari objektifikasi? Apakah suatu konsep mengenai sesuatu yang mengalami perubahan menjadi berkeadaan lain, itu tidak dapat dibicarakan, dengan pembahasan "sesuatu yang ada" (= being" secara qua konsep, atau apakah sesuatu yang ada (= being) itu tidak memiliki eksistensi sama sekali? .... Mengapa ontology (yang murni) itu tak mungkin kita peroleh? Itu dikarenakan bahwa pengetahuan yang kita peroleh itu selalu hanya merupakan eksistensi yang telah diobjektifikasi. Didalam ontology, idea tentang "sesuatu yang ada" (= being), itu diobjektifikasi, dan pengobjektifikasiannya telah merupakan suatu eksistensi yang mengalami alieniasi (= pengasingan) didalam objektifikasi-nya. Demikianlah, maka didalam ontology,- dan didalam setiap ontology, eksistensi itu lenyap.... Hanya didalam subjektivitas saja-lah orang dapat mengetahui eksistensi itu, tidak didalam objektivitas-nya. Menurut pendapat saya, idea central-nya didalam ontology-nya Heidegger dan Sartre, telah lenyap. 14
Sesuai dengan prinsip-nya Dilthey, seperti yang telah kami kutip dibagian depan, dalam membentuk pandangan-jagad historical, mengenai ilmu-ilmu pengetahuan kultural, yang bebas, yang berdiri sendiri, tidak tergantung dari penyelidikan ilmiah mengenai sifat alam, yang secara essensial, bersifat objektif itu, Heidegger telah membatasi penyelidikannya, hanya pada masalah "waktu sebagai cakrawala untuk semua pemahaman terhadap segala sesuatu yang ada" (= time as the horizon for all understanding of being"). Bertentangan dengan latar belakang yang demikian itu, dia telah mengkritik dan meninggalkan ontology kuno, dari golongan penganut faham substansialist. Bagi Heidegger, "Temporalitas adalah merupakan yang menjadi hakekat dari realitas manusia (= "temporality is the very being of human reality"). Hubungan antara waktu-dan-fikiran atau jiwa (time-mind), seperti yang telah kita kutipkan, sama seperti yang didalam Agama Buddha terdapat pada Atthasalini-nya Buddhaghosa, bagi Heidegger juga adalah merupakan istilah-istilah yang sudah tuntas. Namun, bagi Berdyaev, sama seperti pendapatnya para antiontoloy yang disebutkan didalam uraian ini, mengkritik, bahkan juga terhadap, titik-baliknya yang essensial, dari "ontology yang anthropologis", yang kontemporer, paling sedikitnya mengenai kegagalan sebagian dari pemahamannya terhadap pengalaman eksistensial yang authentic, yang tersirat didalam kalimat yang bunyinya sebagai berikut ini : "Sebagai manusia, Heidegger telah sangat berkeadaan sedih atas keadaan dunia, yang memerlukan ketekunan didalam memelihara kelestariannya, yang berisi penuh ketakutan-ketakutan, kematian-kematian, dan kehidupan-kehidupan sehari-hari yang berisi kedangkalan-kedangkalan pengalaman atau makna ini. "Walaupun terdapat ungkapan-ungkapan yang demikian itu, dan walaupun berada diluar ketulusan hati, filsafatnya" bukanlah merupakan filsafat eksistensial, dan kedalaman dari eksistensinya tidak menjadikan dengan sendirinya orang dapat merasakannya." 15
Alasan mengenai hal yang tersebut diatas itu, dinyatakan secara jelas dan eksplisit oleh Karl Jaspers, yang untuk pertama kalinya mengkritik dan meninggalkan posisi ontologis didalam Filsafat Eroupa yang kontemporer, yang bersamaan waktunya dengan Heidegger mengadakan reformasi yang essensial atas konsepsinya yang fundamental. Pandangan Jaspers tercermin didalam kalimat yang berbunyi sebagai bertikut ini: "Ideal yang diikuti oleh para penganut faham ontology, adalah penyempurnaan struktur yang rasional dari dunia yang telah diobjektifikasi." Ilmu-ilmu pengetahuan teknis telah menolong kita.- memunculkan eksistensi-eksistensi dari ke-technology-an". Jaspers, sejak sangat awal, yaitu sejak muncul tulisannya (pada tahun 1930) yang berisi kritik-philosophis-nya, telah sangat sadar akan adanya bahaya technicalisasi yang bersifat ilmiah, terhadap eksistensi kemanusiaan, yang demikian itu. Terhadap jenis ontology yang dia kritik, Jaspers mengatakan sebagai berikut ini : "Sebagai suatu usaha yang dapat mengikat kita kepada keberadaan dari sesuatu yang di-objektifikasi-kan, ontology (yang terwarnai oleh technology) itu menghambat tercapainya kebebasan." Selanjutnya dia mengemukakan pendapatnya "Menurut pendapat saya, hanya "eksistensi yang potensial sajalah yang dapat mengangkat saya, membebaskan saya, dari ikatan-ikatan. Rantai-rantai yang mengikat saya, itu seakan-akan dapat berubah menjadi keberadaan dari sesuatu yang bersifat material....". Bertentangan dengan jalan (yang seharusnya saya tempuh), peradaban yang terwarnai oleh technologi, itu dapat mengubah diri saya menjadi budak dari materialisme, dan ini merupakan bentuk typical dari penderitaan, yang secara aktual, dan yang (dalam istilah Agama Buddhanya) adalah :dukkham, yang telah menekan kehidupan dari "manusia yang hidup di zaman modern". 16
Didalam kehidupannya di masa usianya yang lanjut, Jaspers telah berkenalan dengan tulisan dari Filsuf Buddhis di zaman dahulu, yang bernama Nagarjuna, sebagai salah satu dari pemikir agung, yang paling congenial, 17 yang pada waktu yang bersamaan Heidegger berkenalan dengan bukunya D.T. Suzuki yang berjudul : "Essay on Zen Buddhism", dan mengakui bahwa isi dari buku tersebut, adalah benar-benar tepat sama, dengan apa yang dia inginkan untuk dikemukakan sepanjang kehidupan.
Enam : Para filsuf mungkin merasa ragu mengenai keterangan yang mengatakan bahwa dunia itu pada hakekatnya adalah merupakan substansi material, yang sampai sejauh tertentu, dapat memunculkan problema mengenai masalah cara mem-verifikasi-kan idea yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada, atau mengenai "kedirian" (= "self-hood") dari dunia, baik yang menyangkut aspek eksterior-nya, maupun yang menyangkut aspek interior-nya, dari ke-diri-an manusia di alam semesta ini. Apa yang "diragukan", adalah bahwa sejak timbulnya filsafat kritis (= critical philosophy) didalam periode dominant-nya golongan substansialist dan orientasi yang diobjektifikasi-kan (Sesuai dengan Filsafat-nya Descartes), ungkapan rasa kekecewaan, atau "ke-tidak-puasan" terhadap kehidupan dunia ini, telah menjadikan munculnya, atau aktualnya, Filsafat Eksistensi, yang bersifat umum, ber-orientasi subjektif, atau introverted.
Salah satu dari ekspressi yang paling baik, dari titik-balik-nya pandangan filsafat, dapat kita temui didalam beberapa pernyataannya dari Gabriel Marcel, yang, antara lain, telah mendefinisikan filsafat Ke-Agama-annya (= Religious Philosophy), sebagai suatu "doktrin-harapan", atau "ajaran agar orang didalam kehidupan ini selalu memiliki harapan-harapan" (= doctrin of hope). Postulat pokoknya dari filsafatnya Gabriel Marcel, adalah bahwa filsafat itu harus bersifat : "transobjective, personal, dramatic, dan memang bersifat tragic pula". Selanjutnya Marcel berkata : "Saya tidak akan menyaksikan sesuatu, dengan memakai kaca-mata kehidupan; hendaklah kita selalu mengadakan introspeksi, peninjauan terhadap diri sendiri, setiap harinya." 18. Implikasi, yang sesuai dengan ajaran Agama Buddha, yang sama dengan sikap mental yang pokok ini, mungkin dapat kita ikuti keterangannya lebih lanjut didalam formulasi, di masa awal, dari kehidupannya Kierkegaard, yang bunyinya sebagai berikut ini : "Kehidupan ini dapatlah digambarkan semisal suatu keadaan orang yang sedang memakai topeng" ..... Kesibukan anda itu sebagian besar terdiri dari kegiatan melestarikan persembunyian diri anda.... Didalam faktanya, diri anda itu bukan apa-apa; pada hakekatnya : anda adalah hanya suatu relasi didalam hubungannya dengan orang-orang lain (= You are merely a relation to others), dan apa sebenarnya diri anda itu, tidaklah lain adalah diri anda didalam hubungannya dengan bagaimana sifat hubungan itu.... Apabila daya tarik atau pesona dari illusi (= khayalan palsu, tentang kehidupan diri anda, dan tentang dunia ini), telah dapat anda hancurkan, apabila eksistensi anda mulai berkeadaan tidak mantap lagi, maka lalu rasa putus asa anda mulai muncul dengan sendirinya, seperti keluar dari bagian bawah sadar dari diri anda. Keadaan keputus-asaan itu sendiri adalah suatu negativitas, suatu ketidak-sadaran terhadap keadaan yang demikian itu, merupakan suatu negativitas yang baru.... Itu adalah suatu keadaan sakit yang pada suatu saat dapat membawa orang ke kematiannya." 19.
Hanya dengan meninggalkan sikap mental yang lama, tidak lagi tertarik kepada pemakaian "kaca-mata" tingkat statis, mengenai "Keberadaan dari segala sesuatu" (= Being"), yang terdapat di dunia ini, untuk melihat kehidupan, orang akan dapat bergerak secara cukup leluasa di dunia ini, sehingga dia dapat memiliki persyaratan untuk dapat menyelam kedalam aliran eksistensi; tidak lagi terikat kepada beberapa tingkatan permulaan, atau "keadaan tetap tinggal di tempat semula". Hanya dengan cara itu, orang akan dapat secara sungguh-sungguh memulai berenang sepanjang aliran "samsaro", sehingga dia dapat merealisir, atau menghayati, Kasunyataan bahwa aniccam, atau aliran kehidupan yang bergerak secara terus menerus, yang keadaannya tidak permanent itu, akhirnya pada suatu saat menjadikan orang dapat menjadi sadar akan manfaat "memiliki kemampuan menyeberangi lautan kehidupan yang penuh dengan penderitaan.
Ini adalah suatu titik sejarah, dimana Filsafat Europa yang kontemporer, nampaknya cenderung akan dapat merealisir apa yang telah kami sebutkan diatas tadi. Adalah essensial untuk dapat merealisir, menggabungkan lagi secara erat dan tak terpisahkan, antara prinsip aniccam dan dukkham melalui intuisi, yang diperoleh dengan cara mengadakan interaksi secara langsung. Didalam situasi yang aktual, tidaklah perlu berlama-lama untuk mengambil kesimpulan, mengenai idea anatta, sebagai suatu hasil yang dinamis dari berkonfrontasinya prinsip aniccam dan dukkham. Sama keadaannya seperti ajaran Agama Buddha yang dinamai aniccam, ajaran anatta telah menjadi suatu kenyataan yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya, bagi kebanyakan orang Europa, yang latihan mental yang distandardisasi, yang sifatnya ilmiah dan philosophis, telah sampai pada titik berada diluar dari dogma mengenai Tuhan dan Roh. 20. Hantu mengenai faham uccheda-vado yang sifatnya materialistic, dari versi-nya Eroupa, juga tampaknya akan mulai menghilang. Mata rantai yang sifatnya kritis, itu hanya ada, antara keadaan yang tidak bersifat permanent (= impermanence) (= aniccam), dan keadaan mengalami penderitaan (= dukkham). Disebabkan karena pemikiran ilmiah yang telah mengalami objektifikasi, mata rantai yang hilang itu tidak pernah dapat diungkapkan oleh philosophi alam yang tunduk kepada ilmu pengetahuan, bahkan juga tidak oleh criticisme literair yang populer, seperti type-nya Russel, yang kutipannya telah kami kemukakan di bagian depan dari artikel ini. Adalah jelas bahwa hanya pengalaman eksistensial mengenai dukkham atau penderitaan, atau "kesedihan yang sangat", yang memungkinkan orang dapat memperoleh realisasi
Sekarang ini, kita berterima kasih, mengingat orang menjadi makin mudah memperoleh realisasi, karena adanya bencana-bencana dan mengalami akibat-akibatnya, yang hingga sekarang akibat-akibatnya itu masih dapat kita rasakan, setelah terjadinya Perang Dunia Ke-Dua, pada Abad Ke-Dua Puluh ini. Itulah sebabnya mengapa suatu philosophi baru, menjelang Perang Dunia Ke-Dua, telah muncul dan mulai berkembang di Eroupa secara eksplisit, sebagai philosophi mengenai "conscience" (= hati nurani), dan bukan philosophi mengenai "consciousness" (= kesadaran). Tampak dengan jelas juga bahwa mulai disadari didalam philosophi yang demikian itu, orang tidak perlu bertahan diri, dan berkepala batu, memegang teguh dilemma palsu, mengenai keharusan untuk memilih salah satu : apakah memilih philosophi, atau memilih religi (= Agama). Problema yang belakangan ini, yang berisi pembicaraan mengenai "kepercayaan yang bersifat philosophis" (= philosophical faith) adalah lebih penting bagi Agama Buddha, dari pada bagi Agama-Agama yang lainnya. Hal ini ekspressi dianostical-nya, yang paling baik, terdapat didalam beberapa essaynya Karl Jaspers, yang, sedikit kutipannya, yang dapat menunjukkan yang saya maksudkan, dapat saya sampaikan uraiannya sebagai berikut ini :
Adalah merupakan hal yang dapat dipermasalahkannya, apakah kepercayaan (=faith) itu mungkin ada tanpa dengan Agama. Philosophilah yang menciptakan pertanyaan yang demikian ini.... Manusia itu kehilangan kepercayaannya, karena dia kehilangan kepercayaan terhadap Agamanya; dan yang menyebabkan dia berkeadaan demikian, itu karena pemikirannya lebih ditujukan kepada sifat dari dirinya sendiri.... Tidak lagi, sebagai pembicaraan yang pertama, mengenai Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan Pribadi terhadap siapa,
Semua makhluk tergantung; juga bukan Dunia, yang merupakan pembahasan yang pertama; dan lalu adalah pembahasan mengenai diri Manusia sendiri; namun pembahasannya tidak dirinya sendiri sebagai sesuatu yang ada, tetapi merupakan usaha untuk mengatasi, atau men-transcendensi, dirinya sendiri.... Individu yang tidak lagi terlindungi, memang dapat saja lalu memunculkan pembahasan babakan waktu, tentang manusia, dengan segi physiognomy-nya .... (Dahulu di Eroupa) authoritas dari Lembaga-lembaga Keagamaan melindungi umatnya, membina rohani mereka, agar mereka dapat menjadi berkeadaan tenteram dan bahagia.... Sekarang (tampaknya) philosophi itu adalah merupakan satu-satunya pemberi pedoman hidup, khusus bagi orang-orang yang berkesadaran penuh, yang tidak lagi terlindungi oleh Agama. 21.
Adalah jelas bahwa yang dimaksud dengan "kepercayaan" (=faith), disini, tidak lagi pemahaman sebagai suatu kepercayaan terhadap sesuatu Wahyu, tetapi yang dimaksud adalah kepercayaan yang masuk akal, didalam suatu bimbingan spiritual yang memenuhi persyaratan, yang kemampuan moral dan intellektualnya, telah di-test dengan hati-hati dan teliti, didalam setiap kasus yang tunggal, oleh kriteria yang masak dan sehat (apannako dhammo); sebagai misalnya yang telah terbentuk dengan mantap oleh Sang Buddha didalam khotbah-khotbah beliau, yang tahan kritik, mengenai masalah-masalah Agama, yaitu yang tercantum pada naskah Apannaka-Suttam dan Canki-Suttam (M. 60 dan 95), agar supaya dapat menyisihkan cara penyampaian warisan dari generasi tua ke generasi muda, mengenai tradisi-tradisi religious, yang kosong, atau yang membuta, yang digambarkan dengan ungkapan sebagai : "memberikan keranjang kosong, dari seseorang, kepada orang lain", atau digambarkan sebagai : "sebuah tali yang diberikan kepada orang-buta". Dalam hal ini, terkenal kalimat yang berbunyi sebagai berikut ini : "Dari anda sendiri, adalah merupakan sang pembimbing bagi diri anda sendiri. Siapakah yang layak menjadi pembimbing terhadap diri anda sendiri, kalau tidak diri anda sendiri!?! (Dph 160).
Jean-Paul Sartre, adalah Filsuf lainnya, yang walaupun beliau sendiri bukan Filsuf yang religious, namun menyadari maha pentingnya problema yang bersifat religious, yang timbul dari prasangka pada zaman kita yang kritis ini, dan masih lebih khusus adalah dari prasangka implikasi-implikasi mengenai idea annicam, yang sifat metaphysis-nya lebih mendalam, lagi, yaitu sebagai non-substantialitas, yang mengancam akan meruntuhkan dasar ilmiah dari materialisme Abad Ke-Sembilan Belas. Situasi yang tragis dari realitas manusia di dunia ini terdiri dari fakta, bahwa disebabkan karena "kebebasan" karma-nya, manusia tidak sebagai "apa dia itu" (= what he is), lalu bergeser menjadi masalah "manusia sebagai makhluk yang tidak mampu dalam sesuatu hal, atau yang tidak memiliki sesuatu sifat" (= man is what he is not). Pernyataan yang demikian ini, implikasi-implikasinya telah dibuat tidak murni oleh banyak para pemikir di bidang keagamaan, yang sifatnya konservatif; sekalipun demikian hal itu berhubungan dan berkeadaan mirip dengan inti-sari fikiran-fikiran St. Augustine, seperti yang dikemukakan oleh Jaspers, yang merupakan hasil renungan keagamaan yang sangat mendalam, walaupun secara agak berbeda caranya, dengan fakta-fakta situasi eksistensial, yang tidak dapat dibantah, yang tersirat didalam ungkapan kalimat sebagai berikut ini : "Saya adalah diri saya sendiri, tetapi saya dapat saja mengalami kegagalan didalam mengamati sifat yang sebenarnya dari diri saya sendiri. Saya harus meletakkan kepercayaan saya kepada diri saya sendiri, tetapi saya memang tidak dapat mempercayakan sepenuhnya nasib saya kepada diri saya sendiri." 22.
Berbicara mengenai Filsuf Sartre, dapatlah dikemukakan bahwa dedukasinya yang pertama kali, dari realisasi pokok-nya mengenai ajaran Agama Buddha yang dinamai anicca-anatta adalah bahwa manusia (yang sifat-sifatnya telah dikemukakan dibagian depan dari artikel ini) dapat diungkapkan dalam satu kalimat : "Manusia adalah yang suka melampiaskan hawa nafsunya, secara tidak mendatangkan sesuatu manfaat". "Realitas manusia itu merupakan suatu usaha yang murni untuk memiliki sifat-sifat Ke-Tuhan-an, tanpa perlu memiliki sesuatu dasar yang kokoh atas adanya usaha yang demikian itu.... Keinginan yang dimilikinya dapat mengekspressikan usahanya yang demikian itu.... Secara fundamental dapatlah dikatakan bahwa manusia adalah sesuai dengan keinginannya dia itu bercita-cita menjadi apa (= Man is the desire to be)". Sama seperti ungkapan yang demikian itu, dia itu selalu hanya merupakan "project" - sesuatu "yang dilemparkan dengan suatu alat pelempar" yang bergerak dengan tiada henti-hentinya, dari titik masa lampau ke titik yang akan datang (seperti yang diformulasikan secara demikian, oleh Ortegay Gasset), tanpa suatu kemungkinan untuk mendapatkan ketenangan pada penghayatannya titik masa sekarang. Ini adalah merupakan tragedi dari "temporalisasi-nya, yang memiliki makna hakikinya sebagai yang berkeadaan aniccam. Hal ini menunjukkan bagaimana "eksistensi keinginan manusia sebagai suatu fakta itu cukup untuk membuktikan bahwa realitas manusia itu adalah sesuatu yang memiliki kekurangan-kekurangan." Lalu, bagaimana kemungkinannya penghindaran diri yang hakiki, atau "suatu pencapaian kebebasan" (dari penderitaan), yang dapat kita bayangkan?. Adapun sebab dari keadaan yang demikian itu, ialah karena realitas manusia itu keadaannya terungkapkan didalam kalimat yang berbunyi sebagai berikut ini :
"Ia merupakan sesuatu yang ada, yang keadaannya sedemikian rupa, yaitu bahwa didalam keberadaan dirinya, keberadaan dirinya itu bersifat berada didalam permasalahan, yang ada didalam wujud suatu project menjadi sesuatu". Atas dasar pemikiran yang demikian itu, sifat-sifatnya hanya dapat kita ungkapkan dengan kalimat sebagai berikut ini : "Kita dapat mengetahui dan mendapatkan kenyataan bahwa itu, secara lebih tepat kita katakan merupakan masalah, yaitu bahwa diri kita ini sebenarnya akan menjadi apa!?!; inilah yang telah kita ketemukan, dan ini adalah benar-benar sesuatu yang bernilai sangat tinggi. 23.
Seseorang yang ingin untuk dapat menyelam lebih dalam lagi ke dalam kemungkinan-kemungkinan yang demikian itu, kiranya perlu mengikuti nasehat yang berasal dari Gabriel Marcel, atau dari Bardyaev, dan mau berusaha untuk menyeberangi lautan kehidupan, sehingga dapat tiba di daerah seberang sana, diluar kemungkinan-kemungkinan yang dapat diekspressikan didalam sesuatu philosophi mengenai keberadaan dari segala sesuatu. Suatu alat, atau lebih tepat jika kita sebut "perahu", yang disediakan oleh Agama Buddha, walaupun mengandung pengertian yang bingkai isi pengertiannya lebih luas lagi, telah memiliki kemampuan penyesuaian-diri terhadap kebutuhan-kebutuhan yang eksplisit sifatnya, yaitu yang tersirat didalam kalimat philosophis dari Agama Buddha, (yang seperti telah diketahui, sudah kami kemukakan di bagian depan dari artikel ini), yang bunyinya sebagai berikut ini : "Bukan "ada" (= "being"), dan bukan "tidak-ada" (= non-being"), tetapi juga bukan keduanya digabung, bukan : ada-dan tidak-ada" (= "being-and-non-being"), pula bukan tidak "ada" dan tidak "tidak ada" (= neither-being-nor-non-being") (atau kalimat dalam bahasa Inggris seutuhnya adalah : "Neither being, nor non-being, nor both being-and-non-being, nor neither-being-nor-non-being"). *)
Catatan-catatan
1. Majjhima-Nikayo, uraian 146, dan beberapa teks lainnya. Kutipan-kutipan diambil dari Sutta-Sutta yang berbahasa Pali, terutama diambil dari penerbitan The Pali Society, yang merupakan seri-seri terjemahan. Referensi-referensinya adalah pada Majjhimani kayo (M), Digha-nikayo (D), Dhamapadam (D).
2. Kutipan-kutipan yang berasal dari buku yang berjudul : "An Outlines of Philosophy" (= "Garis Besar Filsafat"), Cetakan Ke-Tiga, Penerbitan : Allen and Unwin, London, halaman : 309, 290, 304, 294, 290, 5, 287, 289, 291, 292, 296, 297, 11, 300, 14.
3. Kutipan yang berasal dari bukunya R. Heywood, yang berjudul : "The Sixth Sense, an Inquiry into Extra-Sensory Perception" (= "Indra Ke-Enam, Suatu Penyelidikan Mengenai Persepsi Ekstra-Sensoris"), penerbitan : Pan Book, London, tahun 1958, halaman: 205-210.
4. Juga periksa bukunya R. Heywood, yang berjudul : "Religion, Philosophy, and Psychical Research" (= Agama, Filsafat, dan Penyelidikan Ke-jiwa-an), Penerbitan : Routledge, and Kegan Paul, London, 1953, halaman : 219-222.
5. Kutipan-kutipan berikutnya berasal dari buku yang berjudul "Classic American Philosophers" (= Filsuf-Filsuf Amerika Golongan Klassik), disusun oleh Editor Umum : M.H. Fisch, penerbitan : Appleton-Century-Crofts, New York, 1951, halaman: 163-164.
6. Bukunya K. Jaspers yang berjudul : "The Great Philosophers" (Filsuf-Filsuf Besar), disusun oleh Editor : R. Hart-Davis, penerbitan : London, 1962, halaman : 320.
7. Kutipan dari Buku yang berjudul : "Classic American Philosophers", op-cit, halaman : 160, 155, 161, 163n.
8. Dari bukunya I.M. Bochenski, yang berjudul : "Comtemporary European Philosophy" (= "Filsafat Eroupa Masa Kontemporer"), penerbitan : University of California Press, halaman 136.
9. Terjemahan kedalam bahasa Inggris dari karya utama, buku yang berjudul "Being and Time" (= "Masalah Menjadi Sesuatu dan waktu"), penerbitan Harper New York, 1962. Referensi yang kita ambil adalah dari buku edisi Bahasa Jerman, yang Ke-Tujuh, penerbitan : Tubingen, M. Niemeyer, Verlag, halaman : 28. ff.
10. Bukunya Bochenski, op-cit, halaman : 215.
11. Suatu analogi (=Kesamaan) yang erat antara formulasi anomy-anomy, yang empat mengenai pemikiran dialectical oleh Kant, dan struktur dasar, yang sama, mengenai empat kelompok "pandangan" (= ditthi) didalam Brahma-jala-suttam (D.1), telah kami kemukakan secara tunggal didalam karya tulis saya, mengenai "Keadaan saling-bergantungannya antara punar-bhava pada karma, didalam Filsafat Buddhis", dan "Pendekatan Saya Terhadap Filsafat India", yang tercantum pada Indian Philosophical Annual, Jilid I & II, 1965-1966, dibawah nama samaran saya : Chedomil Velyachich.
12. Bochenski, op-cit, halaman : 183.
13. Jean Wahl, dalam bukunya yang berjudul "A Short History of Existentialism" (= "Sejarah Singkat Mengenai Existentialisme"), penerbitan : The Philosophical Library, New York, 1991, halaman :2.
14. N. Berdyaev, didalam bukunya yang berjudul : "The Beginning and The End" (= Permulaan dari Langkah untuk Mencapai Tujuan Akhir), Penerbitan : Harper Torchbooks, 1957, halaman : 92. Juga periksa diskusi yang terdapat pada bukunya J. Wahl, pada catatan kaki 13, tersebut diatas.
15. Op-cit, halaman : 116 f.
16. K. Jaspers, didalam bukunya yang berjudul : "Philosophie", edisi ke-dua, penerbitan : Springer, Berlin, 1948, halaman : 314, 813, ; bukunya K. Jaspers didalam bahasa Inggris yang berjudul : "Man in the Modern Age" (= Manusia didalam Zaman Modern), London, 1959.
17. Didalam Buku Sejarah yang berjudul : "The Great Philosophers" (= Filsuf-Filsuf Besar), Bab mengenai Nagarjuna tidak dimasukkan didalam seleksi tersebut diatas (Catatan Kaki 6), didalam terjemahan bahasa Inggrisnya.
18. Bochenski, op-cit, halaman : 183.
19. Buku yang berjudul : "A Kierkegaard Anthology" (= "Anthology-nya Kierkegaard"), dibawah edisi R. Bretall, penerbitan : Princeton University Press, 1951, halaman : 99 (dan halaman : 346 dari buku yang berjudul : "The Sickness Unto Death") (="Sejak kakinya hingga Kematiannya").
20. Julian Huxley, didalam bukunya yang berjudul : "Religion Without Revelation" (= Agama Tanpa Wahyu), penerbitan : Watts, London, 1967, suatu analisa yang karakteristik terhadap masalah perlunya melepaskan elemen-elemen pada definisi Religi, yang up-to-date, yang tidak lagi merupakan suatu postulat yang essensial.
21. Dari buku yang berjudul : "Man In The Modern Age", halaman : 142 f. dan buku yang berjudul : "The Great Philosophers", halaman : 221.
22. Dari buku yang berjudul : "The Great Philosophers", halaman : 200.
23. J.P. Sartre didalam bukunya yang berjudul : "Being And Nothingness" (="Menjadi Sesuatu dan Ketidak-Adaan"), penerbitan : Methuen, London, 1966, halaman : 615, 579, 565, 97, 92.
http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=894&multi=T&hal=0
Read more...
dan Ilmu Filsafat
By:BHIKKU NANAJIVAKO
*Apakah mata ... (sebuah indria untuk melihat bentuk) dari sesuatu ... kesadaran penglihatan, itu bersifat permanent?
oBersifat Tidak Permanent, Tuanku.
*Tetapi yang bersifat Tidak Permanent itu, berkeadaan sangat menyedihkan,ataukah membahagiakan?
o Bersifat sangat menyedihkan, Tuanku.
*Apakah benar anggapan yang mengatakan bahwa sesuatu yang tidak permanent, yang bersifat sangat menyedihkan, yang bersifat mengalami perubahan-perubahan, itu jika kita terapkan pada (apa yang dinamai "Roh") yang menyebabkan ada ungkapan-ungkapan : "Ini kepunyaan saya!" "Inilah saya!" "Ini saya sendiri yang mengerjakan"! adalah anggapan yang benar?
o Tidak benar, Tuanku.
Pandangan-Terang dan Sempurna, serta penemuan-penemuan sifat-sifat yang sebenarnya dari jiwa manusia, yang terjadi kira-kira 2500 tahun yang lampau, pada zamannya Sang Buddha (atau bahkan mungkin beberapa abad sebelumnya) itu mungkin telah menyebabkan adanya pengaruh yang revolusioner dan mendalam terhadap evolusi pandangan-pandangan-dunia, yang tidak kurang pentingnya dari pada penemuan Galileo dan Copernicus, yang telah menggoncangkan pandangan-dunia dari peradaban Kristen di Zaman Abad Pertengahan. Penemuan yang belakangan, yang menandakan mulai tibanya peradaban modern, telah menjadi bagian yang utama dari pemikiran umum, atau informasi umum, yang telah dapat diajarkan kepada anak-anak di kelas terendah di Sekolah Dasar, dan telah secara normal diserap oleh mereka, tanpa mengalami kesukaran.
Idea mengenai ketidak-kekalan (= impermanence) dari perubahan yang tidak henti-hentinya, yang disebabkan karena "mata-rantai" yang tidak berhenti, dari sebab-akibat, (suatu pokok pembicaraan yang kita usahakan mendekatinya didalam versi-nya Agama Buddha, dengan istilah "Aniccam") itu didalam arti luasnya, telah menjadi salah satu dari ajaran yang telah disederhanakan dan telah menjadi pandangan semua umat Buddha, baik didalam arti formalnya, maupun didalam arti substantialnya, yang telah merupakan arti-kata yang konvensional, serta yang sifatnya masih belum dikembangkan. Didalam keadaan yang demikian itu, ajaran tersebut masih dapat diajarkan di tingkatan Taman Kanak-Kanak, dan juga di beberapa Sekolah jenis tertentu, didalam mata pelajaran Sejarah Kesusasteraan. (Apabila saya boleh memilihkan cuplikannya, yang mempunyai dasar yang cukup mendalam, pada mata pelajaran ilmu filsafat yang lebih rumit sifatnya, yang berbentuk syair modern, yang berhubungan dengan intuisi atau ilham, saya dengan tidak ragu-ragu mengambil baris-baris dari syairnya T.S. Eliot, yang berbentuk quartet, sebagai berikut ini :
* Debu-debu beterbangan, ada yang melekat pada bajunya orang laki-laki tua.
* Ada yang beterbangan, dan melekat pada daun-daun pohon bunga mawar yang membuat layu bunganya.
* Air dan Api muncul saling berganti.
* Di kota, di rerumputan, dan disemak-semak yang liar
Kita dapat mengharap untuk dapat menemukan kembali arti aselinya dan arti sebenarnya, sesuai dengan sejarahnya, dari ajaran tersebut diatas, hanya apabila kita mau meninjaunya dengan tujuan yang mantap, yang dibimbing oleh beberapa kesan-kesan individual yang impressive, atau berdasarkan kasus-kasus khusus, dan oleh konsekwensi-konsekwensi applikasinya yang kongkrit, didalam theori-theori philosophis, dan ilmiah, yang benar-benar terjadi didalam kehidupan yang nyata. Berikut ini saya akan mencoba mengemukakan contohnya beberapa buah, untuk menolong memberikan gambaran tentang yang saya maksudkan.
Satu : Ketika saya masih menjadi guru-muda, sewaktu saya pertama kalinya mencoba menerangkan kepada anak-anak yang umurnya kira-kira dua belas tahun, mengenai proses biologis dari tanaman kobis (= cobbage) dan kentang, titik tekanan saya pada pentingnya tahi-sapi (saya tidak mempergunakan istilah tehnisnya "rabuk"), ternyata apa yang saya ajarkan itu sangat berkesan, sehingga keesokan harinya, saya kedatangan ibu dari siswa saya, yang mengeluh atas "methode-langsung" dan "naturalisme yang drastic" didalam cara mengajar saya secara visual itu. Diceriterakan oleh ibu tersebut bahwa anaknya begitu sangat terpengaruhi dari ceritera saya, sehingga dia sangat muak memakan sayur kobis dan kentang. Demikianlah, saya begitu terkesan bagaimana mudahnya kenyataan yang dianggap oleh umum sebagai suatu kebenaran tentang hukum alam - yang penemuannya, pada suatu ketika, dapat diberlakukan (atau bahkan dapat dinyatakan dengan tegas) sebagai bersifat revolusioner, oleh instruksi-instruksi sosial yang authoritative dan dihargai tinggi, - masih tetap dapat mengungkapkannya secara tak terduga didalam kekuatannya yang pernah didalam diri jiwa generasi-generasi muda yang masih murni dan segar.
Kedua : Didalam kehidupan diri saya sendiri, semasa umur belasan tahun, semasa antara Perang Dunia Ke-Satu dan Perang Dunia Ke-Dua, terdapat deadlock antara ilmu pengetahuan dan Agama yang begitu tajam, sehingga kurikulum sekolah pada Sekolah Menengah telah mengikat jiwa para Guru untuk berkewajiban menghindari krisis hati-nurani. Para Guru, secara keseluruhan mengikut sertakan dirinya pada perjuangan keyakinan keagamaan, yang secara tajam berusaha memenangkan satu fihak dan mengalahkan fihak yang satunya lagi. (Di Eroupa ketika itu), perjuangan dari fihak yang mengagungkan ilmu pengetahuan dan mengalahkan Agama, secara normal, lebih kuat dari fihak lawannya. Sejak saat itu, Agama dikalahkan (oleh pengaruh ilmu pengetahuan) di Eroupa, yang mengakibatkan makin banyak hasil-hasil larangan-larangan (untuk menentang Agama), menjadikan makin tertariknya para remaja didalam mempelajari ilmu pengetahuan. Keadaan yang demikian itu tidak hanya terdapat di Eroupa Timur saja, tetapi ilmu pengetahuan itu memanglah tidak hanya menjadi haknya negara-negara komunis saja. Kecenderungan anti-ilmu pengetahuan dari fihak Filsafat dari ("Kontinental") Eroupa, muncul, dan mengkhawatirkan adanya bencana yang mengancam moral yang masih menguasai fikiran para generasi muda, lebih dari pada hanya merupakan suatu problema tentang "posisi manusia didalam alam semesta".
Issue centralnya didalam mana konflik-konflik antara ilmu pengetahuan dan Agama ini, akhirnya, di kalangan orang-orang muda pada waktu itu, menimbulkan prasangka, tentu saja, terhadap problema Anatta ("Ajaran" No-Soul, "yang merupakan ekspressi kita atas istilah Buddhis, yang maksudnya" bahwa pada diri kita, tidak terdapat Roh, atau Jiwa, yang sifatnya memiliki Inti-Ke-Aku-an). Hukum-hukum yang menguasai Proses-Proses sebab dan akibat, dapatlah diterangkan secara ilmiah - atau paling sedikitnya dapat difahami oleh fikiran yang belum begitu masak, menimbulkan kesan adanya pertengkaran secara terbuka antara ilmu pengetahuan dan Religi (didalam hal ini Agama Non-Buddhis). Mengenai ajaran anicca-vada (= theori ketidak-tetapan) yang murni, yang berisi keterangan mengenai penyangkalan substantialitas material yang mendasari dunia, keterangan-keterangannya belum disusun secara mantap, yang mempunyai kesamaan dengan istilah-istilah dalam ilmu pengetahuan. Sebagai ganti dari yang tersebut diatas itu, keterangan yang diberikan kepada kita pada waktu itu, masih diikuti pola materialisme mechanistic dari Yunani Klassik, atau atomisme yang static, yang pandangannya dekat dengan pemahaman Buddhisme tentang uccheda-vado (= theori perusakan atau penghancuran), yang orang-orang yang mempercayainya, dideskripsikan didalam teks Bahasa Pali, sebagai berikut ini :
................. Lalu dia mendengar Sang Guru Yang Maha Sempurna itu pada suatu ketika mengemukakan ajaran beliau untuk melenyapkan semua dasar "pandangan-pandangan hidup", yang semua berisi prasangka-prasangka, obsessi-obsessi, dogma-dogma dan buruk-sangka buruk-sangka, untuk menenangkan semua proses, untuk melenyapkan semua substrata dari eksistensi, untuk melenyapkan keinginan-keinginan untuk melenyapkan hawa-nafsu hawa-nafsu, untuk menghentikan atau melenyapkan sifat-sifat negatif. Kemudian dia berfikir : "Saya akan dilenyapkan, saya akan dihancurkan! Eksistensi saya akan tidak lama lagi". Oleh karena itu, dia merasa sangat sedih, sangat susah, dan berhati muram: dengan memukul-mukul dada, dia menangis, dan terjatuh karena hantaman rasa sedihnya. Demikianlah, para Bhikkhu, terdapat kecemasan didalam realitas kehidupan ini. (M.22).
Terhadap hal yang demikian itu, satu-satunva jawabannya yang authentic, berbunyi sebagai berikut ini :
Karena didalam kehidupan yang nyata ini, seorang tathagata (didalam hal ini, secara umum yang dimaksudkan adalah seorang manusia dalam arti yang luas), tidaklah dianggap sebagai eksistensi didalam kenyataan, didalam realitasnya, itu layak bagi anda untuk menyatakan pendapat anda sebagai berikut ini "Seperti saya telah memahami ajaran yang diberikan oleh Yang Maha Mulia, sejauh seorang Bhikkhu telah menghancurkan asava-asava (= kemabukan atau hawa nafsu untuk dapat "hidup"), dia (= kepribadian dirinya) pecah dan lenyap, sewaktu badan jasmaninya hancur namun : apakah sesungguhnya keberadaannya, setelah dia meninggal dunia itu lenyap?". (S.XXII, 85, 33).
Kemungkinan logisnya dari jawaban yang demikian itu, tersingkirlah, terkeluarkan, oleh premis-nya sendiri. Premis yang sama, yang menyingkirkan, yang mengeluarkan, yang menjadi lawannya, adalah kemungkinan affirmative-nya. (Kami akan kembali membicarakan problema ini, sebagai yang difahami oleh filsafat kontemporer didalam Seksi Lima!).
Adalah penting untuk menggaris bawahi disini, bahwa premis yang sama, uccheda-vado, atau secara sederhananya kepercayaan materialistic, didalam suatu "perusakan atau penghancuran" yang sifatnya substansial, dari sesuatu wujud dari makhluk, atau benda, itu berkeadaan bertentangan secara ekstrim dengan suatu nihilisme yang authentic didalam ontology dan epistemology (theori tentang "ada", dan theori tentang "pengetahuan"). Hanya suatu filsafat yang idealistic, secara eksplisit, yaitu "yang memandang dunia sebagai suatu gelembung sabun, atau khayalan belaka" (Dph 170), yang dapat bersifat nihilistic didalam beberapa hal, sedang uccheda-vado sebagai suatu "theori perusakan atau penghancuran" sangat membutuhkan adanya kepercayaan yang berakar secara eksistensialis, didalam substansi material".
Itu sama keadaannya dengan perasaan yang beranggapan bahwa ditengah-tengah arena pertempuran antara ilmu pengetahuan dan Agama, dan menjelang tibanya Perang Dunia, teryata anak-anak manusia yang hidup pada pertengahan pertama dari Abad Ke-Dua Puluh, telah menghadapi fatalitas-nya perusakan atau penghancuran physik dan moral, yang secara ilmiah, dan diyakini tidak mengalami kesalahan perhitungan, masih menantikan bukti nyatanya, di bidang pengalaman manusia. Tetapi di sebelah sananya dari garis cakrawalanya intelektual, waktu fajarnya telah menampak, karena ilmu pengetahuan itu, paling sedikitnya, telah mencapai posisi yang sama sekali berbeda, dan telah vis a vis, menghadapi problema tentang ketidak-kekalan (= impermanence) dan relativitas, sebagai yang mempengaruhi struktur subatomic yang paling dalam dari dunia - suatu posisi yang dianggap dekat dengan idea Buddhis mengenai ajarannya yang dinamai "aniccam".
Tiga : Sejak tahun 1927, bukunya Bertrand Russel, yang berjudul : "An Outlines of Philosophy" (= Garis Besar Ilmu Filsafat), telah diakui secara luas sebagai salah satu penyajian populer, yang paling baik, mengenai perubahan-perubaban radikal didalam pandangan-jagad, yang ilmiah, yang berakar dari theori relativitas-nya Einstein, dan hasil perkembangan dari physika nuklir. Saya akan mencoba mengemukakan secara garis besarnya, pernyataan-pernyataan Russel, sejauh ada hubungannya dengan garis besar dari pokok-pokok uraian saya, yang berkaitan dengan problema essensial kita, yaitu mengenai penolakan pandangan mengenai substansi (= substance - view) oleh ilmu pengetahuan modern, karena penolakan inilah yang membentuk inti anicca-vado-nya Buddha, sebagai suatu fondasi (paling sedikitnya didalam skema ajaran tilakkhanam), yaitu mengenai ajaran dukkham dan anatta-nya.
Marilah kita memulai pembahasan kita, dengan mengdefinisikan idea "substansi" physical, yang dengan istilah ini kita maksudkan adalah deskripsi pokoknya dan implikasi philosophis-nya, sebagai yang dinyatakan didalam sumber-sumber dari Sutta-pitakam. Problema mengenai substansi ini, sebagai yang didefinisikan oleh theori-theori ilmiah (atau dari aliran lokayatam) yang ada dizamannya Sang Buddha, mendapatkan formulasinya yang klassik, dan pembatasannya yang imperative dan pemecahannya didalam bentuk istilah-istilah yang pendek didalam jawaban yang bersifat yang mengandung kesimpulan-kesimpulan, sebagai jawaban terhadap Kevaddoho (D. 11.) :
* Dimanakah beradanya tempat yang menjadi dasar berpijaknya : tanah, air, api, dan angin; benda-benda yang panjang dan yang pendek, yang halus dan yang kasar; yang murni dan yang tidak murni; karena sukar kami ikuti jejaknya?. Dimanakah perginya dari apa yang dinamai "nama" dan "bentuk" itu jika lenyap, karena tidak meninggalkan sesuatu jejak?.
* Apabila intelleksi (= vinnanam = intellection) itu berhenti, maka semuanya menjadi berhenti pula.
Mengenai uraian tentang hubungan yang sifatnya kategoris dari "jiwa" dan "bentuk" (atau "nama" dan "bentuk", "nama-rupam", sebagai yang terimplikasikan, atau tersimpulkan, didalam formulasi yang akan dikemukakan nanti), pernyataan berikut ini, dari Sang Buddha, adalah merupakan yang paling adekwat dan juga merupakan yang paling bersesuaian dengan pokok pembahasan kita. Dan Sabda Sang Buddha itu adalah sebagai berikut ini :
Adalah lebih baik, kiranya, o, para bhikkhu, bagi orang-orang yang tidak begitu mahir mengatasi gangguan-gangguan keduniawian, untuk menganggap tubuh ini, yang terbentuk dari ke-empat elemen, sebagai "self"-nya, yang agak kurang tepat jika itu dianggap sebagai jiwa-nya. Karena terbukti bahwa badan ini mungkin dapat dipakai selama setahun, atau mungkin dua tahun, atau tiga tahun, atau empat tahun, atau sepuluh tahun ... atau bahkan hingga seratus tahun, atau lebih. Tetapi sesuatu yang dinamai fikiran (= thought) atau jiwa (= mind), atau kesadaran (= consciousness), (itu, kegiatannya) berlanjut terus, selama waktu siang hari dan malam hari, yang gambaran-gambaran di alam fikiran itu selalu muncul, lalu lenyap, gambaran fikiran yang satu berganti dengan yang lainnya, itu adalah berbeda sifatnya dengan badan (yang nampak ini). (S.12,62).
Sekarang, marilah kita renungi beberapa kutipan dari keterangannya Bertrand Russel 2, sebagai berikut ini : Pertama-tama, marilah kita bicarakan tentang substansi-zat, dia berkata demikian ini :
Dimasa-masa yang lampau, anda mungkin mempercayainya, atas dasar suatu philosophi tertentu bahwa roh (= soul) itu adalah merupakan suatu substansi (= substance) dan bahwa semua substansi itu adalah tidak dapat dihancurkan... tetapi pengertian substansi itu, didalam arti suatu entity yang sifatnya "permanent", namun dengan keadaan-keadaannya yang selalu mengalami perubahan-perubahan; pandangan yang demikian itu tidak lagi dapat diapplikasikan terhadap alam dunia.
Suatu gelombang di laut dapat bertahan lama atau sebentar saja; gelombang-gelombang atau ombak-ombak yang dapat saya lihat memecah menjadi gelombang-gelombang kecil, yang terdapat di pantai Cornish, itu mungkin semuanya berasal dari Brasil, tetapi itu tidak berarti bahwa sesuatu "benda" telah mengadakan perjalanan jauh melintasi Samudera Atlantic; itu hanya berarti bahwa suatu proses perubahan tertentu telah terjadi dan terdapat di sepanjang "garis wilayah" di Samudera.
(Theori relativitas-nya Einstein) itu mempunyai konsekwensi-konsekwensi philosophis, yang apabila mungkin, bahkan bersifat lebih penting. Substitusi mengenai ruang-waktu untuk ruang dan waktu, telah menyebabkan kategori substansi bersifat kurang applikatif dari pada masa-masa sebelumnya, karena essensi substansi itu bertahan melalui waktu, dan sekarang tidak ada lagi yang namanya waktu kosmos, yang konsepsinva dapat dipertahankan.
Kita dapati bahwa zat (= matter), didalam ilmu pengetahuan modern, telah kehilangan soliditas-nya dan substantialitas-nya; itu menjadi hanya merupakan gambaran fata-morgana mengenai keagungan masa lampaunya saja.... Pengertian tentang zat didalam ilmu physika modern, telah menjadi terserap kedalam pengertian energi.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa "zat itu menjadi penyebab bekerjanya sensasi-sensasi kita" ....Dengan kata lain "zat" telah mengalami perubahan, tidak lebih hanyalah merupakan tulisan tangan singkat yang konvensional, untuk menyatakan bahwa hukum-hukum sebab-akibat itu bekerja pada peristiwa-peristiwa.
Jadi, kita ini telah terikat pada persebaban (atau hukum sebab dan akibat) sebagai suatu kepercayaan yang sifatnya apriori, tanpa mana kita menjadi tidak memiliki alasan untuk mendukung pengertian, misalnya bahwa suatu "kursi" (atau sesuatu benda lainnya) itu ada.
Selanjutnya, mengenai teori peristiwa-peristiwa (= theory of events), kita mencatat bahwa idea tentang elemen-elemen yang sifatnya static dan mantap, dari "zat" (= matter), itu telah terganti oleh pengertian "peristiwa-peristiwa yang tidak ditentukan terlebih dahulu, yang sama keadaannya dengan theori lapangan electrodinamika quantum didalam ilmu physika nuklir, yang ternyata menjadi sangat erat hubungannya dengan konsepsi idea phenomenologis yang murni, tetapi tidak bersifat physis, dari dhamma, yang tersirat didalam makna primitive-nya dari khanika-vado, yaitu suatu theori mengenai keadaan yang bersifat sementara saja dari sesuatu (= momentariness), dari Abhidhamma-pitakam (Aspek yang disebutkan terakhir ini, uraiannya secara philosophis dan secara implisit, akan disampaikan secara garis besarnya, didalam Seksi Lima, di bagian belakang dari artikel ini!). Mengenai hal yang kami sebutkan itu Russel menulis sebagai berikut:
Segala sesuatu yang terdapat di dunia ini, tersusun dari "peristiwa-peristiwa" .... Suatu "peristiwa" adalah beberapa hal yang berada didalam sejumlah kecil dan terbatas, dari ruang-waktu.... Peristiwa-peristiwa itu dapat ditembus, keadaannya tidak seperti anggapan bahwa zat itu bersifat demikian; sebaliknya, setiap peristiwa didalam ruang dan waktu itu saling tumpang-tindih, dengan peristiwa yang lainnya.
Saya ber-assumsi bahwa setiap peristiwa itu bersifat kontemporer, namun bergabung dengan peristiwa-peristiwa yang tidak bersifat kontemporer, yang satu berhubungan dengan yang lainnya; inilah yang saya maksudkan dengan kalimat saya yang berbunyi bahwa setiap peristiwa itu hanya berlangsung dalam waktu yang terbatas.... Waktu itu secara keseluruhan berhubungan dengan satu dengan yang lainnya.
Susunan waktu-ruang, sama seperti titik-titik dari waktu-ruang itu, menghasilkan hubungan antara peristiwa-peristiwa.
Cobalah anda bandingkan uraian yang disebutkan terakhir itu, dengan uraian berikutnya, yang merupakan ungkapan yang dikemukakan oleh Buddhaghosa didalam Atthasalini, yang bunyinya sebagai berikut ini : "Dengan sarana waktu-lah, orang-orang suci menggambarkan sifat-sifat dari fikiran atau jiwa (= mind), dan dengan sarana fikiran atau jiwa-lah orang-orang suci menggambarkan sifat-sifat dari sang waktu".
Suatu kelompok peristiwa-peristiwa, yang penting, yaitu kegiatan-kegiatan mempersepsi, barangkali dapat kita namai mental".
Mentalitas itu adalah suatu peristiwa dari hukum-hukum persebaban (hukum sebab dan akibat), tidak merupakan suatu kwalitas dari peristiwa-peristiwa, yang tunggal, dan juga, mentalis itu sebenarnya adalah suatu masalah tingkatan-tingkatan.
Apakah fikiran atau jiwa itu? Fikiran atau jiwa, itu haruslah merupakan suatu kelompok peristiwa-peristiwa mental, karena kita menolak pandangan yang mengatakan bahwa suatu entity yang tunggal, sebagai misalnya pandangan lama mengenai "ego" (itu tidak tepat).... Konstitusinya, atau keadaannya, adalah sama dengan "kesatuan dari 'pengalaman'.".
Sebagai hasil dari pemikiran-pemikiran yang demikian itu, Russel mengambil kesimpulan, dengan berkata sebagai berikut : "Pertama-tama yang paling penting dari semuanya, hendaklah anda melenyapkan perkataan "aku", karena : jika anda hanya mempercayai pendapat orang lain, itu berarti anda tidak menarik kesimpulan secara langsung, dan itu bukan merupakan bagian yang anda ketahui dengan mata kepala anda sendiri."
Akhirnya, kemungkinan yang logis dari suatu pandangan yang dinamai uccheda-vado (= theori perusakan atau penghancuran), itu mengandung arti bahwa dengan pemikiran yang demikian itu, telah melenyapkan secara eksplisit, atau bahkan hanya berdasarkan pemikiran ilmiah (yang tidak sempurna), seperti yang diungkapkan dalam kalimat : "Apakah fikiran, atau jiwa, itu merupakan suatu stuktur dari unit-unit material?"; menurut hemat saya itu adalah merupakan hal yang negatif, adalah sebaliknya dari kebenarannya.
Kita dapat menarik kesimpulan dari survey ini, dengan menerima tanpa perlu mengemukakan alasan-alasan lainnya lebih lanjut, dari pendapatnya Russel, yang bunyinya sebagai berikut ini : "Problema-problema yang telah kita kemukakan itu, bukan merupakan problema yang baru, tetapi cukup dapat menunjukkan bahwa pandangan dunia kita, yang berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari, dan hubungan kita dengan hal tersebut, adalah bersifat tidak memuaskan."
Empat : Akhir-akhir ini, theori lapangan (= field theory), sebagai ganti dari theori substansi didalam ilmu physika, yang telah ditinggalkan, applikasinya makin berkembang, - paling sedikitnya sebagai suatu analogi hypothetis, pada bidang-bidang pemikiran ilmiah, yang lainnya, dan bahkan lebih-lebih pada spekulasi-spekulasi philosophis ke keterbatasan pada suatu kemungkinan (dan kadang-kadang ke ketidak-mungkinan), perluasannya pada "ilmu-ilmu pengetahuan khusus, itu merupakan perluasan dari masalah fikiran atau jiwa. Applikasinya ke para-psychology adalah merupakan suatu perhatian yang istimewa, di luar alam physik, dan menjangkau ke keberadaan dari sesuatu yang ada di luar yang terbatas".
Sejauh saya tahu, Gardner Murphy-lah yang telah memberikan kepada kita tentang suatu analogi para-psychologis, mengenai theori lapangan, yang paling logis, dan yang uraiannya bersifat eksklusif. Suatu rekapitulasi yang singkat dari thesis-nya, adalah sebagai berikut ini :
Aksinya zat yang dinamai kehidupan (= living matter) terhadap zat yang dihuni kehidupan, yang lainnya, itu tidak pernah merupakan kasusnya cell tunggal terhadap cell tunggal yang lainnya. Pada peristiwa tersebut menyangkut keseluruhan struktural atau suatu lapangan (dari energi). Prinsip lapangan (dari energi) itu dapat bekerja pada bidang psychis (= kejiwaan), dan juga pada bidang physis (= kejasmanian), dan lapangan psychis mungkin meluas ke belakang atau ke muka, didalam arena waktu, dan juga didalam arena ruang. Pertanyaan yang berbunyi : "Apakah personality (= kepribadian) itu tetap hidup secara abadi?" itu bagi pandangan Murphy, merupakan pertanyaan yang tidak lagi perlu dikemukakan.
Apabila sesuatu aktivitas psychis itu tetap hidup terus, atau bersifat abadi, itu akan menjadi aspek dari lapangan-lapangan yang berbeda-beda, dan dengan demikian lalu akan mengambil kwalitas-kwalitas yang baru, serta akan memiliki hubungan-hubungan struktural yang baru pula. Maka lalu adalah jelas bahwa bagi dia, "semua aktivitas personal itu secara tetap konteknya mengalami perubahan-perubahan dan saling berinteraksi, yang satu dengan yang lainnya, dan barangkali lalu satu dengan yang lainnya menjadi bagian dari proses kosmos" 3.
Ahli ilmu-jiwa yang lainnya lagi, didalam lapangan parapsychology, yang bernama C.D. Broad, telah mengadakan penyelidikan mengenai masalah "Fikiran atau Jiwa, Letaknya Didalam Alam" (= The Mind and Its Place in Nature"), dari sudut pandangan suatu kemungkinannya mengalami "survival"-nya dari "komponen-komponen psi", yang lalu menarik kesimpulan dari basis analogy-nya yang sama, dengan ilmu pengetahuan physika, bahwa : "Kita tidak perlu lagi beranggapan bahwa, walaupun komponen psi yang berkeadaan "survive" itu mungkin sifatnya tidak memiliki atau tidak bersifat jasmaniah (bodiless), itu perlu memiliki sifat tidak meluas dan tidak menempati suatu lokal tertentu: karena, sekarang ini, kita telah sangat memahami akan phenomena-phenomena yang demikian itu, sebagai misalnya lapangan electro-magnetis, yang tidak dapat kita katakan memiliki badan-badan, didalam arti yang biasa, tetapi tetap memiliki struktur dan sifat-sifat serta disposisi-disposisi, yang tertentu. Haruslah kita tidak berfikir bahwa itu (yaitu komponen psi yang berkeadaan "survive") itu sebagai sesuatu yang atas mana suatu pengalaman dikesankan, sebagai suatu cap yang disentuhkan pada suatu bola lilin. Sebaliknya, theori yang tidak mengakui adalah substansi itu, mengandung kesimpulan adanya suatu survival, yang tingkatannya lebih tinggi, dari pada hanya suatu komponen psi yang tidak aktif, yang keberadaannya hanya sebentar saja." 4.
Eksponen-eksponen dari theori parapsychologi yang sama, juga mempertahankan pendapat mereka bahwa hypothesis mereka mungkin dapat memberikan suatu keterangan yang lebih adekwat untuk menambah informasi-informasi mengenai phenomena ketidak-sadaran dari jiwa, yang diselidiki oleh para ahli pysychoanalisa, khususnya yang menyangkut theori archetype-archetype-nya Yung, yang lebih baik dari usahanya yang pertama kali, dari Freud, yang telah dicap sejak pertama kalinya dikemukakan, sebagai tidak dapat dipertahankan secara ilmiah, karena ada analogi dengan ajaran Plato, yang berhubungan dengan struktur basis dari roh (= soul).
Semua yang disebutkan diatas tadi, banyak sedikitnya merupakan analogi adhoc, dengan theori lapangan didalam ilmu physika, dan dapat dihubungkan pula, dengan hypothesa metaphysis yang awal, yang diformulasikan dalam suatu basis philosophis yang lebih luas oleh William James, didalam bukunya yang berjudul "Pluralistic Universe" (= "Alam Semesta yang Pluralistas") 5.
Berbicara mengenai struktur dari "kehidupan batin kita", James berkata sebagai berikut ini :
Setiap bagian yang paling kecil dari diri kita, setiap saat, merupakan bagian yang tak terpisahkan, dari suatu diri yang lebih luas (= wider self) .... Apakah ini tidak berarti bahwa diri saya dan diri anda itu akan bertemu didalam suatu titik kesadaran yang lebih tinggi tingkatannya, dan disana keadaannya tidak diam, tetapi aktif, walaupun sekarang kita belum dapat mengetahuinya? ... Itu ber-analogi dengan.... fakta-fakta yang ditemui didalam apa yang dinamai "penyelidikan psychis" (= psychical research), dan dengan pengalaman-pengalaman religious, yang membentuk... suatu kemungkinan yang luar biasa pentingnya, yang sifatnya menentukan, yang memberi perkuatan (terhadap hypothesis yang sifatnya pluralistic, yang dikemukakan kemudian, yang berisi ungkapan-ungkapan kalimat sebagai berikut :)
Mengapa kita harus menutupi "yang banyak" itu dengan "yang tunggal", yang didalam penelacakannya mendatangkan begitu banyak hal-hal yang agak mengarah ke terdapatnya suasana "yang berracun" .... (kecuali jika kita menerimanya) sepanjang itu menyangkut kesadaran supermanusia, yang pengertiannya tidak meliputi segala hal; dengan kata lain, terdapat Tuhan, tetapi yang sifatnya terbatas, baik didalam bidang kekuasaannya, maupun di bidang pengetahuannya, atau didalam kedua bidang tersebut, secara sekaligus.
Ini secara tepat, berkeadaan berbeda antara konsepsinya Vedanta, dan Buddha, mengenai Tuhan, atau deva-deva, yang juga mengandung makna atau keterangan mengapa James beralasan, didalam beberapa bidang, yang agak menyetujui konsep polytheistic, sebagai suatu : "hasil dari criticisme terhadap yang absolut", didalam kontek yang sama.
Lima : Adaptasi dari hypothesa-hypothesa yang dipinjam secara ad hoc. dari lapangan-lapangan yang heterogeen, dari ilmu pengetahuan, itu dapat dan harus memang dapat meng-verifikasi-kan dan menerangkannya hanya dengan penyelidikan philosophis yang layak, dengan mempergunakan methode-methode yang autonoom, dan yang telah membentuknya berdasarkan usahanya sendiri, suatu dasar anthropologis yang murni. Sejak permulaan abad ke-dua puluh, hal yang demikian itu telah dilakukan orang, dan selalu berkeadaan makin jelas dan makin eksplisit. Hasil-haslinya luar biasa hebatnya, paling sedikitnya sejauh menyangkut problema kita yang primodial, yaitu mengenai nilai kemanusiaan dari ajaran aniccam, dan arti fundamentalnya yang berhubungan dengan ajaran dukkam dan ajaran anatta.
Sikap philosophis yang layak telah didefinisikan, tidak berhubungan atau menyangkut masalah physik, tetapi agak mengarah, atau cenderung, ke pandangan jagad yang bersifat historical (= historical world view), se awal pada akhir pada ke-sembilan belas, oleh Wilhelm Dilthey, pendiri philosophi modern tentang kultur. (Beliau berkata sebagai berikut ini :)
Ungkapan pernyataan, atau keterangan, yang final, mengenai pandangan historical, adalah bahwa perubahan-perubahan mengenai kemanusiaan, pada setiap jenis tinjauan, itu bersifat relative, yaitu bahwa segala sesuatu itu merupakan pergerakan didalam proses tidak ada kestabilan.
Dan, tetapi, orientasi yang historical ini tidak dapat mempertahankan posisinya yang predominant pada abad ke-dua puluh, di lingkungan philosophi di Eroupa. Filsuf kebudayaan, atau kultur (= philosopher of culture) yang paling penting didalam pertengahan abad sekarang ini, adalah Karl Jaspers, yang telah mendiskusikan masalah prioritas-nya dari pertanyaan : "Apakah manusia itu? (= "What is man?) (sebagai yang diformulasikan oleh Kant), dengan menunjukkan bahwa prioritas-nya itu "tidak berarti bahwa pengetahuan mengenai keberadaan dari segala sesuatu" itu lalu diganti tempatnya oleh pengetahuan tentang manusia. Karena masih tetap berkeadaan essensial, maka manusia tidak dapat didekatinya hanya melalui eksistensi-nya sebagai manusia", yaitu melalui historical-nya "6.
Kalau kita teruskan pembicaraan kita mengenai Edmund Husserl, yang telah mendirikan dasar epistemologis dan logis, yang telah diterima secara paling luas, di Eroupa atau di bidang Filsafat Kontinental, pada abad sekarang ini, kita ketahui bahwa ternyata problema mengenai "keberadaan dari segala sesuatu" (= "beings"), itu telah memegang peranan yang central, dan penting, serta dapat mempertahankan pandangannya dengan cukup kuat, dan bertahan lama. Adalah penting, terutama kalau kita memandangnya dari sudut pandangan Buddhis, bahwa postulat-nya yang pokok, dari Husserl yang berbunyi : "Kembali ke benda itu sendiri" (= "Back to the things themselves!), itu tidak, dan dalam sesuatu cara apapun, mengandung kesimpulan bahwa arti "benda" menurut pandangan golongan penganut faham substansialist, didalam arti klassiknya, yaitu ontologi yang orientasinya physik, atau theori tentang "keberadaan segala sesuatu", yang telah ditolak oleh ilmu physika modern. Arti "keberadaan dari segala sesuatu" itu secara radikal telah mengalami perubahan, dengan telah dicapainya pandangan yang menyeluruh dan mendalam, baik mengenai struktur physik maupun struktur historical-nya. Hal ini diungkapkan paling jelas didalam analisa-nya mengenai "keberadaan dari segala sesuatu", oleh Nicolai Hartmann, yang lebih mendalam dari pada Husserl, dan para penganutnya yang dekat dengan dia, mengkonsentrasikan perhatiannya pada implikasi mengenai problema ontologis didalam ilmu pengetahuan alam.
Didalam hal ini, sudut pandangan dari A.N.Whitehead didalam Filsafat Anglo-American, berkeadaan sangat dekat kepada N.Hartmann. Theori-nya Husserl tentang "peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam ruang-dan-waktu" yang tidak terbatas itu, tidaklah lebih dari pada usaha untuk meredusir dan mengaburkan skema, atau konsep metaphysisical-nya Whitehead, mengenai "peristiwa-peristiwa yang aktual", aktualitas-aktualitas yang muncul dengan cepat dan diwarnai perasaan-perasaan, yang diberi makna sebagai "pusat-pusat pengalaman", yang "butir-butir karya" nya, atau "hasil-hasil ciptaannya selaku makhluk hidup" dibimbing oleh teleologi yang sifatnya internal, yang berada didalam "elemen-elemen yang membentuk dirinya" (yang analog dengan yang didalam Agama Buddha dinamai Sankhara pada pembentukan-pembentukan karma), yang bergabung dengan "aliran daya hidup yang terdapat pada segala sesuatu yang ada", (= bhavanga-soto) (= the "stream of existence"),
Inti dari konsepsi-nya abhidhammo mengenai "aliran daya hidup yang terdapat pada segala sesuatu yang ada" itu terdiri dari, dan terdapat pada, "theori peristiwa yang berlangsung sementara", yang dinamai "khanikavado", (= theory of momentariness). Analogi modern-nya kita dapati pada formulasinya yang pertama kali, dan yang paling baik, karena diterangkan secara mudah dimengerti, dengan peristilahan yang sederhana, didalam philosophi-nya William James, khusus yang dikemukakan pada essay-nya yang berjudul : "Does Conscious-ness Exist?" (= "Apakah Kesadaran Itu ada?"), dimana diterangkan oleh William James bahwa "aliran kesadaran" atau "aliran proses berfikir" (yang apabila kita pelajari secara teliti, terungkap, dan dapat kita rasakan kebenaran theorinya, misalnya apabila kita mau merasakan aliran masuk dan keluarnya napas melalui hidung kita, selagi kita bernapas!), berasal dari theori pokoknya dari yang dinamai "pengalaman yang murni" (= "pure consciousness"), yang didefinisikannya sebagai "lapangan kesadaran yang berisi kehadiran secara berganti-ganti (dari merasakan kekosongan,- kosongnya tubuh kita dari udara yang kita hirup-, dan merasakan berisinya secara penuh, - penuhnya paru-paru kita dengan udara yang kita hirup ... pengalaman berganti-gantinya "kekosongan" dan "keadaan penuh berisi" ini peristiwanya terjadi "didalam pusat-pusat, yang sangat kecil" yang terdapat didalam tubuh kita, atau didalam diri kita, yang didalam kenyataannya ini merupakan "suatu essensi dari phenomenon" (= the essence of the phenomenon). Didalam koneksi yang sama, itu keadaannya sama dengan "suatu hasil dari criticisme kita terhadap konsepsi yang absolut", suatu idea yang sifatnya metaphysical dan metapsychical, tentang "diri yang bersifat sentral" (= The "central self"), yang diredusir oleh James menjadi "kesadaran diri kita terhadap peristiwa yang hanya berlangsung dalam waktu yang sekejap saja (= The conscious self of the moment"). 7 Thesis dari Agama Buddha yang sangat terkenal, yang dinamai "ajaran tentang ketidak-ada-an inti-aku" (= anatta) (= "no-self"), atau ilmu jiwa yang tak membicarakan roh (= soul-less psychology), itu berdasarkan keterangan yang sama dengan "theori bahwa semua peristiwa itu merupakan kejadian yang hanya berlangsung dalam waktu sekejap saja", atau "theori tentang keadaan yang bersifat sementara" (= theory of momentariness).
Berikut ini juga adalah merupakan butir uraian - dan menjadi uraiannya yang paling berarti - atas dasar mana konsepsi philosophisnya James muncul secara bersamaan waktunya dengan konsepsi-nya Bergson. Paling sedikitnya secara terminologis, kerangka berfikirnya Bergson, yang sama dengan konsepsi-nya James, mengenai "aliran daya hidup yang terdapat pada segala sesuatu yang ada", yang beliau namai sebagai "flux du vecu" (perkataan "vecu" ini berarti "yang dihidupi" atau "lived"), nampaknya sangat dekat dengan pengertian didalam Agama Buddha, yang diistilahkan dengan bahasa Pali "bhavango", yang artinya "tenunan pengalaman-kehidupan, yang sifatnya "di-artikulasi-kan" "articulated") (= - ango).
Didalam interpretasinya Husserl, yang dinamai "benda-benda" (= "things") itu hanyalah diartikan sebagai "apa yang diberikan" (= "Whatever is given"), yaitu dengan mana kita "melihat" (= "see") didalam kesadaran kita, "dan" yang diberikan "itu dinamai bersifat phenomenal didalam arti bahwa itu "muncul" = "appear") didalam kesadaran kita. Perkataan bahasa Yunani "phenomenon" itu tidak perlu harus berarti menunjukkan bahwa disana ada sesuatu benda yang tidak dikenal, yang ada dibelakang phenomena (sama seperti yang konsepsinya terdapat juga didalam Filsafatnya Kant atau didalam Filsafat India yang dinamai Vedanta), atau merupakan sesuatu yang ada (= "being") yang terdapat di "panggung-belakang" (= "back-stage"), sama seperti yang telah dikemukakan secara ironis oleh Nietzsche. Dari sudut pandangan kita, adalah sangat penting untuk menggaris-bawahi methode phenomenologi-nya Husserl, yang sifatnya tidak deductive dan juga tidak empirical, tetapi terdiri, dan didalam" "menunjukkan sesuatu" (= pointing) kepada apa yang diberikan dan diterangkan-nya (= elucidating). " 8.
Analisa terhadap arti aselinya dari Bahasa Yunani "phenomenon" telah dikemukakan secara mahir oleh Martin Heidegger. 9, Perkataan phenomenon (berasal dari kata kerja phainesthal), yang artinya "marilah kita lihat" ("let see"), yang sama artinya dengan yang didalam Agama Buddha di-istilahkan dengan bahasa Pali : "ehi passiko"), itu mempunyai dua arti yang relevant bagi philosophi. Yang pertama adalah dalam arti 'menunjukkan dirinya sendiri" (= "to show itself"), dan yang kedua dalam arti "itu tampaknya seperti" (= "to seem as"). Philosophi phenomenologi yang kontemporer mengungkapkannya didalam arti yang pertama, yaitu hanya sebagai "biarlah sesuatu itu terlihat, dan biarlah entity-entity itu dapat kita persepsi (= "letting something be seen, letting entities be perceived"). Arti yang kedua, menunjukkan beberapa hal yang tampak berkeadaan "tetap tersembunyi, atau telah hilang didalam waktu, atau yang dapat muncul kembali, atau menunjukkan dirinya hanya "didalam bentuk terselubung, atau dalam samaran" (= remain hidden, or which relapses or gets covered again, or shows itself only "in disguise"), menunjukkan kepada proses historical-nya dari theori-theori konstruktif dan "pandangan-pandangan" (Bahasa Yunani-nya doxa, Bahasa Sansekerta-nya drsti, dan Bahasa Pali-nya ditthi), dengan mana phenomena itu lebih berkeadaan "tidak tertutup", secara primordial, dari pada tertutup, atau didalam keadaan tersamar.
Idea pokok yang sama, telah dikemukakan pula oleh Nicolai Hartmann. Idea tersebut tersirat dalam kalimat sebagai berikut ini : "Sesuatu yang ada" itu sebenarnya berkeadaan "ada dengan sendirinya:" (being is in itself"); kalimat ini berarti bahwa itu sama dengan apabila kita katakan bahwa sesuatu yang ada itu ada secara aktual dan tidak hanya untuk kita saja.... Pengertian "ada dengan sendirinya" itu tidak perlu kita buktikan, karena yang menyebabkan itu berkeadaan demikian memang karena alam itu sendiri telah memberikan sifat atau keadaan yang demikian. 10. Sumbangan yang paling benilai dari Hartmann, adalah diberikannya kepada kita tentang analisa-nya yang sangat mendalam mengenai apa yang dinamai "sesuatu yang berada diatas pengertian philosophis dari kedua istilah phenomenon". Analisa-nya Hartmann memperbedakan antara pengertian "alam-alam" (= spheres"), dan pengertian "tingkat-tingkatan" (= levels"), dari sesuatu yang ada. Pemahaman mengenai hal ini, secara luas dapat diterangkan bahwa ada dua alam yang primer, yang diartikannya sebagai sesuatu "yang riil" (= real), dan "sesuatu yang ideal" (= ideal being). Didalam alam yang riil, terdapat dan diperbedakan adanya empat tingkatan struktural, yaitu : zat (= matter), kehidupan (= life), kesadaran (= consciousness), dan fikiran atau jiwa (= mind).
Didalam hubungannya dengan penyampaian dan pemberian penjelasan atas pernyataan-pernyataannya yang demikian, hal itu menjadikan menampak makin jelas bahwa dari sudut pandangan Agama Buddha, betapa sangat dekatnya pengertian istilah phenomenon, yang dipergunakan oleh philosophi kontemporer, dengan pendekatan dari Agama Buddha, mengenai arti pokok-nya dari istilah dhamma, yang terdapat didalam theori Abhidhamma (Kutipan kita yang belakangan dari uraiannya Hartmann, bahkan mengingatkan kita secara lebih khusus, kepada pengertian struktur-struktur dari khanda).
Diluar kemungkinan perluasan analogi phenomenon, seperti yang diterangkan dengan kalimat "ada dengan sendirinya" (= being-in-itself), yang difahami sebagai suatu proses, yang dirasakan terutama oleh beberapa ahli ilmu filsafat Eroupa yang kontemporer (yang sama keadaannya dengan yang terdapat didalam Agama Buddha yang memegang teguh ajaran-ajaran aselinya), itu merupakan tujuan ontologisnya dari sesuatu; jadi, difahami, bahwa suatu phenomenon, atau yang didalam Agama Buddha dinamai "dhamma" itu haruslah masih dibatasi oleh prinsip yang bersifat kritis mengenai arti yang lebih mendalam dan lebih essensial. Prinsip yang demikian itu terdapat, pertama, pada, - dan sampai sekarang kejelasannya makin menampak -, pada formulasi logis-nya didalam aturan berfikir philosophis Agama Buddha yang dinamai catu-kotikam (= tetralemna), seperti yang secara teratur di-applikasi-kan pada avyaktani atau problema-problema "yang tidak-dimaksudkan untuk sesuatu pemakaian tertentu" atau "antinomi-antinomi yang dialectical" (= "dialectical antinomies") 11 dari pemikiran-pemikiran yang spekulatif, yaitu yang rumusannya sebagai berikut ini : "Bukan" ada (= "being"), dan bukan "tidak-ada" (= "Non-Being"), tetapi juga bukan keduanya digabung, bukan : "ada-dan-tidak-ada" (= "being-and-non-being"), pula bukan tidak "ada" dan tidak "tidak-ada" (= "neither-being-nor-non-being") (atau kalimat dalam bahasa Inggris seutuhnya adalah : "Neither being, nor non-being, nor both being-and-non-being, nor neither-being-nor-non-being" itu pun tidak mampu meng-eks-pressi-kan, mengungkapkan, makna, atau maksud yang existensial dan isi dari realitas ke-manusia-an. Perkataan "ada" (= being), atau sesuatu yang lainnya lagi yang berasal dari kata kerja "menjadi ada" (= "to be"), itu tidak mampu mengekspressikan secara adekwat, intuisi (= vipassana) dari eksistensi, atau essensi dari aktualitas (seperti yang diistilahkan dengan : paramattho).
Kekurang-mampuan, atau kekurang-cukupan, dari istilah ontologis yang pokok, mengenai pengertian "ada" (= being) ini telah dipelajari dan dianalisa secara tajam dan halus oleh Heidegger, didalam bukunya yang berjudul "Pengantar Ke Metaphysika" (= "Introduction To Metaphysics"). Tetapi, di tangan Heidegger, filsafat eksistensi (atau filsafat aktualitas-nya manusia) ini telah memperoleh pengarahan ontologis yang utama (sebagai suatu analisa phenomenologis mengenai sesuatu yang ada). Itu lalu menjadi filsafat mengenai keberadaan-manusia-di-dunia ini, dan sebagai akibatnya, maka kemudian menjadi filsafat "kehidupan yang terwarnai oleh penderitaan atau kesedihan yang sangat (= anguish) "atau yang menurut istilah Agama Buddhanya : dukkham, - bahkan walaupun itu segera dirasakan bahwa titik-balik pemikiran ontologi-nya, itu tidak, dan memang tidak mampu, memberikan refleksi secara adekwat, baik terhadap motive-motive yang primordial, maupun terhadap scope pemikiran eksistensial yang hakiki. Tanpa memasuki pemikiran latar belakang historical dari pemisahan-pemisahan batiniah yang demikian itu, didalam filsafat kontemporer, saya lebih cenderung menunjukkan sedikit penolakan yang bersifat symptomatic, yang dapat diperbandingkan didalam sikap anti-ontologis mereka, yang secara radikal, dengan prinsip Agama Buddha yang formulasinya telah saya kemukakan dimuka tadi.
Menurut Sang Buddha, pribadi yang akan menuai buah dari perbuatan-perbuatannya yang baik atau yang buruk (yang akan diterima pada kehidupannya yang akan datang), adalah bukan pribadi, yang sama, tetapi juga bukan tidak sama, dengan pribadi yang melakukan perbuatan-perbuatan, yang menghasilkan buah perbuatan itu. Prinsip yang sama di-applikasi-kan juga terhadap identifikasi struktural dari pribadi, didalam sesuatu bidang lainnya, atau terhadap sesuatu lingkungan sekitar lainnya, didalam hubungannya dengan aliran saya kehidupan, yang ada pada kehidupan physik, yang tunggal.
Seorang ahli ilmu filsafat bangsa Perancis, yang bernama Gabriel Marcel, telah mendiskusikan problema-problema mengenai kesatuan struktural dari kepribadian manusia (= human personality) (paling sedikitnya pada tingkat dasar), dan tiba pada kesimpulan bahwa "hubungan antara badan saya (= my body), dengan "diri saya sendiri" (= myself), itu tidak dapat dideskripsikan, baik sebagai "sesuatu yang ada" (= being), maupun sebagai "sesuatu yang dimiliki" (= having), yang tersirat dalam kalimat yang berbunyi : "Saya adalah badan saya ini, namun saya tidak dapat meng-identik-kan diri saya dengan badan saya ini (= "I am my body and yet I cannot identify myself with it." 12. "Berkehidupan atau menjadi sesuatu yang ada" (= Existing) tidaklah berarti menjadi suatu objek. Berdasarkan cara pemikiran yang demikian itu, Marcel memperkembangkan analisa kritis-nya, yang terdiri dari dua istilah, yang ke-ekstriman-nya tidak adekwat, mengenai eksistensi, didalam karyanya yang utama, yang berjudul "Being and Having" (= Menjadi sesuatu Yang Ada, dan Keadaan Memiliki Sesuatu").
Perwakilan lainnya dari aliran fikiran, yang sama, didalam Filsafat Perancis, adalah dari Jean Wahl, yang tampaknya pendekatannya lebih akrab ke arti aktualnya dari avyaktani-nya Agama Buddha (seperti yang telah kita utarakan di bagian depan dari artikel ini), tidak dari logika formal, atau bahkan dari pemikiran-pemikiran linguistic, tetapi agak merupakan dari pemahaman yang secara essensial, bersifat congenial, mengenai problema yang lebih dalam maknanya, seperti yang tersirat didalam kalimat sebagai berikut ini : "Kita tidak membicarakan pertanyaan-pertanyaan biasa, tetapi secara yakin, dapat saya tandaskan, bahwa kegiatan yang sedang kita lakukan, adalah ber-meditasi secara tekun, dan yang tidak dapat menjadi pokok pembicaraan yang dapat diuraikan secara jelas." 13
Nicolas Berdyaev, seorang filsuf yang bersifat religious, dan yang uraiannya bersifat eksplisit, yang dekat dengan kelompok aliran yang sama, seperti yang diuraikan diatas tadi, telah memberikan salah satu dari formulasi-nya, secara jelas, mengenai butir pokok permasalahan yang sedang kita bicarakan, yang uraiannya adalah sebagai berikut ini :
"Problema yang kita hadapi adalah : Apakah" sesuatu yang ada, atau sesuatu yang mengalami perubahan menjadi sesuatu keadaan yang lain" (= being) itu merupakan suatu hasil (= product) dari objektifikasi? Apakah suatu konsep mengenai sesuatu yang mengalami perubahan menjadi berkeadaan lain, itu tidak dapat dibicarakan, dengan pembahasan "sesuatu yang ada" (= being" secara qua konsep, atau apakah sesuatu yang ada (= being) itu tidak memiliki eksistensi sama sekali? .... Mengapa ontology (yang murni) itu tak mungkin kita peroleh? Itu dikarenakan bahwa pengetahuan yang kita peroleh itu selalu hanya merupakan eksistensi yang telah diobjektifikasi. Didalam ontology, idea tentang "sesuatu yang ada" (= being), itu diobjektifikasi, dan pengobjektifikasiannya telah merupakan suatu eksistensi yang mengalami alieniasi (= pengasingan) didalam objektifikasi-nya. Demikianlah, maka didalam ontology,- dan didalam setiap ontology, eksistensi itu lenyap.... Hanya didalam subjektivitas saja-lah orang dapat mengetahui eksistensi itu, tidak didalam objektivitas-nya. Menurut pendapat saya, idea central-nya didalam ontology-nya Heidegger dan Sartre, telah lenyap. 14
Sesuai dengan prinsip-nya Dilthey, seperti yang telah kami kutip dibagian depan, dalam membentuk pandangan-jagad historical, mengenai ilmu-ilmu pengetahuan kultural, yang bebas, yang berdiri sendiri, tidak tergantung dari penyelidikan ilmiah mengenai sifat alam, yang secara essensial, bersifat objektif itu, Heidegger telah membatasi penyelidikannya, hanya pada masalah "waktu sebagai cakrawala untuk semua pemahaman terhadap segala sesuatu yang ada" (= time as the horizon for all understanding of being"). Bertentangan dengan latar belakang yang demikian itu, dia telah mengkritik dan meninggalkan ontology kuno, dari golongan penganut faham substansialist. Bagi Heidegger, "Temporalitas adalah merupakan yang menjadi hakekat dari realitas manusia (= "temporality is the very being of human reality"). Hubungan antara waktu-dan-fikiran atau jiwa (time-mind), seperti yang telah kita kutipkan, sama seperti yang didalam Agama Buddha terdapat pada Atthasalini-nya Buddhaghosa, bagi Heidegger juga adalah merupakan istilah-istilah yang sudah tuntas. Namun, bagi Berdyaev, sama seperti pendapatnya para antiontoloy yang disebutkan didalam uraian ini, mengkritik, bahkan juga terhadap, titik-baliknya yang essensial, dari "ontology yang anthropologis", yang kontemporer, paling sedikitnya mengenai kegagalan sebagian dari pemahamannya terhadap pengalaman eksistensial yang authentic, yang tersirat didalam kalimat yang bunyinya sebagai berikut ini : "Sebagai manusia, Heidegger telah sangat berkeadaan sedih atas keadaan dunia, yang memerlukan ketekunan didalam memelihara kelestariannya, yang berisi penuh ketakutan-ketakutan, kematian-kematian, dan kehidupan-kehidupan sehari-hari yang berisi kedangkalan-kedangkalan pengalaman atau makna ini. "Walaupun terdapat ungkapan-ungkapan yang demikian itu, dan walaupun berada diluar ketulusan hati, filsafatnya" bukanlah merupakan filsafat eksistensial, dan kedalaman dari eksistensinya tidak menjadikan dengan sendirinya orang dapat merasakannya." 15
Alasan mengenai hal yang tersebut diatas itu, dinyatakan secara jelas dan eksplisit oleh Karl Jaspers, yang untuk pertama kalinya mengkritik dan meninggalkan posisi ontologis didalam Filsafat Eroupa yang kontemporer, yang bersamaan waktunya dengan Heidegger mengadakan reformasi yang essensial atas konsepsinya yang fundamental. Pandangan Jaspers tercermin didalam kalimat yang berbunyi sebagai bertikut ini: "Ideal yang diikuti oleh para penganut faham ontology, adalah penyempurnaan struktur yang rasional dari dunia yang telah diobjektifikasi." Ilmu-ilmu pengetahuan teknis telah menolong kita.- memunculkan eksistensi-eksistensi dari ke-technology-an". Jaspers, sejak sangat awal, yaitu sejak muncul tulisannya (pada tahun 1930) yang berisi kritik-philosophis-nya, telah sangat sadar akan adanya bahaya technicalisasi yang bersifat ilmiah, terhadap eksistensi kemanusiaan, yang demikian itu. Terhadap jenis ontology yang dia kritik, Jaspers mengatakan sebagai berikut ini : "Sebagai suatu usaha yang dapat mengikat kita kepada keberadaan dari sesuatu yang di-objektifikasi-kan, ontology (yang terwarnai oleh technology) itu menghambat tercapainya kebebasan." Selanjutnya dia mengemukakan pendapatnya "Menurut pendapat saya, hanya "eksistensi yang potensial sajalah yang dapat mengangkat saya, membebaskan saya, dari ikatan-ikatan. Rantai-rantai yang mengikat saya, itu seakan-akan dapat berubah menjadi keberadaan dari sesuatu yang bersifat material....". Bertentangan dengan jalan (yang seharusnya saya tempuh), peradaban yang terwarnai oleh technologi, itu dapat mengubah diri saya menjadi budak dari materialisme, dan ini merupakan bentuk typical dari penderitaan, yang secara aktual, dan yang (dalam istilah Agama Buddhanya) adalah :dukkham, yang telah menekan kehidupan dari "manusia yang hidup di zaman modern". 16
Didalam kehidupannya di masa usianya yang lanjut, Jaspers telah berkenalan dengan tulisan dari Filsuf Buddhis di zaman dahulu, yang bernama Nagarjuna, sebagai salah satu dari pemikir agung, yang paling congenial, 17 yang pada waktu yang bersamaan Heidegger berkenalan dengan bukunya D.T. Suzuki yang berjudul : "Essay on Zen Buddhism", dan mengakui bahwa isi dari buku tersebut, adalah benar-benar tepat sama, dengan apa yang dia inginkan untuk dikemukakan sepanjang kehidupan.
Enam : Para filsuf mungkin merasa ragu mengenai keterangan yang mengatakan bahwa dunia itu pada hakekatnya adalah merupakan substansi material, yang sampai sejauh tertentu, dapat memunculkan problema mengenai masalah cara mem-verifikasi-kan idea yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada, atau mengenai "kedirian" (= "self-hood") dari dunia, baik yang menyangkut aspek eksterior-nya, maupun yang menyangkut aspek interior-nya, dari ke-diri-an manusia di alam semesta ini. Apa yang "diragukan", adalah bahwa sejak timbulnya filsafat kritis (= critical philosophy) didalam periode dominant-nya golongan substansialist dan orientasi yang diobjektifikasi-kan (Sesuai dengan Filsafat-nya Descartes), ungkapan rasa kekecewaan, atau "ke-tidak-puasan" terhadap kehidupan dunia ini, telah menjadikan munculnya, atau aktualnya, Filsafat Eksistensi, yang bersifat umum, ber-orientasi subjektif, atau introverted.
Salah satu dari ekspressi yang paling baik, dari titik-balik-nya pandangan filsafat, dapat kita temui didalam beberapa pernyataannya dari Gabriel Marcel, yang, antara lain, telah mendefinisikan filsafat Ke-Agama-annya (= Religious Philosophy), sebagai suatu "doktrin-harapan", atau "ajaran agar orang didalam kehidupan ini selalu memiliki harapan-harapan" (= doctrin of hope). Postulat pokoknya dari filsafatnya Gabriel Marcel, adalah bahwa filsafat itu harus bersifat : "transobjective, personal, dramatic, dan memang bersifat tragic pula". Selanjutnya Marcel berkata : "Saya tidak akan menyaksikan sesuatu, dengan memakai kaca-mata kehidupan; hendaklah kita selalu mengadakan introspeksi, peninjauan terhadap diri sendiri, setiap harinya." 18. Implikasi, yang sesuai dengan ajaran Agama Buddha, yang sama dengan sikap mental yang pokok ini, mungkin dapat kita ikuti keterangannya lebih lanjut didalam formulasi, di masa awal, dari kehidupannya Kierkegaard, yang bunyinya sebagai berikut ini : "Kehidupan ini dapatlah digambarkan semisal suatu keadaan orang yang sedang memakai topeng" ..... Kesibukan anda itu sebagian besar terdiri dari kegiatan melestarikan persembunyian diri anda.... Didalam faktanya, diri anda itu bukan apa-apa; pada hakekatnya : anda adalah hanya suatu relasi didalam hubungannya dengan orang-orang lain (= You are merely a relation to others), dan apa sebenarnya diri anda itu, tidaklah lain adalah diri anda didalam hubungannya dengan bagaimana sifat hubungan itu.... Apabila daya tarik atau pesona dari illusi (= khayalan palsu, tentang kehidupan diri anda, dan tentang dunia ini), telah dapat anda hancurkan, apabila eksistensi anda mulai berkeadaan tidak mantap lagi, maka lalu rasa putus asa anda mulai muncul dengan sendirinya, seperti keluar dari bagian bawah sadar dari diri anda. Keadaan keputus-asaan itu sendiri adalah suatu negativitas, suatu ketidak-sadaran terhadap keadaan yang demikian itu, merupakan suatu negativitas yang baru.... Itu adalah suatu keadaan sakit yang pada suatu saat dapat membawa orang ke kematiannya." 19.
Hanya dengan meninggalkan sikap mental yang lama, tidak lagi tertarik kepada pemakaian "kaca-mata" tingkat statis, mengenai "Keberadaan dari segala sesuatu" (= Being"), yang terdapat di dunia ini, untuk melihat kehidupan, orang akan dapat bergerak secara cukup leluasa di dunia ini, sehingga dia dapat memiliki persyaratan untuk dapat menyelam kedalam aliran eksistensi; tidak lagi terikat kepada beberapa tingkatan permulaan, atau "keadaan tetap tinggal di tempat semula". Hanya dengan cara itu, orang akan dapat secara sungguh-sungguh memulai berenang sepanjang aliran "samsaro", sehingga dia dapat merealisir, atau menghayati, Kasunyataan bahwa aniccam, atau aliran kehidupan yang bergerak secara terus menerus, yang keadaannya tidak permanent itu, akhirnya pada suatu saat menjadikan orang dapat menjadi sadar akan manfaat "memiliki kemampuan menyeberangi lautan kehidupan yang penuh dengan penderitaan.
Ini adalah suatu titik sejarah, dimana Filsafat Europa yang kontemporer, nampaknya cenderung akan dapat merealisir apa yang telah kami sebutkan diatas tadi. Adalah essensial untuk dapat merealisir, menggabungkan lagi secara erat dan tak terpisahkan, antara prinsip aniccam dan dukkham melalui intuisi, yang diperoleh dengan cara mengadakan interaksi secara langsung. Didalam situasi yang aktual, tidaklah perlu berlama-lama untuk mengambil kesimpulan, mengenai idea anatta, sebagai suatu hasil yang dinamis dari berkonfrontasinya prinsip aniccam dan dukkham. Sama keadaannya seperti ajaran Agama Buddha yang dinamai aniccam, ajaran anatta telah menjadi suatu kenyataan yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya, bagi kebanyakan orang Europa, yang latihan mental yang distandardisasi, yang sifatnya ilmiah dan philosophis, telah sampai pada titik berada diluar dari dogma mengenai Tuhan dan Roh. 20. Hantu mengenai faham uccheda-vado yang sifatnya materialistic, dari versi-nya Eroupa, juga tampaknya akan mulai menghilang. Mata rantai yang sifatnya kritis, itu hanya ada, antara keadaan yang tidak bersifat permanent (= impermanence) (= aniccam), dan keadaan mengalami penderitaan (= dukkham). Disebabkan karena pemikiran ilmiah yang telah mengalami objektifikasi, mata rantai yang hilang itu tidak pernah dapat diungkapkan oleh philosophi alam yang tunduk kepada ilmu pengetahuan, bahkan juga tidak oleh criticisme literair yang populer, seperti type-nya Russel, yang kutipannya telah kami kemukakan di bagian depan dari artikel ini. Adalah jelas bahwa hanya pengalaman eksistensial mengenai dukkham atau penderitaan, atau "kesedihan yang sangat", yang memungkinkan orang dapat memperoleh realisasi
Sekarang ini, kita berterima kasih, mengingat orang menjadi makin mudah memperoleh realisasi, karena adanya bencana-bencana dan mengalami akibat-akibatnya, yang hingga sekarang akibat-akibatnya itu masih dapat kita rasakan, setelah terjadinya Perang Dunia Ke-Dua, pada Abad Ke-Dua Puluh ini. Itulah sebabnya mengapa suatu philosophi baru, menjelang Perang Dunia Ke-Dua, telah muncul dan mulai berkembang di Eroupa secara eksplisit, sebagai philosophi mengenai "conscience" (= hati nurani), dan bukan philosophi mengenai "consciousness" (= kesadaran). Tampak dengan jelas juga bahwa mulai disadari didalam philosophi yang demikian itu, orang tidak perlu bertahan diri, dan berkepala batu, memegang teguh dilemma palsu, mengenai keharusan untuk memilih salah satu : apakah memilih philosophi, atau memilih religi (= Agama). Problema yang belakangan ini, yang berisi pembicaraan mengenai "kepercayaan yang bersifat philosophis" (= philosophical faith) adalah lebih penting bagi Agama Buddha, dari pada bagi Agama-Agama yang lainnya. Hal ini ekspressi dianostical-nya, yang paling baik, terdapat didalam beberapa essaynya Karl Jaspers, yang, sedikit kutipannya, yang dapat menunjukkan yang saya maksudkan, dapat saya sampaikan uraiannya sebagai berikut ini :
Adalah merupakan hal yang dapat dipermasalahkannya, apakah kepercayaan (=faith) itu mungkin ada tanpa dengan Agama. Philosophilah yang menciptakan pertanyaan yang demikian ini.... Manusia itu kehilangan kepercayaannya, karena dia kehilangan kepercayaan terhadap Agamanya; dan yang menyebabkan dia berkeadaan demikian, itu karena pemikirannya lebih ditujukan kepada sifat dari dirinya sendiri.... Tidak lagi, sebagai pembicaraan yang pertama, mengenai Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan Pribadi terhadap siapa,
Semua makhluk tergantung; juga bukan Dunia, yang merupakan pembahasan yang pertama; dan lalu adalah pembahasan mengenai diri Manusia sendiri; namun pembahasannya tidak dirinya sendiri sebagai sesuatu yang ada, tetapi merupakan usaha untuk mengatasi, atau men-transcendensi, dirinya sendiri.... Individu yang tidak lagi terlindungi, memang dapat saja lalu memunculkan pembahasan babakan waktu, tentang manusia, dengan segi physiognomy-nya .... (Dahulu di Eroupa) authoritas dari Lembaga-lembaga Keagamaan melindungi umatnya, membina rohani mereka, agar mereka dapat menjadi berkeadaan tenteram dan bahagia.... Sekarang (tampaknya) philosophi itu adalah merupakan satu-satunya pemberi pedoman hidup, khusus bagi orang-orang yang berkesadaran penuh, yang tidak lagi terlindungi oleh Agama. 21.
Adalah jelas bahwa yang dimaksud dengan "kepercayaan" (=faith), disini, tidak lagi pemahaman sebagai suatu kepercayaan terhadap sesuatu Wahyu, tetapi yang dimaksud adalah kepercayaan yang masuk akal, didalam suatu bimbingan spiritual yang memenuhi persyaratan, yang kemampuan moral dan intellektualnya, telah di-test dengan hati-hati dan teliti, didalam setiap kasus yang tunggal, oleh kriteria yang masak dan sehat (apannako dhammo); sebagai misalnya yang telah terbentuk dengan mantap oleh Sang Buddha didalam khotbah-khotbah beliau, yang tahan kritik, mengenai masalah-masalah Agama, yaitu yang tercantum pada naskah Apannaka-Suttam dan Canki-Suttam (M. 60 dan 95), agar supaya dapat menyisihkan cara penyampaian warisan dari generasi tua ke generasi muda, mengenai tradisi-tradisi religious, yang kosong, atau yang membuta, yang digambarkan dengan ungkapan sebagai : "memberikan keranjang kosong, dari seseorang, kepada orang lain", atau digambarkan sebagai : "sebuah tali yang diberikan kepada orang-buta". Dalam hal ini, terkenal kalimat yang berbunyi sebagai berikut ini : "Dari anda sendiri, adalah merupakan sang pembimbing bagi diri anda sendiri. Siapakah yang layak menjadi pembimbing terhadap diri anda sendiri, kalau tidak diri anda sendiri!?! (Dph 160).
Jean-Paul Sartre, adalah Filsuf lainnya, yang walaupun beliau sendiri bukan Filsuf yang religious, namun menyadari maha pentingnya problema yang bersifat religious, yang timbul dari prasangka pada zaman kita yang kritis ini, dan masih lebih khusus adalah dari prasangka implikasi-implikasi mengenai idea annicam, yang sifat metaphysis-nya lebih mendalam, lagi, yaitu sebagai non-substantialitas, yang mengancam akan meruntuhkan dasar ilmiah dari materialisme Abad Ke-Sembilan Belas. Situasi yang tragis dari realitas manusia di dunia ini terdiri dari fakta, bahwa disebabkan karena "kebebasan" karma-nya, manusia tidak sebagai "apa dia itu" (= what he is), lalu bergeser menjadi masalah "manusia sebagai makhluk yang tidak mampu dalam sesuatu hal, atau yang tidak memiliki sesuatu sifat" (= man is what he is not). Pernyataan yang demikian ini, implikasi-implikasinya telah dibuat tidak murni oleh banyak para pemikir di bidang keagamaan, yang sifatnya konservatif; sekalipun demikian hal itu berhubungan dan berkeadaan mirip dengan inti-sari fikiran-fikiran St. Augustine, seperti yang dikemukakan oleh Jaspers, yang merupakan hasil renungan keagamaan yang sangat mendalam, walaupun secara agak berbeda caranya, dengan fakta-fakta situasi eksistensial, yang tidak dapat dibantah, yang tersirat didalam ungkapan kalimat sebagai berikut ini : "Saya adalah diri saya sendiri, tetapi saya dapat saja mengalami kegagalan didalam mengamati sifat yang sebenarnya dari diri saya sendiri. Saya harus meletakkan kepercayaan saya kepada diri saya sendiri, tetapi saya memang tidak dapat mempercayakan sepenuhnya nasib saya kepada diri saya sendiri." 22.
Berbicara mengenai Filsuf Sartre, dapatlah dikemukakan bahwa dedukasinya yang pertama kali, dari realisasi pokok-nya mengenai ajaran Agama Buddha yang dinamai anicca-anatta adalah bahwa manusia (yang sifat-sifatnya telah dikemukakan dibagian depan dari artikel ini) dapat diungkapkan dalam satu kalimat : "Manusia adalah yang suka melampiaskan hawa nafsunya, secara tidak mendatangkan sesuatu manfaat". "Realitas manusia itu merupakan suatu usaha yang murni untuk memiliki sifat-sifat Ke-Tuhan-an, tanpa perlu memiliki sesuatu dasar yang kokoh atas adanya usaha yang demikian itu.... Keinginan yang dimilikinya dapat mengekspressikan usahanya yang demikian itu.... Secara fundamental dapatlah dikatakan bahwa manusia adalah sesuai dengan keinginannya dia itu bercita-cita menjadi apa (= Man is the desire to be)". Sama seperti ungkapan yang demikian itu, dia itu selalu hanya merupakan "project" - sesuatu "yang dilemparkan dengan suatu alat pelempar" yang bergerak dengan tiada henti-hentinya, dari titik masa lampau ke titik yang akan datang (seperti yang diformulasikan secara demikian, oleh Ortegay Gasset), tanpa suatu kemungkinan untuk mendapatkan ketenangan pada penghayatannya titik masa sekarang. Ini adalah merupakan tragedi dari "temporalisasi-nya, yang memiliki makna hakikinya sebagai yang berkeadaan aniccam. Hal ini menunjukkan bagaimana "eksistensi keinginan manusia sebagai suatu fakta itu cukup untuk membuktikan bahwa realitas manusia itu adalah sesuatu yang memiliki kekurangan-kekurangan." Lalu, bagaimana kemungkinannya penghindaran diri yang hakiki, atau "suatu pencapaian kebebasan" (dari penderitaan), yang dapat kita bayangkan?. Adapun sebab dari keadaan yang demikian itu, ialah karena realitas manusia itu keadaannya terungkapkan didalam kalimat yang berbunyi sebagai berikut ini :
"Ia merupakan sesuatu yang ada, yang keadaannya sedemikian rupa, yaitu bahwa didalam keberadaan dirinya, keberadaan dirinya itu bersifat berada didalam permasalahan, yang ada didalam wujud suatu project menjadi sesuatu". Atas dasar pemikiran yang demikian itu, sifat-sifatnya hanya dapat kita ungkapkan dengan kalimat sebagai berikut ini : "Kita dapat mengetahui dan mendapatkan kenyataan bahwa itu, secara lebih tepat kita katakan merupakan masalah, yaitu bahwa diri kita ini sebenarnya akan menjadi apa!?!; inilah yang telah kita ketemukan, dan ini adalah benar-benar sesuatu yang bernilai sangat tinggi. 23.
Seseorang yang ingin untuk dapat menyelam lebih dalam lagi ke dalam kemungkinan-kemungkinan yang demikian itu, kiranya perlu mengikuti nasehat yang berasal dari Gabriel Marcel, atau dari Bardyaev, dan mau berusaha untuk menyeberangi lautan kehidupan, sehingga dapat tiba di daerah seberang sana, diluar kemungkinan-kemungkinan yang dapat diekspressikan didalam sesuatu philosophi mengenai keberadaan dari segala sesuatu. Suatu alat, atau lebih tepat jika kita sebut "perahu", yang disediakan oleh Agama Buddha, walaupun mengandung pengertian yang bingkai isi pengertiannya lebih luas lagi, telah memiliki kemampuan penyesuaian-diri terhadap kebutuhan-kebutuhan yang eksplisit sifatnya, yaitu yang tersirat didalam kalimat philosophis dari Agama Buddha, (yang seperti telah diketahui, sudah kami kemukakan di bagian depan dari artikel ini), yang bunyinya sebagai berikut ini : "Bukan "ada" (= "being"), dan bukan "tidak-ada" (= non-being"), tetapi juga bukan keduanya digabung, bukan : ada-dan tidak-ada" (= "being-and-non-being"), pula bukan tidak "ada" dan tidak "tidak ada" (= neither-being-nor-non-being") (atau kalimat dalam bahasa Inggris seutuhnya adalah : "Neither being, nor non-being, nor both being-and-non-being, nor neither-being-nor-non-being"). *)
Catatan-catatan
1. Majjhima-Nikayo, uraian 146, dan beberapa teks lainnya. Kutipan-kutipan diambil dari Sutta-Sutta yang berbahasa Pali, terutama diambil dari penerbitan The Pali Society, yang merupakan seri-seri terjemahan. Referensi-referensinya adalah pada Majjhimani kayo (M), Digha-nikayo (D), Dhamapadam (D).
2. Kutipan-kutipan yang berasal dari buku yang berjudul : "An Outlines of Philosophy" (= "Garis Besar Filsafat"), Cetakan Ke-Tiga, Penerbitan : Allen and Unwin, London, halaman : 309, 290, 304, 294, 290, 5, 287, 289, 291, 292, 296, 297, 11, 300, 14.
3. Kutipan yang berasal dari bukunya R. Heywood, yang berjudul : "The Sixth Sense, an Inquiry into Extra-Sensory Perception" (= "Indra Ke-Enam, Suatu Penyelidikan Mengenai Persepsi Ekstra-Sensoris"), penerbitan : Pan Book, London, tahun 1958, halaman: 205-210.
4. Juga periksa bukunya R. Heywood, yang berjudul : "Religion, Philosophy, and Psychical Research" (= Agama, Filsafat, dan Penyelidikan Ke-jiwa-an), Penerbitan : Routledge, and Kegan Paul, London, 1953, halaman : 219-222.
5. Kutipan-kutipan berikutnya berasal dari buku yang berjudul "Classic American Philosophers" (= Filsuf-Filsuf Amerika Golongan Klassik), disusun oleh Editor Umum : M.H. Fisch, penerbitan : Appleton-Century-Crofts, New York, 1951, halaman: 163-164.
6. Bukunya K. Jaspers yang berjudul : "The Great Philosophers" (Filsuf-Filsuf Besar), disusun oleh Editor : R. Hart-Davis, penerbitan : London, 1962, halaman : 320.
7. Kutipan dari Buku yang berjudul : "Classic American Philosophers", op-cit, halaman : 160, 155, 161, 163n.
8. Dari bukunya I.M. Bochenski, yang berjudul : "Comtemporary European Philosophy" (= "Filsafat Eroupa Masa Kontemporer"), penerbitan : University of California Press, halaman 136.
9. Terjemahan kedalam bahasa Inggris dari karya utama, buku yang berjudul "Being and Time" (= "Masalah Menjadi Sesuatu dan waktu"), penerbitan Harper New York, 1962. Referensi yang kita ambil adalah dari buku edisi Bahasa Jerman, yang Ke-Tujuh, penerbitan : Tubingen, M. Niemeyer, Verlag, halaman : 28. ff.
10. Bukunya Bochenski, op-cit, halaman : 215.
11. Suatu analogi (=Kesamaan) yang erat antara formulasi anomy-anomy, yang empat mengenai pemikiran dialectical oleh Kant, dan struktur dasar, yang sama, mengenai empat kelompok "pandangan" (= ditthi) didalam Brahma-jala-suttam (D.1), telah kami kemukakan secara tunggal didalam karya tulis saya, mengenai "Keadaan saling-bergantungannya antara punar-bhava pada karma, didalam Filsafat Buddhis", dan "Pendekatan Saya Terhadap Filsafat India", yang tercantum pada Indian Philosophical Annual, Jilid I & II, 1965-1966, dibawah nama samaran saya : Chedomil Velyachich.
12. Bochenski, op-cit, halaman : 183.
13. Jean Wahl, dalam bukunya yang berjudul "A Short History of Existentialism" (= "Sejarah Singkat Mengenai Existentialisme"), penerbitan : The Philosophical Library, New York, 1991, halaman :2.
14. N. Berdyaev, didalam bukunya yang berjudul : "The Beginning and The End" (= Permulaan dari Langkah untuk Mencapai Tujuan Akhir), Penerbitan : Harper Torchbooks, 1957, halaman : 92. Juga periksa diskusi yang terdapat pada bukunya J. Wahl, pada catatan kaki 13, tersebut diatas.
15. Op-cit, halaman : 116 f.
16. K. Jaspers, didalam bukunya yang berjudul : "Philosophie", edisi ke-dua, penerbitan : Springer, Berlin, 1948, halaman : 314, 813, ; bukunya K. Jaspers didalam bahasa Inggris yang berjudul : "Man in the Modern Age" (= Manusia didalam Zaman Modern), London, 1959.
17. Didalam Buku Sejarah yang berjudul : "The Great Philosophers" (= Filsuf-Filsuf Besar), Bab mengenai Nagarjuna tidak dimasukkan didalam seleksi tersebut diatas (Catatan Kaki 6), didalam terjemahan bahasa Inggrisnya.
18. Bochenski, op-cit, halaman : 183.
19. Buku yang berjudul : "A Kierkegaard Anthology" (= "Anthology-nya Kierkegaard"), dibawah edisi R. Bretall, penerbitan : Princeton University Press, 1951, halaman : 99 (dan halaman : 346 dari buku yang berjudul : "The Sickness Unto Death") (="Sejak kakinya hingga Kematiannya").
20. Julian Huxley, didalam bukunya yang berjudul : "Religion Without Revelation" (= Agama Tanpa Wahyu), penerbitan : Watts, London, 1967, suatu analisa yang karakteristik terhadap masalah perlunya melepaskan elemen-elemen pada definisi Religi, yang up-to-date, yang tidak lagi merupakan suatu postulat yang essensial.
21. Dari buku yang berjudul : "Man In The Modern Age", halaman : 142 f. dan buku yang berjudul : "The Great Philosophers", halaman : 221.
22. Dari buku yang berjudul : "The Great Philosophers", halaman : 200.
23. J.P. Sartre didalam bukunya yang berjudul : "Being And Nothingness" (="Menjadi Sesuatu dan Ketidak-Adaan"), penerbitan : Methuen, London, 1966, halaman : 615, 579, 565, 97, 92.
http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=894&multi=T&hal=0
Read more...
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)